Ompreng
Makanlah! Ini bergizi
Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?
Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan semangat zaman mereka.
Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).

Di sebuah ruang tamu, terlihat seseorang berseragam cokelat sedang duduk di atas sofa sambil menonton televisi dan makan buah-buahan, seolah merayakan kemenangan yang memang sudah seharusnya ia dapatkan.

adakalanya aku tidak punya cukup uang untuk membeli buku puisi dan membacakannya untuk diriku sendiri.

Tetangga sudah repot merawat jenazah, masih saja menunggu kuburku selama 40 hari hitungan Jawa

Ayahku Telah Gagal Di malam itu… langit tampak mendung, tapi seperti tidak ingin hujan itu turun. Apakah ia sedang bingung? Ataukah ia sedang berpura tidak menurunkannya? Pada malam itu juga, aku melihat ayahku terbaring tak berdaya. Ia bagaikan singa yang kehilangan taringnya. Aku duduk di sampingnya dan menaruh kepalanya di atas tanganku, menuntunnya untuk terakhir […]

Upaya Menerjemahkan Cinta cinta adalah guru sejarah. yang menjelma sejarah. dan memperingatkan kau untuk jasmerah. cinta adalah seni perang. yang mengajarkan kau strategi menyerang. tanpa kau tahu mengapa harus berperang. cinta adalah ruang pesakitan. berjubellah di sana orang-orang kalahan. dan kau dan mereka membutuhkan pertolongan. dan cinta adalah kau yang lahir. […]

Keretaku berpacu lagi, mengantarku pulang ke rumah suami dan anak-anak. Kembali mengemban peran seorang istri dan ibu.

Melihat reaksinya yang seperti itu sedari sore, mataku tertuju pada kopi yang telah kubuatkan dan kusimpan di meja merah jambu di sampingnya telah dingin dan sama sekali tak ia sentuh.


Aku menolaknya. lantas orang-orang itu menempatkan aku sebagai orang gila
