Puisi-Puisi Puasa (Bagian II)
Cukupkah manusia? Dengan segala keterbatasannya
Puisi-puisi dari Para Penyimpang, dikurasi oleh kami untuk mewakili apa yang menurut kami, NYIMPANG BANGET. Alias ori dan dekat dengan “Semangat Zaman” ini.
Di sinilah Para Penyimpang menjadikan puisi jadi tempat pelarian, perlawanan, atau sekadar main-main rasa. Baca, atau ikutlah mencatat bersama kami.
Cukupkah manusia? Dengan segala keterbatasannya

Di kota kah kau merayakan Hari. Apa tak sepi sendiri?

maaf jika puisiku seperti anak sekolah dasar yang mabuk kendaraan



Tapi rupanya aroma gorengan lebih menjanjikan


adakalanya aku tidak punya cukup uang untuk membeli buku puisi dan membacakannya untuk diriku sendiri.

Tetangga sudah repot merawat jenazah, masih saja menunggu kuburku selama 40 hari hitungan Jawa

Ayahku Telah Gagal Di malam itu… langit tampak mendung, tapi seperti tidak ingin hujan itu turun. Apakah ia sedang bingung? Ataukah ia sedang berpura tidak menurunkannya? Pada malam itu juga, aku melihat ayahku terbaring tak berdaya. Ia bagaikan singa yang kehilangan taringnya. Aku duduk di sampingnya dan menaruh kepalanya di atas tanganku, menuntunnya untuk terakhir […]
