Tanpa Suara
Cukup hanya memahamimu Mengagumi dalam diam
Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?
Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan seanagt-zaman mereka.
Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).

1 Melihat WS Rendra menulis puisi yang diapresiasi seluruh pegiat literasi di dunia ini yang membuat bumi menangis yang membuat langit meringis “Mengapa kalian membacakannya di tempat yang remang-remang? Tidak di Gedung Yudistira?” Melihat WS Rendra menulis puisi dan dikagumi seluruh pegiat literasi namun bumi merasa malu dan langit tersipu “Mengapa kalian tak membacakannya di […]

PERNIKAHAN pada desir angin yang kesekian, kauberjanji datang meski gemuruh datangdan guruh-hujan merintang jalan kau tentu pernah mengingat hujan itu ketika kita duduk di tepi danauberandai-andai jika kelak menjadi pasangansuami-istri. nyatanya kandas dan ditentangorangtua kita, bukan? aku tak keberatan kau datang, walauyakin kau akan terluka dan sakit hati. bahkansaat kau membaca kiriman undanganku, kan? sebenarnya […]

Kemanakah aku harus mengaduMenciptakan jalan menuju rinduJalan yang buntu di persimpangan waktu Ataukah aku harus meniti kenanganDi antara sembab luka yang tersiratPada sebatang puisi paling hakiki Barangkali perjalanan itu benar-benar buntuDalam penantian menapaki jejak rinduLalu berliku menuju gubuk gerhanamu Kemanakah aku harus mengaduKe matamu ataukah pada hatimuYang selalu menyusun menara di jantungku

Lembayung senja percaya diri meronaMengungkap diamku yang terjebak pada puisiBait demi bait menjadi gundukan aksara yang berantakanMenjadikan aku pujangga gagal Kertas usang kurangkai menjadi tumpukanKemudian bersama puisiku tersusun menjadi sebuah bukuKutulis berulang acap kali senja berakhir menyapa rembulan Meski dengan rima yang masih berantakanPuisiku hendak melahirkan romansaDengan diksi-diksi yang akan dirindukanNamun tersisih pada senja yang […]

Harus Mendayu-dayu Menulis harus mendayu-dayuSupaya lakuSeperti bernyanyiTulisanmu harus beriramaSaat kau terlukaSaat kecewaAtau kau sedang marahAtau riang gembira bahagiaKau mesti menyetel kalimat yang berterbangan di atas kepalamu itu supaya merdusampai mendayu-dayuuntuk kemudian kau dapat menuliskannya.“Jangan asal menulis”, itu katamuTapi ini kisahku:Pada wajahnya yang samarPada hati ini yang berdebar-debaryang membuat kaki gemetarPikiranku hinggap di perasaan yang patahMelihat […]

Menulis tentang mu adalah hal yang membuatku jauh dari kegilaan

Darah itu masih segar mengalir perlahan dari pergelanganku, kamu menatapnya jerih selama beberapa saat lalu kalap meraihku yang limbung dan mencoba menghentikan cairan merah itu keluar lebih banyak lagi. Pandanganku buram melihat dirimu panik, menelepon seseorang mencari bantuan. Ah, aku jadi teringat saat dirimu yang juga sama paniknya melihat diriku yang terjatuh saat kita pertama […]

Rona senja yang memerah, menghiasi sore yang indahBias cahayanya menembus awan berjajar di sanaBagaikan pilar-pilar langit yang tersusun rapi nan megah Membuatku sejenak terdiam, tertegun melihat sketsa langit yang luar biasa indahnyaDalam hati terbesit kata, sungguh besar kuasanyaHingga mampu menciptakan dunia ini seindah nirwana Sayup-sayup terdengar debur ombak berkejaranSeolah ingin meneriakan sesuatu padakuAku mencoba menerkanya, […]

Tentang Adikkuaku mengajarkannya bersepedamelatih keseimbangan supaya tak mudah tumbangaku pernah berbagi jajanan dengannyajika aku membeli dua, baginya satujika dia beli tiga, bagiku satu jugaseakrab itu aku dengan adikkudulu, saat masih lugunamun sekarang, untuk berbincang pun jarangmungkin karena seganatau memang sudah saling mengertitetapi ketika motorku mogok di perjalananhanya adikku yang datang membantumemberiku pertolongan Tentang Kakakkubayangkan jika […]
