Tunmat: Senja Menumbuk Doa pada Lesung Angin
Kekasihku: engkau adalah sehelai Tais
Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?
Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan semangat zaman mereka.
Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).
Kekasihku: engkau adalah sehelai Tais

Rasanya, ia mendekap Sintong, kawannya. Kawannya yang setia.


Embun mengeruhkan kota. Namamu sempat terbaca, lalu larut





Sebab rasa yang layu tumbuh subur, akibat angkuhmu selalu dirawat.

Guru itu keluar sebentar hanya untuk melihat embun masih berkeliaran, mengusap jendela yang hampir pecah. Beberapa tembok juga seperti dimakan tikus, namun setelah diintip, ada proyektil yang pecah.
