Duka Amara
Duka menyisa lebam di tubuh dan jiwa.
Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?
Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan semangat zaman mereka.
Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).

Rakyat yang mencoba bertahan di tengah ketidakhadiran negara.



Pabrik, rumah, kafe—tiga panggung kekerasan dan kemunafikan.

Menyimpan luka, bertarung sunyi, lalu memeluk senyap.

Dua penulis berselisih ide dalam satu cerita.



Cinta, mati, dan pencarian makna dalam sunyi jiwa.
