Cerita Pendek tentang Kematian yang Panjang

Satu hal mengerikan yang paling nyata ada di depan seluruh mata manusia adalah kematian. Itu adalah hal yang terus kupercayai hingga saat ini. Tak peduli banyaknya uang yang kau punya, atau gagahnya dirimu di dunia, kematian tetaplah kematian. Perihnya tak akan pernah bisa kau hindarkan.

Aku selalu mengingat tatapan Ibu jika sedang memikirkan soal kematian. Di ranjang rumah sakit, Ibu terbaring kaku dengan tatapannya yang amat getir. Ia terus menatap langit-langit, pupil matanya membesar seiring dengan lemah denyut jantungnya.

Aku dan Ibu menghadapi kengerian itu bersama. Di ujung ranjang, aku terus memohon agar Ibu diberi beberapa waktu lagi, setidaknya untuk berpamitan padaku. Namun sekali lagi, kematian tetaplah kematian.

Ibu dimakamkan esok hari. Beberapa teman dan saudara datang, memberikan kata-kata penyemangat dan mengucapkan bela sungkawa.

Aku diantar oleh sanak saudara menuju rumah. Sebelum pamit, mereka sempat menawarkan diri untuk menemaniku sementara waktu, tapi aku menolak. Sesampainya di rumah, aku masih bisa mencium bau tubuh Ibu, bercampur dengan aroma telur dadar yang biasa ia siapkan di dapur.

Di kamar Ibu, kulihat cekungan bekas badannya masih tertinggal di ranjang. Botol-botol obat masih tersusun rapih, dan di sisi lemari, terlihat tumpukan pakaian yang siap distrika.

Aku bergegas menuju kamar. Tiap ruang yang kulewati, membuat nafasku begitu sesak, air terasa menumpuk di bawah mataku. Kupercepat langkahku, kucoba lupakan itu semua, karna kutahu Ibu tak pernah suka lelaki yang menangis.

Setelah itu, semua jadi tampak berbeda. Jalan yang biasa kulewati tiap pulang ke rumah terasa begitu panjang dan penuh dengan tekanan. Tukang nasi goreng di dekat pasar, tempat biasa aku dan Ibu makan malam–yang dulunya sangat wangi–kini terasa begitu busuk. Meski begitu, aku mencoba tetap hidup seperti biasa : pergi bekerja, makan, merokok, lalu tidur. Tapi kau mungkin tahu, kematian tak pernah membawa kebaikan dalam hidup seseorang yang ditinggalnya.

Aku kerap kena omelan atasanku di kantor. Ia bilang kinerjaku semakin payah saja tiap harinya. Katanya mungkin ini karna beberapa waktu lalu aku baru saja dinaikkan pangkat lalu jadi suka leha-leha.

Di jalan, tak sekali dua kali aku dimaki orang karna hampir terserempet. Di rumah, aku kerap kehabisan sabun cuci yang harusnya kubeli dua minggu yang lalu, atau merasa kehilangan kotak rokok yang padahal ada di samping ranjang.

Aku memilih mengambil cuti selama beberapa hari untuk meredakan pikiranku. Di hari-hari itu, aku banyak menghabiskan waktu di taman dekat rumah. Aku memerhatikan orang-orang : dari muda-mudi yang sedang kasmaran sampai para lansia yang menikmati masa senjanya.

Di taman, semua orang terasa bahagia, semua menikmati tiap detiknya dengan baik, hingga terbesit satu hal dalam diriku : “Sudahkah mereka menghadapi kematian dalam hidupnya?”

Sekembalinya ke tempat kerja, pikiran itu masih tetap ada. Kuperhatikan rekan hingga atasanku yang begitu tekun bekerja, “Tak pernahkah kematian menjadi duka atas keseharian mereka?”

Sebenarnya, aku bukan tipe orang yang senang bergaul dengan rekan kerja, tapi kata mereka, setelah kematian Ibu, aku bukan lagi orang yang sama.

“Kau jadi kerap menyendiri.”

“Kau senang melamun akhir-akhir ini.”

Begitulah kata mereka, hampir setiap saat menyuruhku untuk melepas luka itu, dan beranjak memulai kehidupan yang baru.

Lambat laun, kantor rasanya jadi tempat yang lebih buruk dari rumah, di sana hanya ada omong kosong. Aku merasa mereka tak bisa mengerti apa yang kualami. Setelah menimbang-nimbang, kuputuskan untuk angkat kaki dari kantor.

Selesai dari sana, hari-hariku di luar rumah hanya diisi dengan menghabiskan waktu di taman. Orang-orang silih berganti mewarnai taman itu : anak-anak yang bermain layang-layang, seorang pria yang memotret gedung-gedung, atau seorang remaja bertato yang sedang mengamen.

Di satu hari, saat aku sedang berada di taman, pengamen itu bernyanyi tak jauh dari tempatku duduk, ia menyanyikan lagu yang tak begitu asing untukku.

Hinggap-hinggap

Di kepalaku

Masih hari itu

Lagu lama

Yang tak selesai

Tentang kematian

Aku sedikit menghentak-hentakkan kakiku ketika pengamen itu tak lama memainkan bagian ref dari lagu tersebut.

Seorang gila berputar-putar kencangnya

Tak diragukan, dia adalah

Diriku, Diriku

Pengamen itu pergi saat setelah beberapa orang memberikan uang receh padanya.

Tak berselang lama, sayup-sayup aku mendengar sirine ambulans, bunyi sirine yang sama seperti saat Ibu hendak diantar ke pemakaman.

Detik terakhir Ibu begitu dekat di mataku saat sirine itu makin jelas masuk ke rongga telinga. Kupejamkan mata, mencoba mengalihkan pikiran-pikiran itu sejauh mungkin.

Sepulangnya, tidak jauh dari letak rumahku, sebuah tenda terlihat menutupi jalan. Dari arah belakang, seorang kakek bersetelan hitam-hitam menepuk pundakku, meminta izin, untuk meletakkan bendera kuning di gerbang rumahku, aku mengiyakan.

Sebelum ia pergi, aku sempat bertanya,

“Siapa yang meninggal, Pak?”

“Bu Suriyah, Dik.”

Suara tahlil bergema di dalam telingaku, tembok-tembok rumah menjadi setipis tisu, tak mampu menghalau suara-suara itu.

Itu adalah malam yang sangat panjang bagiku. Aku teringat kepala Ibu yang dililit kain putih dan wajahnya yang membiru dibuka saat hendak didoakan oleh orang-orang yang datang ke rumah.

Kubayangkan anak dari tetanggaku itu akan menghabiskan sisa waktunya dengan begitu berat dan penuh dengan sunyi.

Namun, anggapanku itu nyatanya salah besar. Keesokan paginya, kulihat seseorang keluar dari rumah itu. Seseorang itu berkemeja lengan panjang, bersepatu pantofel. Rambutnya klimis dan tersisir rapih, serapih celana bahan yang dikenakannya. Itu adalah anak dari orang yang meninggal kemarin. Ia melihatku, mengangguk dan tersenyum, lalu lekas pergi.

Begitukah cara seseorang menghadapi kematian? Tanpa kantung mata yang menghitam, tanpa tatapan yang kosong, tanpa sedikitpun masalah di dalam dirinya?

Aku menggenggam murka saat kembali ke taman. Tawa orang-orang di sana jadi sangat menganggu. Aku hanya diam hingga langit gelap dan satpam di taman itu memintaku untuk segera pergi.

Di jalan, dengan kemarahan yang masih menggebu, seorang pengemis menghadang jalanku. Ia menyodorkan sebuah mangkuk yang berisi beberapa lembaran uang. Aku menatapnya, mengisyaratkan tidak ingin memberi. Namun ia memaksa, menahan langkahku, sembari menggoyang-goyangkan mangkuk digenggamannya.

Sekali lagi, aku menolak. Ia akhirnya memberi jalan, namun sebelum aku benar-benar beranjak, ia meludahi sepatuku.

Kuamati tatapannya yang sangat mengundang amarahku. Sejurus kemudian, kepalan tanganku mendarat tepat di wajahnya. Ia terjatuh, mengerang, mencengkram lengan jaketku.

Aku terus memukulinya, rambut gimbal yang menghalangi wajahnya tersibak, memperlihatkan mimiknya dengan begitu jelas.

Kuhantam berkali-kali mata dan pelipisnya, darah merebes cepat ke tanganku. Kuhentikan pukulan itu ketika lengannya terkulai.

Aku bergegas pergi setelah memastikan tak ada yang melihat kejadian itu. Di rumah, aku mencuci bercak darah di sela jemari dan jaketku.

Pengemis itu mati, berita tersebar dengan cepat. Polisi menduga ia terlibat perkelahian dengan pengemis lain. Di televisi, aku melihat orang-orang berkumpul di tempat kejadian. Mereka menangis, menaburkan bunga-bunga di pinggir trotoar.

Mata dan raut wajah orang-orang itu seakan berkata bahwa kematian pengemis ini membawa duka yang begitu dalam ke kehidupan mereka.

Akhirnya sebuah kematian dapat dirasakan oleh orang-orang di dekatku.

Ketika malam tiba, kuputuskan untuk kembali ke jalanan, kulihat beberapa pengemis tidur di depan teras-teras toko. Di antara mereka, ada seorang wanita berdaster lusuh tidur sendirian di ujung jalan. Jika kutilik, umurnya tak terpaut jauh dari Ibu ketika wafat.

Aku hendak memukulnya dengan batu, sebelum akhirnya ia tersadar lebih dulu dan berteriak. Aku bergegas menyeretnya ke dalam gang yang cukup jauh dari jalan utama, kubekap mulutnya dengan kuat.

Ia merintih, mencoba melepaskan diri. Tanganku tergigit, ia terus berteriak dan hampir saja melarikan diri. Dengan cepat aku berlari dan melompat, kuhantam kepalanya hingga ia pingsan.

Kulihat wajahnya, pikiranku kembali pada saat di rumah sakit. Aku meraung, kuhajar mukanya berkali-kali. Darah mencuat dari hidung dan mulutnya. Aku mencakari lengannya, kukuku terasa panas ketika goresan-goresan itu mulai membekas dan mengalirkan cairan merah di kulitnya.

Kembali kuhantam wajahnya. Mata orang itu kini tak lagi terlihat, tertutup gumpalan merah kehitam-hitaman.

Pekikanku menggema ketika pukulan terakhir kulepaskan. Tak lama, aku merasakan ada seseorang yang mendekat, langkahnya sangat lekat diingatan. Suaranya membuyarkan pikiranku. Suara yang begitu akrab dan kerap kutakuti akan hilang.

“Dra? Kamu lagi apa sih? Khusyuk banget.”

Seorang wanita berambut sebahu yang separuhnya sudah memutih itu berdiri di ambang pintu.

“Lagi nulis cerpen, Bu.” Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal.

“Kamu ini, kalau lagi nulis suka lupa dunia. Ya sudah, cepat makan, Ibu masak telur dadar.”

Aku mengangguk, tersenyum. Kuikuti langkah Ibu dari belakang, ku perhatikan tubuhnya yang mulai membungkuk itu menuntunku ke meja makan. Seberapa jauh kematian itu, aku mungkin tak akan pernah siap, Bu. Karena kematian tetaplah kematian.

Lahir dan tumbuh di Bekasi. Menyukai sastra, musik, film, dan juga tidur siang. Bisa dijumpai di Instagram @rizyatma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!