Lebih Riang di Malang dan Puisi Lainnya
Puisi-puisi Rocky Pilliang
Puisi-puisi dari Para Penyimpang, dikurasi oleh kami untuk mewakili apa yang menurut kami, NYIMPANG BANGET. Alias ori dan dekat dengan “Semangat Zaman” ini.
Di sinilah Para Penyimpang menjadikan puisi jadi tempat pelarian, perlawanan, atau sekadar main-main rasa. Baca, atau ikutlah mencatat bersama kami.

"Tak ada yang kuambil," begitulah dusta dilantunkan

Kasihku bagai genggam tangan dan kau menjelma pintu di hadapan.

Honor, Kapur, dan Lapar ia berdiri di depan papan tulis dengan kapur yang lebih jujur dari nasibnya sendiri menuliskan masa depan sementara dompetnya menganga kala dunia selalu menawar harga hidup tenaganya dihitung lebih murah dari selembar kertas ujian perutnya padahal selalu bertanya-tanya ia menghitung receh sembari melihat harapan yang bocor di antara celah doa dan […]



Di lantai malam, anggur berfermentasi mengendapkan sunyi di dasar botol retak, rasanya pahit, seperti doa yang lupa alamat pulang.


Catatan untuk Kepala yang Menolak Dipasang Kembali (halaman pertama hilang) yang tersisa hanya: bekas lem dan satu kalimat yang tidak selesai “jangan—” kepala itu ditemukan di laci ketiga bersama benda-benda kecil yang gagal dilupakan: kancing baju, gigi susu, dan satu nama yang ditulis berulang hingga kehilangan bentuk petugas mencatat: objek masih hangat menolak identifikasi “ini […]

Negara Kami yang Rajin Negara kami sangat rajin bangun pagi ke kantor menyusun rencana tentang siapa yang boleh hidup dan siapa yang boleh lapar ia rajin sekali menghitung angka pertumbuhan dari keringat buruh yang tak sempat sarapan ia rajin sekali membangun istana megah sementara jembatan ke sekolah masih dari bambu dan doa kami pun […]
