Karya

Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?

Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan seanagt-zaman mereka.

Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).

Seni Berjalan Sempoyongan

Kau tak pernah berkelahi seumur hidupmu, tapi kini kau ingin seseorang menghajar wajahmu. Kau mengambil posisi duduk yang paling nyaman—sambil selonjoran di tengah kasur, bersandar pada bantal yang kau tegakkan di tembok. Posisi ini, menurutmu, adalah yang terbaik untuk meredam gemetar tubuhmu sejak aroma yang begitu akrab menguar dari dalam amplop dan menyentuh ujung hidungmu. […]

Senja Bulan September

  Senja Bulan September Senja mati di pelupuk matahari terbenam Jemarinya kuyu tak lagi mampu menggapai pena langit Sajak yang pernah yang ditorehkan pada bebatuan di sungai Pada pepohonan di bukit mematung di pinggir pusara Air mata anarki   Menjual diri di antara sendi di telanjang tanah duka Kulihat hujan mengetuk pintu Perginya senja menyimpan […]

Anak Bupati

Anjir kata gua. Belagu banget anak King padahal lu takut lemari dan suara nangis almarhumah jatoh dari lantai 12 kan. Yeu! Lagi demam aja lu minta anter ke toilet daripada ngeliat kunti terus pingsan kaya temen lu.

Membaca Kereta Jam 25

Tubuh menjadi ikan asin Menjadi sales, menjadi beton dan bunga Menjadi buruh, menjadi kereta api Menjadi mobil dan ringtone hp

The Boy with The Arab Strap

Kau kan hidup di pohon raksasa bersama mitos peri dan Ayahuasca juga grafik dari Petenera! Lari dalam sajak tentang gitar tanpa Dylan!

Yang Terakhir dari Bangsa Saya

Begitulah kiranya. Kami dari bangsa selain manusia kadang sempat berpikir betapa Ibu selalu pilih kasih. Ibu selalu menyayangi manusia dan kami seperti anak tiri saja tindak- tanduknya.

Rembulan Semerah Darah di Langit Kurusetra dan Puisi Lainnya

Rembulan Semerah Darah di Langit Kurusetra Rembulan sedang purnama di langit Kurusetra, ketika anak-anak Pandu ngelmu kepada Resi Durna Sang Begawan dari Sokalima Mereka gladi  menthang jemparing seolah sedang merentangkan garis takdir   O, lihatlah panah Si kembar Nakula-Sadewa Warastranya  hanya berdesing di udara Tiada satu sasaran terkena jua, asa mereka hampa menapaki jalan ksatria […]

Yang Membabat Habis Sebagian Besar Hidup Saya

Saya menghapus jejak para baron di tubuh saya: yang membabat habis sebagian besar hidup saya sampai tak tersisa apa-apa. Tidak ada apa-apa lagi di tubuh saya, terlebih lahan buat menyemai benih. Matahari membakar beberapa batang pohon karet yang masih melekat di perut dan tangan saya setelah memuntahkan getahnya semalam. Saya lalu menyulut beberapa helai ganja […]

Saya Juga Berhak Merdeka

* Balai Desa Sukanalar geger. Pagi-pagi sudah terjadi keributan, atau lebih tepatnya unjuk rasa. “Kang Turah sesat, murtad! Dia harus pergi dari kampung ini!”  seru para warga yang demo di depan Balai Desa. Tidak jelas siapa yang memimpin, namun Jumat pagi itu telah berkumpul sekitar 50 orang yang berunjuk rasa. Dan yang menjadi obyek tuntutan […]

meritbet giriş | lunabet | lunabet | meritbet giriş | pusulabet | holiganbet giriş | meritbet | meritbet giriş | meritbet | bets10 | bets10 giriş | jojobet | jojobet giriş | bets10 | bets10 giriş |