Puisi-Puisi Puasa (Bagian II)
Cukupkah manusia? Dengan segala keterbatasannya
Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?
Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan semangat zaman mereka.
Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).
Cukupkah manusia? Dengan segala keterbatasannya

Di kota kah kau merayakan Hari. Apa tak sepi sendiri?

Bersama kemuliaan malam, aku bersimpuh di hadapan kasihku yang tak berbalas.

Hasan berdiri dan segera meninggalkan sepasang suami istri itu karena ia tahu tidak semua masalah diselesaikan dengan kekerasan.

maaf jika puisiku seperti anak sekolah dasar yang mabuk kendaraan




Tapi rupanya aroma gorengan lebih menjanjikan

Kulitku yang dipuja-puja itu perlahan membiru. Suhu tubuhku menjadi dingin.
