

Kalau bicara Purwakarta, apa yang pertama kali terlintas di kepala? Mungkin lezatnya Sate Maranggi yang smoky itu, atau megahnya air mancur Sri Baduga yang konon terbesar se-Asia Tenggara. Saya sepakat, Purwakarta itu cantik. Posisinya strategis, dikelilingi perbukitan hijau, dan punya “kolam” raksasa bernama Jatiluhur.
Tapi, izinkan saya sedikit “merusak” suasana romantis ini dengan realita yang sering kita lihat, tapi pura-pura tidak kita cium.
Sebagai warga yang tumbuh dan bergerak di sini, saya melihat Purwakarta sedang mengalami “krisis identitas” lingkungan. Di satu sisi kita bangga dengan slogan “Istimewa”, tapi di sisi lain, kita punya prestasi yang bikin geleng kepala: pada pertengahan 2025 lalu, kualitas udara kita sempat masuk jajaran terburuk di ASEAN. Belum lagi status “Darurat Sampah” yang sempat menghantui kita ketika TPA Cikolotok megap-megap menampung 250 ton sampah per hari.
Itu bukan sekadar angka statistik; itu adalah bau yang kita hirup dan pemandangan yang kita lihat di pinggir jalan.
Kita sering menyalahkan industri. Memang, cerobong asap di Babakan Cikao atau limbah yang “bocor” ke sungai itu masalah besar. Regulasi seringkali kalah cepat dengan limbah yang dibuang. Tapi, mari jujur pada diri sendiri: perilaku kita juga belum se-istimewa kota ini.
Lihat saja Ubrug, Jatiluhur. Tempat yang harusnya jadi hidden gem pariwisata malah sering jadi hidden trash bin. Wisatawan datang bawa bekal, pulang meninggalkan plastik. Seolah-olah alam punya petugas kebersihan shift malam yang akan membereskan semuanya.
Pemerintah? Tentu punya andil besar. Seringkali penanganan lingkungan terjebak dalam seremoni. Tanam pohon saat peringatan hari besar, foto-foto, lalu selesai. Padahal, pohon butuh disiram, bukan cuma didokumentasikan. Kebijakan “Darurat Sampah” seharusnya melahirkan sistem pengelolaan yang radikal, bukan sekadar menumpuk masalah di satu titik sampai meledak.
Kritik tanpa aksi itu cuma jadi nyinyir. Karena itu, saya di Green Action by Semua Senyum Indonesia memilih jalan yang agak “capek” tapi nyata.
Kami tidak menunggu rapat anggaran ketok palu untuk bergerak. Januari 2026 kemarin, kami turun ke Ubrug, Jatiluhur lewat “Operasi Bersih”. Kami memungut sampah bukan karena kami ingin jadi tukang sampah, tapi untuk mengirim sinyal: Warga sudah bergerak, masa yang punya wewenang diam saja?
Kami juga naik ke Gunung Rahayu untuk menanam pohon. Bukan satu juta pohon, sih. Filosofi kami sederhana: Satu pohon yang hidup lebih baik daripada seribu pohon yang mati dalam laporan tahunan.
Pesan untuk Purwakarta. Artikel ini bukan untuk menjelekkan rumah sendiri. Justru karena cinta, saya menulis ini.
Purwakarta butuh lebih dari sekadar branding pariwisata. Kita butuh kolaborasi yang real. Industri harus berhenti main kucing-kucingan soal limbah. Pemerintah harus memastikan TPA Cikolotok bukan bom waktu. Dan kita, anak mudanya, harus mulai sadar bahwa membuang sampah pada tempatnya itu adalah level paling dasar dari kecerdasan manusia.
Mari kembalikan “Istimewa”-nya Purwakarta bukan cuma di piring sate, tapi juga di udara yang kita hirup dan air yang kita minum.
Salam Lestari.