Pilihan yang Tak Sejalan
"Pilihan yang Tak Sejalan" menggambarkan perjalanan menerima luka, kehilangan, dan harapan melalui keheningan, perpisahan, serta doa yang menggema kepada Tuhan.
Puisi-puisi dari Para Penyimpang, dikurasi oleh kami untuk mewakili apa yang menurut kami, NYIMPANG BANGET. Alias ori dan dekat dengan “Semangat Zaman” ini.
Di sinilah Para Penyimpang menjadikan puisi jadi tempat pelarian, perlawanan, atau sekadar main-main rasa. Baca, atau ikutlah mencatat bersama kami.
"Pilihan yang Tak Sejalan" menggambarkan perjalanan menerima luka, kehilangan, dan harapan melalui keheningan, perpisahan, serta doa yang menggema kepada Tuhan.

Kumpulan puisi ini menyuarakan ironi kekuasaan, pergulatan kerja di malam sunyi, dan kegelisahan jiwa yang terus mencari arah di tengah absurditas kehidupan.

Di Balik Tubuh yang Berat Di bawah beban tubuh yang tak ringan Ada jiwa yang merintih, pelan tapi pasti Langkahnya berat, napasnya terengah Namun semangatnya tak pernah menyerah Mata-mata menilai, mulut-mulut mencemooh Setiap pandangan menjadi duri, setiap kata menjadi pisau Namun di dalam dadanya, ada tekad yang berapi Melawan dunia yang tak henti-henti menghakimi Di […]

Tahun Akhir Bagaimana cara mencatat lengkapKilometer-kilometer paling panjangDalam hidup kita? Bagaimana cara lain menulisAku 32 tahun, tidak menyesali apa punSambil menahan kram di pantat dan perut? Tak apa memimpikan duniaYang tak pernah ada 100 Tahun setelah hari iniNamamu telah dipakaiOrang berbedaBerkali-kali Tubuhmu paham arti tidur,Tapi tak pernah pahamArti “tidak memikirkan apa-apa” Berapa teguk lagiYang kau […]

Getir dalam PPN 12% Kabarnya PPN 12% bakal munculAda makan bergizi gratis sudah kadung jadi sumpahBuzzer-buzzer nalarnya tumpulMengikut klausa-klausa sampah Ada harga dari peraturan dan keputusanKhalayak aduh pening berbondong-bondongKarena dompet sudah mutlak ditodongUntuk merawat setiap ketidakberdayaan Siapa yang mau peduli pajak?Kalau kesejahteraan plak-plak retak gedubrak! Desember, 2024. Kehidupan Urban dan Kursi Minimarket Tengah malam sudah […]

Meniti Tangga Asa Untuk kedua raga yang aku cintai Badai akan ku terjang, samudra akan ku seberangi Demi mimpi yang tak terucap, namun tersimpan banyak harap Langkah yang terkadang goyah Terus terjatuh dan terluka Tak akan menghilangkan tekadku ‘tuk berusaha Aku percaya, tidak ada cita yang mustahil selama doa menyertai Meski tangis darah terus menetes […]

Jakarta Pusat Derita Di Jakarta tidak ada Senin atau Selasa. Kalender mencatat semua tanggal hitam sebagai peringatan perang. Orang-orang di KRL angkat tangan desak-desakan. Buruh-buruh buru-buru tiarap di hadapan pencakar langit. Anak SMP pakai uang bayaran buku yang kurang ceban buat beli kain putih; tanda menyerah. Mengenakan kemeja putih pudar warnanya dengan kancing tak lengkap, […]

Hari-Hari Biasa di Jakarta “Asli mana, mas?” Tanya asing basa-basi dalam bahasa Gambar serta tayangan televisi Hari ke hari Lapisan kulit baru Tumbuh di tubuhku Aku lupa bagian mana dari diriku Yang palsu Aku abaikan pertanyaan itu Menuruti anjuran Pak polisi, “Di Jakarta, jangan bicara dengan orang—atau apa saja yang—asing” Gerbong KRL panjang-panjang Gedung perkantoran […]

Yang Terhempas di Perjalanan Petang itu senandung tak menggema Fragmen ingatan mulai bertamu Kau, aku, dulu saling berdarma Setiap cerita adalah temu Jantung siap meledak kapan saja Layaknya ranjau untuk serdadu Melempar nasib seumpama dadu Perjalanan sampai di titik senja Kisah lampau kerap kali memikat Untuk yang masih bermimpi terikat. 2024. Dilahap Kelam Apa yang […]

Aku Ingin Memenggal Kepala Ibumu Aku bermimpi nasibmu menjadi burukEngkau menghamili empat wanita lalu kau sendiri disembunyikan Ibu Bapakmu Engkau datang meminta pertolonganku “Cuih! Itu kan yang Ibumu mau?!” Begitu saja aku memuntahkan segala yang sudah kutelan seperti Yunus. Aku ingin memenggal kepala ibumu dan menggantungnya di dinding-dinding kota “Lihatlah saudara-saudari! Orang ini yang sudah […]
