Celana, Melati, dan Nota yang Terlambat

Saka mencintai celana-celana istrinya lebih daripada ia mencintai jadwal kerjanya sendiri. Baginya, melipat kain adalah bentuk doa yang paling sunyi, sebuah percakapan antara setrika yang panas dan kenangan yang dingin. Namun, pagi ini berbeda. Di dalam saku celana bahan berwarna krem—celana yang dipakai istrinya saat pergi ke pasar tepat sebelum kecelakaan itu—ia menemukan secarik nota belanja. Tintanya masih basah, mengeluarkan bau melati yang tajam, dan daftar barangnya membuat Saka gemetar: dua kilo duka, sebotol napas cadangan, dan satu tiket perpisahan yang lupa dibayar.

 

Apartemen Saka bukan lagi tempat tinggal, melainkan sebuah museum tekstil yang didedikasikan untuk mendiang istrinya, Laras. Di ruang tamu, lemari-lemari jati berdiri angkuh, menyimpan puluhan celana, rok, dan blus yang dikelompokkan berdasarkan warna dan tingkat kesedihan yang ditinggalkannya. Saka menghabiskan waktu pensiun dininya bukan dengan memancing atau memelihara burung, melainkan dengan ritual mencuci. Ia percaya, noda di baju bisa hilang dengan detergen, tapi aroma perpisahan hanya bisa diredam dengan setrika uap yang telaten.

 

Saka mengamati nota itu di bawah lampu meja. Kertasnya agak lusuh, jenis kertas buram yang biasa ditemukan di pasar tradisional, namun tintanya tampak baru saja digoreskan. “Dua kilo duka,” gumamnya. Bagaimana cara menimbang duka? Apakah dihitung dari jumlah air mata yang membasahi bantal, atau dari beratnya langkah kaki saat melewati kamar mandi yang kini selalu kering?

 

Ia meletakkan nota itu di atas meja, lalu kembali ke tumpukan pakaian. Ia mengambil sebuah rok plisket berwarna biru tua. Ia merogoh sakunya, sebuah kebiasaan lama untuk memastikan tidak ada koin atau struk ATM yang tertinggal sebelum dicuci. Jarinya menyentuh sesuatu yang kasar. Secarik kertas lagi.

 

Daftar belanja tambahan: Satu ons keberanian untuk bangun pagi, dan sekotak korek api untuk membakar rindu yang mulai berjamur.

 

Saka terduduk di lantai yang dingin. Melati. Bau itu semakin menyengat, seolah-olah Laras baru saja melewati ruangan itu dengan gaun pengantinnya yang putih. Padahal, Laras sudah tiga tahun terkubur di bawah tanah yang tak pernah ia setrika.

 

Hari-hari berikutnya menjadi labirin yang melelahkan. Nota-nota itu muncul secara ajaib di dalam saku-saku yang seharusnya sudah kosong dan bersih. Kadang di celana jeans yang digantung, kadang di balik lipatan syal. Isinya mulai melenceng dari daftar belanjaan mistis menuju catatan harian masa depan yang provokatif.

 

Obat sakit kepala yang belum dibeli untuk hari Selasa.

 

Kunci pintu yang besok sore akan hilang di dekat rak sepatu.

 

Saka merasa sedang dikerjai oleh waktu. Ia mencoba melawan. Pada hari Senin, ia sengaja pergi ke apotek untuk membeli obat sakit kepala, meskipun kepalanya terasa sangat sehat. Ia pikir, jika ia membeli obat itu lebih dulu, nota itu akan kehilangan kekuatannya. Namun, saat ia pulang, ia justru menemukan nota baru di dalam saku jaketnya: Terima kasih sudah membeli obatnya, tapi kau lupa membeli air putih untuk meminumnya.

 

Malam itu, kepala Saka benar-benar berdenyut hebat. Ia mencari air putih, tapi galonnya kosong. Ia terpaksa meminum obat itu dengan air keran yang terasa pahit, sepahit kenyataan bahwa ia sedang dipermainkan oleh secarik kertas buram.

 

Ketakutan makin merambat seperti rayap di dinding apartemennya. Saka mencoba mengabaikan nota-nota itu. Ia berhenti menyetrika. Ia membiarkan pakaian-pakaian Laras menumpuk di atas tempat tidur, membentuk siluet tubuh yang tak bernyawa. Namun, semakin ia abai, aroma melati itu semakin mencekam. Bau itu bukan lagi sekadar wangi bunga, melainkan bau tanah basah, bau besi berkarat, bau segala sesuatu yang membusuk karena tidak direlakan.

 

Puncaknya terjadi pada suatu Jumat yang mendung. Saka menemukan nota terakhir di dalam saku celana bahan berwarna krem—celana yang sama dengan penemuan pertama. Kali ini, tulisannya bukan lagi daftar belanja, melainkan sebuah alamat yang ditulis dengan huruf tegak bersambung yang sangat ia kenal. Huruf ‘L’ yang meliuk lembut, persis seperti cara Laras menulis daftar belanjaan di pintu kulkas dulu.

 

Jalan Kenangan No. 0, Toko Barang Antik ‘Lupa’. Datanglah sebelum matahari kehilangan cahayanya, atau kau akan selamanya menjadi lipatan di dalam lemari.

 

Saka gemetar. Alamat itu terasa asing sekaligus akrab. Ia merasa terjebak di antara keinginan gila untuk bertemu kembali dengan istrinya dan ketakutan bahwa ia akan menemukan sesuatu yang lebih mengerikan daripada kematian. Apakah Laras menunggunya di sana? Ataukah ini hanya cara semesta untuk menertawakan seorang lelaki tua yang gagal beranjak dari aroma detergen?

 

Dengan tangan yang masih membawa bau setrika, Saka pergi. Ia menyusuri jalanan kota yang tampak seperti sketsa yang belum selesai. Orang-orang berlalu-lalang seperti bayangan, dan gedung-gedung tinggi tampak seperti tumpukan kardus yang siap dibuang. Ia sampai di sebuah gang sempit yang gelap, di mana matahari seolah enggan masuk.

 

Di ujung gang itu, berdirilah sebuah toko kecil dengan papan nama yang sudah miring: Toko Barang Antik Lupa. Toko itu tampak sudah tutup selama puluhan tahun. Debu tebal menempel di kaca jendela, dan gemboknya sudah berkarat, menyatu dengan engsel pintu yang rapuh.

 

Saka mendekat, mengintip melalui celah kaca yang buram. Di dalam, ia tidak melihat barang-barang antik yang mewah. Ia hanya melihat tumpukan kain. Ribuan kain. Celana, baju, kain kafan, dan serbet makan, semuanya menumpuk hingga menyentuh langit-langit. Dan di tengah ruangan itu, sebuah setrika tua berdiri tegak di atas meja kayu.

 

Saka menyadari sesuatu yang menghantam dadanya lebih keras daripada benturan mobil yang menewaskan istrinya. Nota-nota itu bukan datang dari alam kubur. Nota-nota itu berasal dari rahim kepala yang melahirkan ketakutannya sendiri, sebuah mekanisme pertahanan pikiran yang sakit karena terlalu lama memuja benda mati. Ia telah menciptakan labirin waktunya sendiri di dalam saku-saku celana itu. Setiap kali ia menyetrika, ia sebenarnya sedang berusaha menghaluskan kerutan takdir yang mustahil dirapikan.

 

Ia merogoh saku celananya, mengambil nota terakhir itu. Aroma melati yang tadi begitu menyengat tiba-tiba terasa hambar. Ia mengambil korek api dari sakunya—korek api yang sebelumnya tertulis di salah satu nota belanja mistis itu. Dengan tangan yang tidak lagi gemetar, Saka membakar kertas buram itu. Api kecil melahap tulisan tegak bersambung itu, mengubah duka dan napas cadangan menjadi abu yang terbang terbawa angin gang yang pengap.

 

Aroma melati itu perlahan lenyap, digantikan oleh bau debu dan tanah yang jujur. Saka berbalik, meninggalkan toko yang tak pernah benar-benar ada itu. Ia berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan, seolah-olah beban dua kilo duka telah menguap bersama asap nota tadi.

 

Sampai di apartemen, ia melihat tumpukan pakaian Laras. Mereka kini hanyalah kain. Bukan lagi kulit, bukan lagi jiwa. Saka mengambil celana bahan berwarna krem itu, melipatnya dengan rapi untuk terakhir kalinya. Kali ini, ia tidak menggunakan setrika. Ia hanya menggunakan tangannya, menekannya dengan lembut, lalu memasukkannya ke dalam sebuah dus besar untuk disumbangkan.

 

Saka menutup lemari, berniat membuang semua kenangan itu ke bak sampah di sudut jalan. Ia merasa sudah menang. Ia merasa sudah sembuh. Ia merasa sudah berhasil menyetrika jiwanya sendiri hingga licin.

 

Namun, saat ia hendak memutar kunci pintu untuk keluar membawa dus-dus itu, ia merasakan sesuatu yang mengganjal di paha kanannya. Secara refleks, ia merogoh saku celana jins yang baru saja ia beli minggu lalu di mal—celana yang belum pernah menyentuh kenangan apa pun tentang Laras.

 

Jari-jarinya menyentuh secarik kertas.

 

Saka membeku. Jantungnya berdegup kencang, menciptakan irama yang kacau di dadanya. Ia mengeluarkan kertas itu pelan-pelan. Baunya melati—begitu kuat, begitu segar, seolah bunga itu baru saja dipetik dari surga yang paling dekat.

 

Di atas kertas buram itu, tertulis satu kalimat pendek dengan huruf tegak bersambung yang sangat ia kenal:

 

“Jangan lupa mematikan kompor, Sayang, rumah kita akan segera dingin.”

 

Saka menoleh ke arah dapur. Ia tidak sedang memasak apa pun. Tapi di sana, di atas kompor yang mati, ia melihat uap tipis mengepul dari sebuah panci kosong, dan aroma melati kini berubah menjadi bau gosong yang sangat akrab. Saka kemudian menyadari satu hal: masa depan tidak pernah bisa disetrika, dan masa lalu adalah setrika yang lupa dicabut kabelnya, selalu siap membakar siapa saja yang terlalu lama mendekapnya.

Author

  • Rasyid Yudhistira

    Lulusan Teknik Industri Universitas Sebelas Maret ini saat ini berkarya di Kementerian Pekerjaan Umum, setelah sebelumnya sempat berkancah di industri manufaktur dan pertambangan. Suka sastra sejak 2016, dan ia pernah aktif di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Sudah menerbitkan sekumpulan puisi berjudul Adu Tabah (2020), Sirus Media. Pernah mendapat penghargaan Juara 3 Cipta Puisi Olimpus UNS (2019) dan Juara 5 Cipta Puisi Nasional Suakanala (2020) dan penghargaan lainnya. Pencapaian terbesar menurutnya adalah ketika terpilih untuk mengisi antologi mendiang Sapardi Djoko Damono dalam Menenun Rinai Hujan (2018). Instagram @____yudhistira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | betnano | ultrabet | ultrabet | جلب الحبيب | jojobet | jojobet giriş | جلب الحبيب | roketbet | roketbet giriş | romabet | romabet giriş |