Karya

Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?

Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan semangat zaman mereka.

Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).

Tersisa Satu (Bagian I)

Mesin yang kehabisan token membangunkan tidurku. Suaranya galak sekali. Pandanganku langsung bertemu plafon yang menekan, bercorak alami membentuk pulau-pulau yang belum terjamah campuran antara hijau rumput dan bau lapuk.

Menjelang Kepala Tiga

Sudah empat belas hari Elis menunggu kabar tulisan yang ia kirim ke salah satu surat kabar di Medan. Selama itu pula wajahnya muram. Hingga dini hari itu, kesabarannya sudah tiba di ujung yang paling tipis. “Ck.” ia mendecak pelan. Lalu mengumpat lirih, berulang-ulang, seperti berbicara kepada dirinya sendiri. “Eee ... Anjing! Babi!”  nama hewan itu […]

Parade Malam Hari

Barangkali berharap suara itu berhenti sendiri seperti bebunyian lain yang kerap muncul di malam hari. Pipa air, decit tikus di plafon, atau suara langkah terseok orang yang pulang larut, tapi, ini bukanlah suara itu.

More posts