Cemara di Kuping Karang

Desah Cemara di Kuping Karang 

 

Di kuping karang— 

desah cendana perlahan 

seperti doa tua 

yang tersesat pada bibir para bidadari. 

Cintamu—

sehelai musim Hesiod
yang tetap datang—pergi
mencari ladang-ladang sunyi.

Cintamu—
adalah kendi tanah liat
retak oleh waktu
tetapi tak pernah berhenti
menyimpan hujan atas namamu.

Dan air mata ini—
mutiara kecil dari mata malam
tersungkur satu demi satu
ke pangkuan rembulan.

Sementara bintang—
menulis elegi biru putih
di atas punggung langit
tentang dua hati
yang saling menjaga
meski dipisahkan takdir.

 

Atambua-NTT, 21 Juni 2026

 

 

 

Tak Ada Layang-Layang di Kampung Kami

 

Tak ada layang-layang 

di kampung kami
hanya angin tua
yang menghafal— 

nama-namamu.

Di sumur senja
kejujuran menimba cahaya
dari dasar air mata.

Cinta adalah burung kecil
yang pulang dengan sayap terluka
namun tetap membawa langit.

Dan aku—
seperti pohon enau di ladang kenangan
menunggu musim yang tak lagi datang.

Tak ada layang-layang 

di kampung kami,
tetapi rindu masih terbang
di antara doa dan hujan.

 

Atambua-NTT, 21 Juni 2026

 

 

 

Sajak Ibu di Dada Ayah (1)

 

Ibu
sehelai doa
dijahit bulan
di dada Ayah.

Air mata
adalah embun suci
pada mawar usia.

Dan cinta—
tetap menyala
seperti pelita tua
di altar langit kesunyian.

 

Atambua-NTT, 21 Juni 2026

 

 

 

Sajak Ibu di Dada Ayah (2)

 

Ibu; engkau adalah embun
yang berdiam 

di kitab fajar. 

Ayah; engkau adalah samudra
yang menyimpan hujan 

tanpa suara.

Di antara keduanya
cinta tumbuh seperti zaitun tua
di halaman langit.

Dan air mata—
adalah mutiara bening
yang jatuh dari doa—
terlalu tulus 

untuk diucapkan.

 

Atambua-NTT, 22 Juni 2026

 

 

 

Maria yang Terberkati di Antara Kidung-Kidung Sunyi

 

Maria—
lili tumbuh
di halaman air mata.

Namamu berpendar
seperti mazmur tua
di bibir senja.

Cintamu:
cawan bening
menampung luka-luka hidup.

Dan ketulusanmu
adalah bintang terakhir
yang tetap menyala
ketika seluruh langit
belajar menangis. 

 

Atambua-NTT, 22 Juni 2026

Guru, penulis, Founder Sahabat Pena Likurai, Komunitas Pensil, Pengurus FTBM Kabupaten Belu, anggota aktif FTBM Propinsi NTT dan Penggiat Literasi Perbatasan.Karyanya sudah terbuat dalam berbagai buku dan antologi. Buku yang terakhir dirilis adalah Diverse Voices: The Poetry of Human Rights and the Pursuit of Peace (2026).Tinggal di Kota Perbatasan Indonesia -RDTL, Atambua-NTT. Instagram @silivester_kiik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!