Upeti untuk Kota yang Tuli
bayangan berbulu hitam legam berbaring malas di kaca jendela
Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?
Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan semangat zaman mereka.
Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).
bayangan berbulu hitam legam berbaring malas di kaca jendela


Bagaimana bisa mereka menitipkan segala hal? sedangkan aku hampir saja membantu kawanan semut


dibiarkannya kakiku berjalan sendiri

Aku ingin bertemu pagi karena dia memiliki tawa secerah matahari

Aku pulang hari ini. Tak ada ibu. Tak ada Karnia. Tak ada siapa-siapa. Aku sendirian.

Pedagang terlihat menyuapi satu per satu rakyatnya di tanah tambang

sembari mempertontonkan wajah riang gembira dan antusias berlebih

