Maaf, Minah
“Kita gak perlu puasa 4 hari ke depan, Kang.”
Ya cerpen :(
Di sinilah Para penyimpang mengasah diri menulis cerita fiksi dengan berbagai genre. Yang penting ori dan NYIMPANG.

“Mama … jualan, Tante,” jawabku datar sambil tetap bermain game dengan Bagas.

Sepasang kursi di sebuah Kedai Kopi sedang berbincang, setelah semua orang pulang.

Tangan gempal itu meremas dada Umi dengan kasar, sampai Umi mesti menggigit bibirnya, menahan sakit. Ini jelas jenis terapi yang berbeda. Karena remasan Hanip sangat pelan dan aku tidak perlu menahan sakit. Apalagi, tangan itu menjulur dari belakang, sedangkan Hanip melakukannya dari depan.

Sampai di apartemen, ia melihat tumpukan pakaian Laras. Mereka kini hanyalah kain.

Klimaksnya terjadi di tengah udara yang semakin dingin. Ibu Ida menuntut KIC yang cacat itu untuk dihancurkan, untuk menjaga kesucian data.

Setiap kali ia mencoba mengucapkan kata "keadilan", tenggorokannya seolah diperas oleh tangan-tangan tak terlihat. Ia memuntahkan debu hitam pekat yang segera menutupi pakaiannya yang mahal.

Minimarket ini lumayan ramai. Tak peduli siang, sore, atau malam, pengunjung berdatangan seperti tak ada habisnya. Suara AC dan decit sepatu memenuhi ruangan luas ini.

Mendengar itu, Mas Karni langsung sumringah karena istrinya akhir-akhir ini belum datang bulan.

