Terlambat dan Puisi-Puisi Lainnya
Tak wajar kupermasalahkan nasibku yang diam di tempat sejak dulu,
Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?
Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan semangat zaman mereka.
Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).
Tak wajar kupermasalahkan nasibku yang diam di tempat sejak dulu,

Warna itu lekat,terus terang- menawanCantik bak- Esla karakter frozen

Aku berjalan santai menuruni anak tangga jembatan. Aku lihat banyak orang berbondong-bondong mengerumuni wilayah kampus. Ternyata mereka geram karena fajar dan IPB telah aku potong. Aku lihat langit menjadi rumpang beserta IPB dan isinya.


Jika kau ikut, maka ikutilah perkataanku!

Ayo sebutkan satu jajanan apa pun dari sini sampai situ, pastilah aku bakal selalu tahu! Kau tahu Kosambi? Hm, tidak-tidak! Bukan Kosambi Bandung. Ada begitu banyak Kosambi dan hei! Kalian dengar ini baik-baik, ya! Tidak semua hal itu harus soal kota besar! Ingat itu! Kalau tidak, akan kupotong kuping kalian! Ah, dengar. Kalian mungkin ada […]

lalu ke mana nama Bapak yang tersohor dan menjadi pujian orang-orang di desa? tak mungkin lepas karena anak ayam satu yang hilang rumah dan induknya

Warga sekitar memanggilnya dengan nama Rusdi Betrik. Panggilan yang biasanya dialamatkan ke seseorang dibarengi isyarat menggoreskan telunjuk menyamping di depan dahi dari satu sisi ke sisi lainnya. Boleh dibilang, kabetrik merupakan istilah di daerah kami untuk menyebut seseorang yang tidak memenuhi kriteria waras, tapi belum sampai ke tahap untuk bisa disebut gila. Rusdi Betrik tumbuh […]

Tekad dalam diriku sudah bulat. Aku hanya meminjam segalanya.

Oke mantap! Setidaknya ia tidak lupa rasa ganja Sumatra.
