

Delapan dasawarsa setelah Proklamasi dikumandangkan, ingatan tentang Revolusi Kemerdekaan Indonesia tidak hanya hidup dalam arsip-arsip sejarah atau catatan resmi negara, tetapi juga berdenyut dalam karya sastra. Di tengah gelegar senjata, pergolakan politik, dan ketidakpastian nasib bangsa, para pengarang mengabadikan pengalaman manusiawi yang kerap luput dari sorotan sejarah arus utama.
Melalui tokoh-tokoh yang mereka ciptakan, revolusi tidak semata tampil sebagai rangkaian peristiwa besar, melainkan sebagai ruang batin yang dipenuhi kegamangan, cinta, pengorbanan, dan pilihan-pilihan hidup yang rumit.
Kali ini saya berupaya menelisik bagaimana novel-novel karya penulis perempuan merekam dan menafsirkan masa revolusi tersebut. Dengan menyoroti karya seperti Rantai Putus oleh Mustika Heliati dan Antara Dua Benua oleh Maria A. Sardjono.
Dari sana, tampak bahwa revolusi bukan hanya soal perebutan kedaulatan, melainkan juga tentang pergulatan identitas, emosi, dan kebebasan individu. Khususnya bagi perempuan yang hidup di persimpangan tradisi, kolonialisme, dan kemerdekaan. Sebab acap kali kita bisa merasakan sejarah melalui karya sastra yang mencerminkan Zeitgeist (semangat zaman) sejarah tersebut.
Mungkin kita mengenal Pramoedya sebagai novelis yang hidup dan menulis berdasarkan zaman revolusi kita, namun rupanya para novelis wanita di Indonesia ternyata tidak ketinggalan menggarap novel bertema sejarah.
Sebetulnya sejak 1970-an banyak penulis perempuan muncul di majalah dan surat kabar. Ada anggapan umum yang menarik, bahwa di zaman itu seorang penulis mempunyai kedudukan terhormat di masyarakat. Contohnya Jenny Laloan alias La Rose yang dianggap mempunyai segudang prestasi karena banyak menghasilkan novel yang memikat. Tak hanya menulis, ia juga kerap kali diminta berceramah sekaligus diberikan ruang untuk mengaktualisasikan diri di majalah wanita, Kartini.
Era kebangkitan penulis perempuan dituliskan Soemardjo sebagaimana berikut: “…bahwa dekade 70-an ditandai dengan munculnya begitu banyak penulis wanita, suatu fenomena yang belum pernah dialami sejarah kesusasteraan Indonesia sebelumnya. Bukan hanya jumlah mereka banyak, tetapi juga karya mereka terus mengalir. Tidak pernah ada “boom” novel seperti ditulis oleh kaum wanita kita ini.”
Novel-novel yang ditulis oleh penulis perempuan angkatan ini juga berkembang pesat, disukai, dan dibutuhkan banyak orang. Terutama pembaca perempuan yang lebih menyukai cerita drama percintaan, sebagaimana ditambahkan Soemardjo. Novel jenis ini yang diproduksi oleh berbagai penerbit buku seperti Gaya Favorit Press, Cypress, Varasi Jaya, Alam Budaya, dan lain-lain, ada yang tipis-tipis, namun ada juga yang tebal.
Bahan bakunya kertas bewarna coklat, sejenis merang, supaya biaya produksinya murah dan harga jualnya terjangkau buat masyarakat banyak. Novel Rantai Putus sendiri ukurannya 17 x 12 cm, 152 halaman, dengan harga jual Rp. 900 per eksemplar masa itu. Sedangkan novel Antara Dua Benua besarnya 17,5 x 11 cm, 345 halaman, dengan harga jual Rp. 2900 per eksemplar.
Salah satunya Rantai Putus karya Mustika Heliati, dan novel Antara Dua Benua karya Maria A. Sardjono berlatar belakang kisah hidup wanita-wanita Indonesia yang “larut” dalam arus sejarah bangsa. Para penulis ini menggunakan tokohnya (si pelaku cerita), hadir sebagai saksi mata saat negara tengah mengalami pasang-surutnya revolusi.
“Bah, tak ada kopi!” serunya ketika sampai.
“Apa?” tanya abahnya. “Di warung tak ada kopi?”
“Bukan. Uangnya tidak laku.”
“Tidak laku bagaimana? Rusak?”
“Tidak laku lagi, katanya. Ada peraturan Pemerintah semua uang tak laku lagi.”
“Ah! Masa begitu. Bagaimana mungkin uang tak laku?!”
Mimin duduk di serambi depan. Sebentar lagi ia harus bertugas di dapur umum dekat penyeberangan. Bapaknya sudah terbiasa minum kopi pagi. Mimin menyesal tidak membeli persediaan sejak kemarin.
(Rantai Putus: 1980: 87).
Demikian penggalan novel yang melukiskan “suasana revolusi” dalam novel Rantai Putus karangan Mustika Heliati. Adegan ini menunjukkan masa-masa akhir pendudukan Jepang. Ketika mata uang Jepang tak berlaku lagi, dan Pemerintah Republik Indonesia yang baru menggantinya dengan alat pembayaran dengan ORI (Oeang Republik Indonesia).
Novel Rantai Putus berkisah tentang Mimin, seorang perempuan yang bergelut dengan masa lalu. Ia menyaksikan banyak tragedi kemanusiaan di tengah arus perjuangan rakyat Indonesia di awal. Orang-orang yang ia kenal, kalau tidak mati sia-sia ya, ikut terhisap dengan masa-masa revolusi. Sejalan dengan apa yang telah dijelaskan, kisah tentang wanita-wanita yang berkepribadian kompleks, tidak mudah ditebak, rela berkorban, sekaligus memilih jalan hidup sesuai dengan apa yang diyakininya “pasti benar”, terdapat di kedua novel tersebut. Memerangi kecemasan dan mengalahkan rasa takut dengan cara memelihara semangat hidup yang menyala-nyala dilakukan oleh Mimin dan Sundari. Kedua wanita tersebut merupakan gambaran lurus hati dari beragam jenis wanita dengan seluruh problematikanya.
Bagi seorang penulis novel—meskipun tokohnya fiktif—terciptanya si tokoh berkaitan erat dan punya dasar dari apa yang dapat dilihat dari berbagai aspek kehidupan. Ia merupakan imaji dalam bentuk pengamatan intens yang muncul di tengah masyarakat. Maka dari itu, tidak jarang kepribadian tokoh utama merupakan cuplikan cerita hidup penulisnya.
Mustika Heliati, pengarang novel Rantai Putus, lahir pada 19 Maret 1931. Ia menempuh pendidikan di jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Novelnya yang lain ialah Orang Alim dan Hilda Terlahir Van Vlaardingen.
Novel yang dinyatakan sebagai pemenang ke-II sayembara novel Femina ini berkisah tentang Siti Aminah (Mimin), anak wanita satu-satunya seorang mandor ternama di wilayah Sungai Citarum, Jawa Barat. Mimin ikhlas dan tabah saat harus berbaur dengan seluruh elemen masyarakat. Ketika itu revolusi sedang membara di seluruh penjuru Jawa Barat.
Pemuda merupakan bagian dari massa yang paling banyak menggerakkan revolusi. Mereka gencar berbicara, melakukan aksi revolusioner, menyuarakan pandangan, mengadakan pertemuan besar sekaligus mempertahankan atau mengamankan wilayahnya bukan dengan sikap hantam kromo. Apa yang diperjuangkan harus sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Jadi, sikap antara satu laskar dengan pasukan lain yang pro-republik, tumbuh dalam semangat saling mengerti. Supaya pemerintahan Republiken semakin kokoh legitimasi kekuasaannya.
Mimin yang membaktikan diri di rumah Bu Wedana seakan kurang percaya karena Iman, seorang pemuda yang disukainya sejak sekolah dulu, memilih bergabung dengan Partai Rakyat Pasundan (PRP), yang otomatis terdaftar sebagai mata-mata Belanda.
Rupanya bergabungnya Iman dengan PRP ada sebabnya. Menurut pengakuannya kepada Mimin, sejak dulu ia tak pernah dihargai orang dan selalu dipandang remeh. Hal itu membuat batinnya terluka. Dapat dilihat dari percakapannya dengan Mimin:
“Aku sudah bosan dihina dan dinjak-injak orang!”
“Siapa yang menghina?” tanya Mimin terkejut.
“Siapa? Semuanya! Mereka selalu bertanya. Siapa? Oh, Iman? Iman anak si Yayah? Oh, dia. Tapi pada suatu waktu akan kutunjukkan … dan mereka akan tahu siapa Iman!”
(Rantai Putus: 1980: 66).
Iman sebenarnya anak kandung seorang tuan tanah kaya raya bernama Haji Bukhari. Namun karena status keluarga besarnya hanya buruh tani yang miskin, masyarakat menganggapnya dengan sebelah mata. Ayahnya sendiri tak pernah melihatnya sejak kecil, walau ia mengawini ibunya secara sebagai istri yang kesekian. Apalagi saat kakeknya meninggal dunia, ayahnya tak mau menampakkan batang hidung untuk berbela sungkawa.
Hal ini ternyata menimbulkan akibat yang buruk. Secara psikis, jika seseorang merasa tertindas dan dendam, ia akan berusaha bengkit dengan menunjukkan jati dirinya.
Pengkhianatan Iman segera tercium oleh adik dan keponakan Mimin yang bergabung dengan pihak Republik. Mereka memburunya dengan hati-hati. Hampir saja Iman tertangkap kalau tidak buru-buru dimasukkan Mimin ke ruangan bawah tanah bekas pabrik beras di sebelah rumahnya. Mimin mengunci orang yang diam-diam dikaguminya itu dan kembali ke rumah dengan tenang. Ia mampu menutupi kekeruhan hatinya dengan bersikap wajar. Seolah tak terjadi apa-apa.
Setelah keadaan aman dan terkendali, ia kembali lagi ke tempat itu. Sayangnya, sejumlah anak kunci untuk membuka gembok ruangan tak ditemukan. Raib tak berbekas. Berkali-kali ia menyeru ke ruang bawah tanah tetapi tetap saja tak ada yang menyahut. Seperti orang gila ia berusaha membuka pintu dengan mencoba semua kunci milik tetangganya. Hasilnya sia-sia. Pintu tetap terkunci. Ruangan gudang bawah tanah yang letaknya jauh dari tepi jalan itu tertutup rapat. Tak akan ada orang yang mendengar walau seseorang berteriak-teriak dari situ.
Puluhan tahun kemudian, karena pabrik beras dibeli orang, pintu itu bisa terbuka secara paksa. Ketika dibuka, ternyata ada sesosok mayat tanpa identitas. Para pekerja tak ada yang tahu itu mayat siapa kecuali Mimin yang telah berubah menjadi seorang perempuan ringkih.
Novel Antara Dua Benua merupakan karangan Maria A. Sardjono yang lahir di Semarang pada 22 April 1945. Diterbitkan oleh Alam Budaya, Jakarta, dan mengalami cetak ulang ke-3, pada tahun 1988.
Maria ialah pengarang terkenal dan menempuh pendidikan pada program studi S-2 di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Ia juga dipercaya mengasuh rubrik Relung-relung Batin: Telaah Filosofis di majalah Kartini. Novel yang pernah dikarangnya antara lain Telaga Hati, Hati yang Beku, Mariana, Ketika Flamboyan Berbunga, Seberkas Cahaya Rembulan, dan lain sebagainya.
Menurut Maria, orang Jawa membedakan dua golongan sosial, yaitu wong cilik atau orang kecil yang terdiri dari sebagian massa petani dan mereka yang berpendapatan rendah di kota. Golongan kedua, adalah kaum priyayi, di mana termasuk para pegawai dan golongan intelektual. Kecuali itu, masih ada kelompok ketiga yang jumlahnya kecil tetapi mempunyai prestise tinggi, yaitu kaum priyayi tinggi atau ningrat.
Dalam novel ini, Maria menguak gaya hidup kaum priyayi tinggi atau ningrat di sebuah kota, di Jawa Tengah.
Interaksi antara bangsa Belanda dengan Bumiputra memang tak bisa terhindarkan. Salah satu bukti “pembauran” itu terjadi di lembaga pendidikan, yakni di HBS (Sekolah Menengah Atas yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar).
Sundari mengambil keputusan dengan memilih pemuda Belanda tampan, Herman de Bruin sebagai “Arjuna” yang mengisi relung hatinya ketimbang pemuda-pemuda Jawa pilihan keluarganya.
Pada masa kolonial, posisi wanita memang lemah dan perannya dibatasi dalam berbagai ikatan budaya—termasuk saat menentukan pasangan hidup. Akibatnya, terjadi perdebatan keras antara Sundari dengan ayahnya—yang didukung oleh saudara laki-lakinya. Vonis segera dijatuhkan: Sundari di-cap sebagai anak yang tak tahu membalas budi dan mendatangkan faedah.
Sundari berkesimpulan berdebat dengan orangtua pasti tidak akan menang. Orangtua terbiasa pendapatnya harus diterima anaknya. Pikiran si anak tidak akan mau diterima oleh orangtua—meski anaknya merasa lebih mengerti dan menguasai persoalan daripada pihak lain.
Apakah orangtua harus merasa selalu benar? Begitulah.
Namun gelora cinta tak padam setelah kejadian itu. Sundari yang dipengaruhi perasaan, pergi meninggalkan rumah. Dia yakin dan memutuskan menikah dengan Herman.
Sikap yang diyakini Sundari “benar” ini ternyata selalu menghantuinya di manapun berada. Kadang-kadang saat sendiri, ia berdialog dengan dirinya. Alam bawah sadarnya mengucap bahwa sudah pasti tiap manusia tentu ada kekurangannya. Mana ada manusia yang sempurna? Sesungguhnya, pendirian orang lain—termasuk pendirian diri sendiri—belum tentu tepat dalam menilai suatu masalah. Bagus atau jeleknya— dalam kehidupan— seseorang perlu mencoba mengerti dan menghargai pendirian orang lain.
Sewaktu ibunya tiba-tiba berkunjung, karena rindu dengan cucunya yang baru lahir, Sundari seperti orang siuman dari tidur panjang. Ia berjanji akan membenahi “kekurangan” dirinya.
Bagaimanapun, perkawinan campur bak mimpi buruk yang bisa “membekukan” pikiran. Lambat laun semuanya akan berakhir karena selalu ada hal-hal yang mengganjal di hati akibat bayang-bayang lampau nan traumatis.
Semua tergambar pada dialog berikut:
“Mertuamu seorang perempuan bijaksana, Ndari,” kata Bu Adinegoro memuji. Dia ingat kedatangan perempuan Belanda ke rumahnya tempo hari.
“Ya, Bu, Ndari banyak belajar hal-hal yang semula buta bagi Ndari,”sahut Sundari.
“Tetapi Ndari, pikiranmu bahwa kau ini orang Jawa harus mengerti bahwa sejauh-jauh langkah orang, kembalinya tentu ke tempat asal juga. Dunia orang Jawa adalah di antara orang Jawa juga,” kata Bu Adinegoro.
“Ya, Bu, Sundari mengerti.”
“Dan dunia orang Belanda adalah juga di antara orang Belanda juga. Dua perbedaan besar karena memang juga Ndari, dua benua yang berbeda,” sambung Bu Adinegoro.
Sundari merasa tersentuh. Dia telah mengalaminya. Bukan mudah menyesuaikan diri untuk hidup di dunia yang berbeda. Karena Hermanlah dia bisa bertahan dan menyingkirkan segala rintangan.
(Antara Dua Benua: 1988: 303).
Hari-hari pun terus berlalu. Bala Tentara Pendudukan Jepang masuk menguasai Indonesia. Herman terpaksa jadi interniran. Begitu juga dengan Sundari yang tak mau berpisah dengannya. Memasuki masa revolusi, Herman berupaya membujuk Sundari agar ikut pulang ke Belanda bersama anak mereka, Arman. Batin orang Belanda itu tak tenteram karena mendengar dan menyaksikan pertempuran antara pihak Republik dengan Belanda.
Namun Sundari belum mau meninggalkan Tanah Air. Ujung-ujungnya diambil jalan tengah yang harus dipatuhi keduanya: Herman harus berangkat ke Belanda atas petunjuk dokter supaya “sembuh dari rasa sakit”. Sundari tidak berkecil hati dan menyetujui Herman membawa Arman ke Belanda.
Waktu terus berlalu tanpa dapat dicegah.
Setelah bertahun-tahun tanpa kabar dari Belanda, Sundari dilanda kebimbangan. Seorang pemuda yang dulu pernah jatuh hati padanya, dan kini menjadi dokter, mencoba masuk kembali ke dalam hatinya—walaupun prosesnya tak mudah. Sundari belum dapat melupakan cinta pertamanya nun di benua yang lain.
Belakangan, karena suasana sudah berbeda, Sundari menerima lamaran Santoso dengan status hukum pernikahan masih belum jelas. Herman nun jauh di sana kabarnya “tetap gelap”,— kalau disesalkan tak ada gunanya.
Dari perkawinan kedua ini lahir seorang anak perempuan. Sundari diterima kembali oleh keluarga besarnya berkat upaya Santoso yang berhasil mendamaikan mereka. Terakhir, agar masalah pribadinya selesai dan tak berlarut-larut, Sundari berangkat ke Belanda untuk menjumpai Herman.
Waktu bertemu, Herman telah berubah. Herman telah memilih menjadi pastor. Sundari harus menerima kenyataan. Ia berterus terang dengan Herman karena telah menikah dengan laki-laki lain. Ia minta izin untuk membawa Arman pulang ke Indonesia.
Herman dengan jiwa besar menyetujui permohonan Sundari. Baginya, rasa cinta, kedukaan, kebahagiaan, yang pernah ia lalui bersama Sundari, menjadi pengalaman terbesar dalam hidupnya.
Mustika Heliati dan Maria A. Sardjono menggambarkan wanita-wanita sebagaimana juga manusia lainnya yang tak luput dari kesalahan. Ada sisi baik dan sisi buruknya. Wanita sememangnya punya hak untuk mencintai, dicintai, dan dihargai. Demi menumbuhkan rasa percaya dirinya.
Cerita ini efektif menegaskan para penulisnya punya kecintaan dan pandangan tersendiri terhadap berbagai peristiwa lampau yang kini telah jadi sejarah. Semangat memunculkan ‘batang terendam’ menunjukkan keinginan mereka dalam mengaktualisasikan sejarah.
Secara spesifik, menjadi penting karena mengukuhkan citra para pemuda-pemudi yang punya punya peran penting dalam membangkitkan nasionalisme pada masa revolusi. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Mustika Heliati menghadirkan Mimin yang berhadapan dengan segelintir manusia penuh kepalsuan. Demi hasrat menjangkau “sesuatu” yang tinggi, jalan kepalsuan dilakukan tokoh-tokoh itu,walaupun harus mengorbankan harga diri.
Maria A. Sardjono menempatkan Sundari sebagai sosok pribadi yang utuh. Dia mengetahui dengan pasti fungsinya sebagai wanita di tengah masyarakat dan keluarga.
Pada akhirnya, melalui dua novel ini, terbaca jelas keseimbangan dan ketimpangan peran antara laki-laki dan wanita dalam kehidupan. Terlebih dalam kehidupan nyata, laki-laki maupun wanita sebaiknya bisa membina hubungan baik tanpa membedakan ras, kepercayaan, dan latar belakang budaya yang berbeda.
***
Bahan Bacaan
Heliati, Mustika. Rantai Putus. Jakarta: Gaya Favorit Press. 1980.
Sardjono, Maria A. Antara Dua Benua. Jakarta: Alam Budaya: 1988.
Sardjono, Maria A. Paham Jawa: Menguak Falsafah Hidup Manusia Jawa Lewat Karya Fiksi Mutakhir Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan: 1992.
Soemardjo, Jakob. Novel Populer Indonesia. Yogyakarta. Nur Cahaya: 1982.