Karya

Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?

Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan semangat zaman mereka.

Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).

Ayahku Telah Gagal

Ayahku Telah Gagal Di malam itu… langit tampak mendung, tapi seperti tidak ingin hujan itu turun. Apakah ia sedang bingung? Ataukah ia sedang berpura tidak menurunkannya? Pada malam itu juga, aku melihat ayahku terbaring tak berdaya. Ia bagaikan singa yang kehilangan taringnya. Aku duduk di sampingnya dan menaruh kepalanya di atas tanganku, menuntunnya untuk terakhir […]

Upaya Menerjemahkan Cinta

Upaya Menerjemahkan Cinta   cinta adalah guru sejarah. yang menjelma sejarah. dan memperingatkan kau untuk jasmerah.   cinta adalah seni perang. yang mengajarkan kau strategi menyerang. tanpa kau tahu mengapa harus berperang.   cinta adalah ruang pesakitan. berjubellah di sana orang-orang kalahan. dan kau dan mereka membutuhkan pertolongan.   dan cinta adalah kau yang lahir. […]

Patung Keempat

Melihat reaksinya yang seperti itu sedari sore, mataku tertuju pada kopi yang telah kubuatkan dan kusimpan di meja merah jambu di sampingnya telah dingin dan sama sekali tak ia sentuh.

Pahitnya Tertinggal di Lidah

Aku tidak tahu sejak kapan perasaan itu muncul, yang aku ingat hanyalah saat pertama kali melihatnya. Ada sesuatu yang aneh di matanya seperti ada cahaya kecil yang berpendar diam-diam di sana. Bukan cahaya yang menyilaukan, tapi cukup untuk membuatku berhenti sejenak. Untuk beberapa detik aku merasa seperti tenggelam di sungai tanpa dasar. Segalanya menjadi sunyi. […]

More posts