Karya

Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?

Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan semangat zaman mereka.

Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).

Alloh akan Membelaimu

Alloh Akan Membelaimu Alloh akan membelaimu, kekasih. Mengendong ruh dan jasadmu yang sendiri. Berpeluh, merangkak di belantara dunia. Mengapai-gapai cahaya, sembari bertanya “Kapan qiyamuhu binafsihi tiba?”. Kita berpelukan pada sisa angin dan merjan di atas rembulan. Kekasih duhai kekasih. Jiwamu memantulkan lagu, mendendangkan segenap rindu. Suaranya merobek langit. Ketika petir dan guntur berkecampuk sengit. Alloh […]

Setelah Setahun di Jakarta, Saya Baru Tahu Kalau Saya Pelit di Nasi Boros di Kopi

Kalau ditanya perihal alasan saya merantau ke Jakarta, jawaban saya cuma satu: cari pengalaman, bukan cari kerja. Jadi, hal yang wajar saja jikalau sampai hari ini (sejak Oktober 2025) saya sama sekali belum menemukan pekerjaan. Walaupun sebenarnya saya sudah sampai di titik “saya sangat butuh pekerjaan.” Namun, kalau bahasa klasiknya “apa yang kamu niatkan, itulah […]

Kenapa Tidak Ada yang Memberitahu Kalau Menikahi Anak Pertama Otomatis Membuat si Bungsu Menjadi Anak Sulung?

Setahun menikah membuat saya menyadari satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh ustaz mana pun saat khotbah nikah, atau oleh motivator pranikah yang hobi bikin seminar di hotel berbintang. Tidak ada yang pernah memberi tahu bahwa menikahi anak pertama ternyata otomatis membuat saya ikut dimutasi menjadi anak sulung. Serius. Selama ini orang-orang hanya sibuk memberi […]

Bait Bisu

Hujan selalu jadi alasan untuk mengirim pesan panjang pada orang yang tak lagi menjawab. Bait-bait tentang perpisahan yang belum selesai.

More posts