Karya

Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?

Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan semangat zaman mereka.

Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).

Kamar Tidur

BABAK 1 (Tiga lampu putih masuk menyorot sisi tengah, kanan belakang panggung, dan tengah atas. Redup. Sisi tengah : ranjang besar tegak dengan posisi vertikal lengkap dengan bantal gulingnya, di sisi atasnya terdapat 4 sakelar, Zawzaw & Ciwawa tidur di atasnya berselimut. Sisi kanan belakang : ranjang kecil dengan posisi sama, di atasnya Mwak terbangun […]

Ketika Usai, Matilah!

Lagi dan lagi. Bukan wajahnya yang Nata lihat di pantulan cermin, tetapi cerita masa lalunya. Seketika, mimik wajahnya menekuk. Rasa geram menggerogotinya. Ketika bercermin, Nata seolah membuka cara pikirnya yang dulu, lukanya yang tak kunjung sembuh, dan mimpi-mimpinya yang terkubur tanpa sempat tumbuh. Di tengah pergulatan sunyi dengan pikirannya sendiri, dering gawai terdengar. Nama Daniel […]

Catatan untuk Kepala yang Menolak Dipasang Kembali

Catatan untuk Kepala yang Menolak Dipasang Kembali (halaman pertama hilang) yang tersisa hanya: bekas lem dan satu kalimat yang tidak selesai “jangan—” kepala itu ditemukan di laci ketiga bersama benda-benda kecil yang gagal dilupakan: kancing baju, gigi susu, dan satu nama yang ditulis berulang hingga kehilangan bentuk petugas mencatat: objek masih hangat menolak identifikasi “ini […]

Bukan cuma Kalah Weton

“Aku tidak tahu kenapa bisa begini.” Perkataan itu ia lontarkan pada istrinya yang masih kesakitan menahan robekan pada kemaluannya, sebab bayi yang antara dinanti dan tidak dinanti baru saja mbrojol. “Ya mau bagaimana lagi, Pak, semua itu sudah menjadi kersane Gusti Allah,” sambil meringis kesakitan. “Ya sudah, bayi ini harus segera dibereskan.” Kuping bayi itu memang belum […]

Negara Kami Punya Selera

Negara Kami yang Rajin   Negara kami sangat rajin bangun pagi ke kantor menyusun rencana tentang siapa yang boleh hidup dan siapa yang boleh lapar ia rajin sekali menghitung angka pertumbuhan dari keringat buruh yang tak sempat sarapan ia rajin sekali membangun istana megah sementara jembatan ke sekolah masih dari bambu dan doa kami pun […]

More posts