

Dunia pendidikan di Kampung Durian Runtuh itu memang unik dan penuh warna. Kita bisa melihatnya dari Cikgu Melati yang penyabar, penuh senyum, dan selalu punya ide kreatif untuk membuat kelas menjadi hidup. Di sisi lain, ada Cikgu Besar yang supergalak, tipe kepala sekolah tegas yang jika sudah melotot atau mengetuk meja dengan penggaris panjang, nyali murid-murid seketika ciut.
Namun, di antara dinamika guru yang kreatif dan kepala sekolah yang supergalak, terselip sebuah anomali bernama Cikgu Tiger. Seorang pendidik yang postur badannya lebih cocok menjadi instruktur gym di Celebrity Fitness ketimbang menjadi guru anak TK di Tadika Mesra.
Namun, jika kita telaah, di balik otot six-pack dan badan kekar yang sering ia pamerkan itu, tersimpan sisi rapuh yang membuat kita mengelus dada. Alih-alih menjadi penengah yang bijaksana di antara ketegasan Cikgu Besar dan kreativitas Cikgu Melati, Cikgu Tiger justru sering menunjukkan beberapa sifat red flag atau watak yang membuat kita bertanya-tanya.
Sifat kurang elok pertama dari Cikgu Tiger adalah tabiatnya yang haus validasi alias tukang pamer. Debutnya di musim kelima saja sudah penuh dengan drama penonjolan ego. Bayangkan, baru memperkenalkan diri sebagai “Abang Tiger” kepada Upin, Ipin, dan kawan-kawan, dia langsung memamerkan otot di depan anak-anak kecil yang bahkan belum paham apa itu suplemen protein.
Puncaknya terjadi ketika dia melakukan push-up dengan tiga jari sambil mengangkut tiga murid kelas Bakti sebagai beban di atas punggungnya. Oke, secara fisik itu memang impresif. Namun, secara fungsi sosial di lingkungan sekolah, tindakan itu terasa berlebihan dan norak. Tak heran jika melihat tingkah laku tersebut, Cikgu Jasmin hanya bisa menggelengkan kepala. Saat guru lain sibuk memikirkan kurikulum dan kenyamanan kelas, Cikgu Tiger malah sibuk bersolek agar ototnya kelihatan estetik di mata murid-muridnya.
Otot Binaraga, tapi Mental Remah Kaya Rengginang
Jika kita melihat perilaku Cikgu Tiger secara saksama, dia mengalami krisis kedewasaan dan pengelolaan emosi yang buruk. Hal ini terlihat jelas pada episode Lomba Menghias Taman Antar-kelas di Tadika Mesra, ketika kelas Bakti asuhannya dinyatakan kalah, sebab dia memaksakan tema taman kaktus yang gersang dan tidak aman bagi anak-anak karena dipenuhi duri. Mental Cikgu Tiger luruh seketika.
Ia tidak hanya kecewa, tetapi juga menangis sesenggukan dan lari terbirit-birit dari lokasi lomba karena merasa malu. Tindakan ini jelas memalukan. Sebagai seorang guru, ia seharusnya mengajarkan sportivitas, berlapang dada, dan menenangkan murid-muridnya untuk menerima kekalahan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, ia malah memimpin tangisan massal anak-anak kelas Bakti.
Kalau gurunya saja bermental kerupuk saat terkena air (seblak), jangan kaget jika murid-muridnya ikut-ikutan rapuh dalam menghadapi kegagalan.
Kontradiksi Keberanian yang Ironis
Ini adalah puncak komedi dari sisi kelemahan Cikgu Tiger yang penakut. Bukan takut pada hal-hal mistis atau takut ditagih utang, tetapi Cikgu Tiger justru memiliki fobia ketinggian (acrophobia) yang diekspresikan secara kocak sekaligus merepotkan orang lain.
Dalam episode berjudul Sahabat Selamanya, terdapat kilas balik yang mengungkap aib masa lalu Cikgu Tiger, bahwa ia pernah panik dan harus dibantu oleh petugas pemadam kebakaran hanya untuk turun dari atas mobil pemadam. Padahal beberapa saat sebelumnya, ia sudah berlagak sok jago di depan murid-muridnya saat mengikuti simulasi memadamkan api.
Melihat tingkah konyol Cikgu Tiger, petugas damkar saat itu bahkan sampai memberikan petuah kepada murid-murid Tadika Mesra yang bercita-cita menjadi petugas damkar: “Kalau mau jadi petugas pemadam kebakaran, harus berani.” Kalimat tersebut jelas menjadi sindiran halus namun menusuk untuk sang guru yang berotot besar tetapi bernyali ciut.
Pada akhirnya, sosok Cikgu Tiger menjadi pengingat bagi kita di dunia nyata: bahwa penampilan fisik yang prima sama sekali tidak berbanding lurus dengan kematangan mental dan emosional. Kita mungkin butuh ketegasan seperti Cikgu Besar untuk mendisiplinkan, dan kreativitas seperti Cikgu Melati untuk mengajar. Namun, guru berotot yang hobi flexing tapi bermental rapuh seperti Cikgu Tiger ini jelas bukan untuk ditiru.
Seperti pemimpin yang hobi omon-omon tapi gagap menyelesaikan persoalan, sorry yeee~
Tapi ya sudahlah, namanya juga karakter dalam film kartun hiburan. Tanpa kelakuan ajaib dan kontradiktif dari Cikgu Tiger ini, dinamika pengajar di Tadika Mesra mungkin bakal terasa terlalu lempeng, garing, dan membosankan karena kurang bumbu komedinya.
Aa-Aa milenial pangais bungsu dari Bandung.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!