Happy Gilmore 2: Adam Sandler Gak Ada Matinya!
Pokoknya, Happy Gilmore 2 bisa jadi film komedi pilihan untuk mengobati penatmu.
Kita mau ngulik dan ngenalin karya-karya (dari film, musik, dan buku) sampai ke akar, dan menjadikannya “personal”.
Untuk kamu yang ingin melihat atau mencoba “membaca” karya dengan kacamata lain, yang lebih jujur, lebih dalam, dan lebih nyimpang. Nah ini!
Pokoknya, Happy Gilmore 2 bisa jadi film komedi pilihan untuk mengobati penatmu.

Membaca karya Murakami membuat pembaca mengakrabi kekhasan karyanya, yang sering dibilang Murakami-esque itu~

Kalimat itu jugalah yang membuat saya merasa Laut Bercerita ini belum selesai karena banyak yang belum ikut diceritakan.

Lebih parahnya lagi, kadang saya merasa insecure dengan jurusan yang saya tempuh sekarang ini.

“Lolita” menceritakan tentang seorang pria dewasa bernama Humbert Humbert dan obsesi tidak sehatnya terhadap Dolores Haze yang berusia 12 tahun. Perlu waktu kurang lebih satu tahun bagi Saya untuk menyelesaikan novel ini. Sempat Ada perasaan yang mengerikan ketika saya mendengar atau melihat potongan adegan film serta judul dari novel terkenal ini. “Lolita” novel tulisan […]

Film ini bisa menjadi stimulus pikiran kita untuk bertanya-tanya tentang adakah yang lebih mewah daripada hangatnya suasana rumah sendiri, hasil jerih payah sendiri, dan memori-memori yang tersimpan rapi di dalamnya.

imajinasi menuntut kita membayangkan dunia yang seharusnya, bukan malahan menerima dunia yang sudah terlanjur rusak.

Kalau pun ada perdebatan tentang dampak kenaikan harga plastik, pemerintah tolong dong di ini-in. Apa lah pokoknya di-anuin please.

Argh! Kenapa harus ada kalimat itu?! Kesannya jadi seperti menghindari kalau suatu saat di-takedown karena membawa nama “Kitabuming”

Ada anggapan umum yang menarik, bahwa di zaman itu seorang penulis mempunyai kedudukan terhormat di masyarakat.
