Mari menyelam pada proses kreatif Cea (penggambar mural).
Cea Membawa Keindahan Hidup lewat Mural

Profil Singkat
Chintia Aristi Aprianti atau biasa disapa Cea, adalah muralis asal Purwakarta yang aktif berkarya sejak 2017. Selain menggambar di ruang publik, ia juga membuka painting class untuk anak-anak yang sudah berjalan selama satu tahun.
Di kelasnya, peserta belajar mulai dari teknik dasar hingga tingkat master. Untuk anak-anak, seni bukan hanya sekadar kreativitas, tetapi juga sarana melatih fokus, motorik, sensorik, dan bahkan membantu mereka memecahkan masalah dalam bidang akademik dengan pendekatan seni.
Sebagai muralis, Cea telah memenangkan berbagai lomba, termasuk juara 1 tingkat umum bersama team-nya dalam kompetisi Festival Mural Goyang Karawang 2021 di Stadion Singaperbangsa. Ia baru saja menyelesaikan proyek mural di Harris Hotel, Bogor, dan kini sedang merancang proyek baru di kota yang sama dengan konsep karakter lucu.
Tertarik untuk mengetahui perjalanan kesenian Cea lebih lanjut? Mari baca wawancara Nyimpang dengan Cea di bawah ini:
Halo, Cea! Denger-denger kamu penggambar mural, ya? Coba dong ceritain tentang dirimu dan kegiatanmu akhir-akhir ini.
Halo! Nama aku Chintia Aristi Apriyanti, asal dari Purwakarta. Sehari-hari masih aktif di dunia mural, buka, dan ngajar painting class. Painting class ini udah jalan satu tahun, buat yang mau belajar dari teknik dasar sampai master untuk anak-anak. Motivasinya sih untuk melatih motorik anak, melatih sensorik anak, dan mengembangkan kemampuan problem solving anak dalam mengerjakan bidang akademisi dengan media seni.
Apa sih yang pertama kali bikin kamu kepincut sama seni mural?
Dari dulu udah suka gambar di tembok, tapi mulai aktif banget tahun 2017 gara-gara sering ikut lomba. Masuk kuliah 2016, pengen aktif, jadi mulai nyoba-nyoba.
Waktu itu ikut lomba di Tangerang, temanya Nusa Loka tentang Bhineka Tunggal Ika, dan menang! Terus tahun 2021, ikut lomba mural Festival Goyang Karawang di Stadion Singaperbangsa, temanya tentang Covid, dan dapet juara satu dengan team aku. Muralnya itu yang aku inget gambar nenek pakai masker—yang pesannya, “Kamu yang abai, jangan sampai kami yang menuai.”
Aku suka mural karena gambarnya langsung jadi, beda sama di kanvas yang harus nunggu mood dulu. Lebih praktis, lebih besar, dan medianya lebih luas. Pesannya juga lebih gampang nyampe ke orang banyak.
Apa ada proyek mural yang udah digarap dan yang bakal dikerjakan?
Ada, dong! Kemarin baru kelar proyek di Bogor bareng temen tepatnya di Harris Hotel. Sekarang rencananya lagi mau ada proyek baru di Bogor juga—yang sekarang lebih ke karakter lucu-lucu lagi seperti karakter kemarin di hotel.
Kalau ngomongin proses kreatif, biasanya kamu mulai dari mana?
Kalau gambar di kanvas lebih gampang, tapi kalau mural yang luas banget, aku mulai dari bikin doodle grid, terus mulai meeting dengan klien untuk ide atau konsep, abis itu cari inspirasi dan referensi di platform lain, dan mulai pengerjaannya.
Menurut kamu, apa tantangan terbesar jadi muralis?
Banyak! Di antaranya itu tempat tinggi, karena harus manjat tangga yang tinggi, dan belum lagi jadi pusat tontonan banyak orang.
Pernah nggak sih dapat kritik dari orang lain dan gimana kamu mengatasinya?
Pernah, pasti ada! Tapi justru kritik itu ngebantu aku berkembang. Misalnya, dulu ada yang bilang bagian wajah di mural aku kurang pas—hidung atau matanya agak aneh. Nah, dari situ aku jadi lebih teliti dan belajar supaya hasilnya makin rapi dan proporsional.
Ngomong-ngomong, apa mural yang paling berkesan buat kamu sampai sekarang?
Paling berkesan sih mural yang menang juara satu tingkat umum di Karawang. Waktu itu pesertanya banyak banget, saingannya juga master-master mural dari berbagai wilayah di Indonesia. Aku ikut lomba bareng dua temen cewek, Opi dan Shifa, dan jujur awalnya udah pasrah nggak bakal menang. Eh, ternyata pas mau balik diumumin juara satu! Muralnya waktu itu tentang Covid, dan seneng banget bisa diterima dengan baik.
Kalau boleh milih, ada nggak satu tempat impian yang pengen banget kamu gambar muralnya?
Pengen banget gambar di Pasar Jumat, Purwakarta, yang konsepnya full dari aku sendiri, tanpa ditentuin orang lain. Soalnya itu pusat kota Purwakarta, banyak orang lalu-lalang, jadi bakal banyak yang lihat. Sekalian juga nunjukin kalau ada seniman lokal yang keren.
Sayangnya, di sana masih belum ada ruang buat mural. Pernah ngobrol sama Satpol PP soal banyaknya vandal di sana, dan aku bilang, “Kasih aja mereka ruang, biar bisa berkarya dengan baik.” Karena kalau nggak ada wadah, akhirnya mereka nyari jalan sendiri.
Buat kamu, mural itu sekadar karya seni, bentuk pernyataan, atau apa tuh?
Buat aku mural itu kombinasi semuanya. Pertama, ya, jelas karya seni. Kedua, bentuk aspirasi—media buat nyampaikan pesan yang aku pikirin. Ketiga, bisa jadi sumber penghasilan juga.
Terakhir nih, ada pesan nggak buat anak muda yang pengen mulai berkarya di dunia mural?
Ada, dong! Coba aja dulu, jangan takut gagal, dan yang paling penting tetap konsisten. Kalau terus latihan, pasti makin lihai!
Leave a Comment