Pelukan Terakhir
Kalian ingin menghapus jejak anakku? Kalian ingin berpura-pura seolah dia tidak pernah ada hanya demi menutupi rasa malu?
Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?
Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan semangat zaman mereka.
Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).
Kalian ingin menghapus jejak anakku? Kalian ingin berpura-pura seolah dia tidak pernah ada hanya demi menutupi rasa malu?

“Tentu saja aku bakal menerimanya! Aku gak mau keinginanku berakhir di kotak cokelat berdebu seperti itu,” jawabku dengan nada sombong.

Aku menjauh dari Banda Kali. Dengan sigap, air menggenang kota, menjalar keluar bendungan.

Di sanalah Bagus pulang menuju rumahnya dan menghilang di ujung jalan seperti halnya Kopdes yang dilahap oleh api kemarahan Bagus.

Delima memuji Nabi, padahal di internet ia hanya menemukan wajah Jokowi

Untuk Padma sendiri, kecuali memakai topeng dan berkeliaran di tengah malam, ia menjalankan semua pekerjaan vigilante seperti di film-film.

Pokoknya, kali ini ia akan memasak turubuk santan yang enak sekali.

Mereka pun saling berteriak. Meski sebenarnya tak saling mendengar satu sama lain.

“Mohon maaf, Kang, bukannya yang namanya sumbangan itu seikhlasnya? Kalau dipatok seperti ini, namanya bukan sumbangan, tapi iuran.”

Kali ini, aku persembahkan seekor kucing kecil yang hampir dimakan induknya.
