Surat untuk Ibu dari Kamar Kos
Aku tidak pernah menceritakan tangisku di telepon, Ibu.
Puisi-puisi dari Para Penyimpang, dikurasi oleh kami untuk mewakili apa yang menurut kami, NYIMPANG BANGET. Alias ori dan dekat dengan “Semangat Zaman” ini.
Di sinilah Para Penyimpang menjadikan puisi jadi tempat pelarian, perlawanan, atau sekadar main-main rasa. Baca, atau ikutlah mencatat bersama kami.
Aku tidak pernah menceritakan tangisku di telepon, Ibu.
Aku menatapmu dari tepi kematian Ketika kau menaruh bunga di nisan pikiranku
Tapi di hari berbeda kau sengaja lupa bahwa mereka pula yang meludahi bunga-bunga.
Pun seribu pelukan saja tidak lah sepadan nilai.
Di mana matahari memukul dua kali, Pertama di ubun, lalu di kening.
nanah yang melekat pada tubuhku hingga mati dan membusuk