Alif Membicarakan Tuhan
Orang waras mana coba yang menenggak Kawa-Kawa sambil menyebut asma Tuhan?
Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?
Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan semangat zaman mereka.
Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).
Orang waras mana coba yang menenggak Kawa-Kawa sambil menyebut asma Tuhan?

Setelah sekian lama saling mencari, akhirnya Hawa berada tepat di hadapan Adam. Mereka berdiri di puncak bukit kecil pada bentang bumi bagian timur. Butiran pasir yang beterbangan menerpa kulit, seolah memberi restu pada keduanya untuk berlama-lama menetap. Semburat cahaya jingga dari matahari yang jatuh perlahan pada punggung bebatuan berlumut di ufuk barat, seolah menyertai Adam […]

Kecewa yang dirasa Kakek Sarmidi amat dalam. Ingin rasanya ia merobek lehernya dengan pisau yang ia pegang.

Aku harus pergi kesekolah dengan baju lusuh dan otak yang sudah hangus kumakan sendiri.

Hamzah adalah seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun. Ia bekerja di sebuah toko kelontong kecil. Orang-orang mengenalnya sebagai pribadi ramah dan murah senyum. Setiap pagi ia membuka pintu toko, mematikan lampu, lalu menyapu lantai yang penuh debu dari jalan raya. Hidupnya sederhana. Jarang ada keinginan neko-neko. Pemilik toko kelontong itu, Pak Hasyim, menjadikannya tangan […]

"Is death not sweeter than being left to despair?"

Sebetulnya, warung Sumi bukan pilihan pertamaku. Sebelumnya, ada Indah. Dia satu-satunya warung ber-AC di deretan itu. Kalau kau bertanya kok bisa warung pinggir jalan ber-AC, karena Indah menjadikan warungnya sekaligus tempat tinggalnya.

Saya menghabiskan 50% gaji saya untuk rokok. Memang bukan hal bagus, tapi semenjak ada rokok, hidup saya dipenuhi jadwal memaknai. Hari ini saja saya sudah menghabiskan satu setengah bungkus Win Click. Dari empat puluh batang, kini rokok saya tinggal delapan batang.

Ah! Nenek itu. Lucu sekali wajahnya, dan gayanya sangat jenaka. Sebetulnya aku selalu menyukai baju-bajunya yang vintage, dia juga sering ngomong sendiri. Maka ketika lewat, aku selalu menyapanya dan meskipun terdengar tidak sopan, aku suka masuk ke dalam obrolannya.

Sanusi mengira ajian tolak miskin akan menolongnya! Mari kita membaca sama-sama, apakah benar begitu?
