

Hari itu hujan turun tipis ketika truk pindahan berhenti di depan rumah baru kami. Para pekerja menurunkan meja, kursi, dan lemari satu per satu. Aku berdiri di teras sambil memeluk sebuah kardus kecil yang sengaja tidak kubiarkan disentuh orang.
Kardus itu kusimpan sejak pindah dari kota ke kota selama bertahun-tahun. Entah, aku selalu merasa sebagian hidupku berada di dalamnya.
Rumah baru ini lebih kecil dari rumah sebelumnya. Gudangnya hanya berupa ruangan sempit di dekat dapur. Ketika pintu gudang dibuka, aku mendapati tumpukan kardus yang sudah ikut berpindah bersamaku berkali-kali. Sebagian bahkan masih bertuliskan nama kota yang pernah kutinggali bertahun-tahun silam. Aku tiba-tiba merasa seperti sedang bertemu teman-teman lama yang diam-diam menua bersamaku.
“Yang ini mau ditaruh di mana?” tanya salah satu pekerja sambil mengangkat sebuah kardus besar.
Aku melihat tulisan “Pribadi” yang kubuat dengan spidol hitam di sisinya. Aku tidak segera menjawab karena sebenarnya aku tak tahu isinya, kujawab gudang saja lantas.
Malamnya, setelah semua orang tidur, aku masuk ke gudang dengan membawa lampu kecil. Udara di dalam terasa lembap dan berbau kertas tua. Aku duduk di lantai dan mulai membuka kardus demi kardus. Yang pertama berisi buku pelajaran SMP dengan sampul yang mulai mengelupas. Aku tersenyum karena menemukan tulisan tanganku yang masih rapi dan penuh warna.
Kardus berikutnya berisi barang-barang yang lebih aneh lagi. Ada nota belanja yang tintanya hampir hilang, tiket wahana bermain yang sudah sobek, dan gantungan kunci berbentuk stroberi yang pernah kubeli di pasar malam. Aku juga menemukan baju yang sudah tidak muat sejak bertahun-tahun lalu.
Di sudut kardus tergeletak beberapa kabel yang aku sendiri tidak tahu berasal dari perangkat apa. Aneh sekali, semua benda itu seperti orang-orang kecil yang menungguku datang dan menyapa mereka.
Aku mengambil tiket wahana bermain dan menatapnya lama-lama. Ingatanku melompat pada suatu sore ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku dan Ayah menghabiskan waktu di pasar malam yang datang setahun sekali ke kota kami. Aku menangis karena takut naik komidi putar, lalu Ayah membelikanku es krim dan mengajakku naik bianglala.
“Buang saja kalau sudah tidak dipakai,” suara Ibu tiba-tiba terdengar dari belakang.
Aku menoleh dan melihat beliau berdiri di ambang pintu sambil membawa segelas teh hangat. Aku hanya tersenyum lalu memasukkan kembali tiket itu ke dalam kardus.
Ibu duduk di sampingku dan ikut memperhatikan barang-barang yang berserakan di lantai. Kami berdua terdiam cukup lama.
“Sayang kalau dibuang,” kataku pelan.
Ibu terkekeh mendengar jawabanku.
Ia lalu mengambil sebuah kabel kusut “Kalau ini juga sayang dibuang?” tanyanya sambil tertawa.
Aku ikut tertawa meski sebenarnya merasa sedikit bersalah. Aku bahkan tidak tahu benda itu milik siapa.
Ibu lalu membuka kardus lain dan menemukan setumpuk gambar masa kecilku. Kertas-kertas itu sudah menguning dan beberapa sudutnya mulai rapuh. Ada gambar rumah dengan matahari besar di pojok kanan dan gambar keluarga yang semua orangnya berambut lurus. Aku ingat pernah menggambarnya ketika guru menyuruh kami melukis cita-cita dan keluarga impian. Tiba-tiba dadaku terasa hangat.
“Ini masih mau disimpan?”
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Rasanya seperti ada seseorang yang memegang erat pergelangan tanganku dan melarangku melepaskan semua gambar tersebut. Kertas-kertas itu seolah berisi suara anak kecil yang pernah menjadi diriku. Aku takut suaranya hilang jika gambar-gambar itu kubuang.
Ibu memandangi wajahku beberapa saat lalu tersenyum. “Kadang kita bukan menyimpan barangnya,” katanya pelan. “Kita cuma takut lupa.”
Kalimat itu membuatku terdiam cukup lama. Aku memandangi gudang yang penuh sesak dan tiba-tiba merasa ada sesuatu yang menekan dadaku. Mungkin benar, selama ini aku sedang berusaha mengabadikan masa lalu.
Hari-hari berikutnya kuhabiskan dengan membongkar isi gudang. Aku menemukan banyak hal yang bahkan sudah tidak kuingat keberadaannya. Ada surat dari teman lama, buku harian dengan gembok kecil, dan beberapa foto yang warnanya mulai pudar. Ada pula syal yang pernah kupakai saat hujan deras di kota lain bertahun-tahun silam. Setiap benda memiliki pintu menuju kenangan yang berbeda.
Semakin banyak kardus yang kubuka, semakin sesak pula pikiranku. Aku lelah, tetapi tidak sanggup berhenti. Setiap benda seakan memintaku mengingat satu per satu cerita yang pernah terjadi.
Suatu siang, aku duduk di tengah gudang yang berantakan dan merasa sangat penat. Kardus-kardus itu seperti ransel yang kupanggul selama bertahun-tahun. Aku selalu membawanya setiap kali pindah rumah, meski sebagian besar isinya tidak pernah kusentuh lagi. Tiba-tiba aku bertanya pada diriku sendiri mengapa aku harus terus membawa semua ini. Pertanyaan itu menggantung lama di kepalaku.
Aku mengambil sebuah kaus lama yang warnanya sudah memudar. Kaus itu pernah kubeli dengan harga cukup mahal ketika menerima gaji pertamaku. Aku sudah tidak memakainya bertahun-tahun, tetapi selalu membawanya ke mana pun aku pindah. Aku memegang kainnya yang tipis dan tiba-tiba menyadari sesuatu. Yang kupertahankan ternyata bukan kausnya, melainkan perasaan bangga ketika pertama kali mampu membeli sesuatu dari hasil kerjaku sendiri.
Kesadaran itu membuatku diam beberapa saat.
Jika kenangan itu masih ada di kepalaku, mengapa aku takut kehilangan kaus tersebut?
Jika perasaan bangga itu masih bisa kuingat, mengapa aku harus menyimpannya selamanya?
Aku menatap gudang yang penuh sesak sekali lagi. Mungkin yang memenuhi ruangan ini bukan barang, melainkan ketakutanku sendiri.
Malam itu aku mengambil sebuah kardus kosong dan menuliskan kata “Donasi” di atasnya. Tanganku sempat gemetar ketika memasukkan beberapa baju lama ke dalamnya. Setelah itu, aku memasukkan beberapa buku yang tidak pernah lagi kubaca. Anehnya, aku tidak merasa kehilangan. Aku justru merasa sedikit senang.
Aku kembali menemukan kabel-kabel tak bertuan dan kali ini tertawa sendiri. Aku memasukkan semuanya ke kantong daur ulang tanpa berpikir panjang. Aku juga membuang nota belanja yang tintanya sudah tak terbaca. Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa bersalah. Aku mulai mengerti bahwa tidak semua benda harus terus menemaniku.
Namun, ada satu kardus kecil yang belum sanggup kubuka lagi. Kardus itu berisi barang-barang peninggalan Ayah.
Sejak ia meninggal, aku selalu memindahkannya dari satu rumah ke rumah lain tanpa pernah benar-benar melihat isinya. Kardus itu seperti pintu yang sengaja kututup rapat. Aku takut benda-benda yang ada di dalamnya akan membuatku menangis.
Setelah menunggu beberapa lama, aku akhirnya membuka kardus tersebut. Di dalamnya hanya ada jam tangan lama, beberapa surat, dan sebuah topi yang biasa dipakai Ayah ketika mengajakku berjalan-jalan.
Aku mengambil topi itu dan memeluknya erat. Untuk beberapa saat, aku menangis seperti anak kecil. Gudang yang sempit itu tiba-tiba terasa sangat sunyi.
Ketika tangisku reda, aku membaca salah satu surat yang ditulis Ayah bertahun-tahun lalu. Isinya sederhana dan sebagian besar tentang pekerjaan serta rencana keluarga kami. Namun, di bagian akhir ada satu kalimat yang membuatku kembali menahan air mata. Ayah menulis bahwa rumah sesungguhnya bukanlah bangunan atau benda-benda yang disimpan, melainkan orang-orang yang saling mengingat satu sama lain. Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Aku menatap topi di tanganku dan tiba-tiba tersenyum. Selama ini aku takut membuang barang karena khawatir akan melupakan seseorang. Padahal kenangan tentang Ayah tidak tinggal di dalam topi, tiket, atau surat-surat lama. Kenangan itu hidup dalam cerita-cerita yang terus kuingat dan kubagikan sebab tidak ada kardus yang mampu menampung seluruh cinta seseorang.
Keesokan harinya, aku melanjutkan membereskan gudang dengan perasaan berbeda. Aku menyisakan beberapa benda yang benar-benar bermakna dan melepaskan banyak hal lain yang hanya memenuhi ruang. Satu demi satu kardus mulai berkurang. Lantai gudang terlihat lebih luas daripada sebelumnya. Cahaya dari jendela kecil di atas pintu juga terasa lebih terang.
Saat sore menjelang, aku duduk di tengah gudang yang kini hampir kosong. Di sampingku hanya ada satu kardus kecil berisi beberapa foto keluarga, gambar masa kecil, dan topi milik Ayah.
Aku tidak lagi merasa bersalah karena melepaskan benda-benda lain.
Aku menutup kardus kecil itu dan mengelus tutupnya perlahan.
Akrab disapa Dita merupakan 10 besar Duta Anugerah Competer Indonesia 2026. Kerap menjuarai lomba puisi. Karyanya telah dipublikasi di media online, Perpusnas, Balai Bahasa Jawa Barat, Bastera Lampung, Paberland, Bacaan Media, Tirastimes, sepenuhnya.com, Sastra Lumpur, dan banyak lagi. Instagram @book.wormholic
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!