Pagi Lagi
Betapa beratnya hari ini.
Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?
Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan semangat zaman mereka.
Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).


saat pohon-pohon dimandikan bensin, dilukai api. setan yang menumbuhkan semak-semak berduri. kerakusan begitu tajam, begitu kejam.

azimat dadu menjelma seratus busur panah

Yang ada hanyalah sepasang laki-laki yang merayakan tubuh mereka, merayakan cinta mereka di bawah lampu jalanan.

Nyawaku telah mati satu malam itu, tersisa satu menjelma Kirana.

Barangkali mencintaimu adalah kegagapan bintang mengecup pagi

Tangan Laras berhenti mengaduk sayur bening. Ia mematikan api, lalu tanpa sadar membuka laci bumbu paling bawah.

Api di rumah itu selalu terasa lebih panas, lebih membakar dan menghanguskan Frans. Frans merasa bahwa hidupnya memang tidak berguna. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas nasib yang dialaminya.

di atas lebam hidup, kuhidangkan sajak-sajak buatmu
