Nasib Umat Manusia Setelah Wafatnya Khalifah Uzumaki Naruto
Turut berduka cita atas berita meninggalnya salah satu pemimpin terbaik di dunia ini, Khalifah Uzumaki Naruto bin Khalifah Namikaze Minato.
Kolom ini berisikan esai opini mengenai kejadian-kejadian terkini dan personal. Ditulis sesantai yang kami mampu, seserius yang kami bisa.
Harapannya, suatu hari nanti kita bisa melihat kembali bagaimana kita mencatat peristiwa-peristiwa yang telah lewat.
Turut berduka cita atas berita meninggalnya salah satu pemimpin terbaik di dunia ini, Khalifah Uzumaki Naruto bin Khalifah Namikaze Minato.

Tahun 2010-an untuk pertama kalinya tulisan saya berhasil dimuat oleh salah satu majalah berbahasa Jawa yang terbit di daerah Jawa Timur. Saya masih ingat tulisan yang dimuat itu berbentuk geguritan (puisi berbahasa Jawa). Semenjak saat itu saya mulai aktif mengirimkan tulisan-tulisan ke beberapa majalah berbahasa Jawa baik yang terbit di Jawa Timur dan di Yogyakarta. […]

Karena laki-laki juga butuh namanya menangis.

Usia dua puluh tiga tahun dan baru saja menyelesaikan studi memang bukan perkara mudah. Selain diserang pertanyaan “sudah kerja belum?” atau “kapan nikah?” dari teman-teman saat reuni SMA, hal menyebalkan lain juga datang saat tiba-tiba teman ibumu bertamu ke rumah dan tentu saja, sebagai anak perempuan yang dianggap harus anggun dan nurut, maka kamu harus […]

Jam 1 siang, Aku melihat akun instagram Ketua Umum PB Permata (Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta), @mochilga, menyiarkan sebuah cerita berupa potret massa aksi yang berbaris di jalanan di bawah terik sang mentari. Postingan yang disiarkan 3 jam lalu itu dibubuhi sebuah tulisan yang begitu mengesankan bagiku. “Sekali lagi, Kita aksi bukan karena benci tapi karena Kita […]

“Hidup Perempuan Indonesia!” Begitu teriak beberapa mahasiswa laki-laki saat berorasi di aksi tolak UU Cipta Kerja yang lalu. Tentu saja tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut, namun aneh rasanya ketika banyak organisasi mahasiswa yang mengaungkan kalimat Hidup Perempuan Indonesia di pangggung oraasi yang ramai begitu, tapi di saat yang lain, enggan membahas isu-isu perempuan […]

Putus cinta bagaimanapun bukan peristiwa yang menyenangkan. Seorang psikolog menyebut kalau perasaan yang ditimbulkannya cuma bisa ditandingi oleh kematian seseorang yang tak kalah berharganya.

Kalian mungkin tersinggung, jika disebut dengan aktivis seksis. Kalian mungkin membatin, “dih, kita kan cuma bercanda kok dibilang seksis? Enak aja!

Berpuisi atau kepenyairan seringkali adalah kerja kebudayaan yang tidak dominan.

Ngeri rasanya hidup di zaman dengan banyak penemuan di bidang sains, tapi tetap gentar dengan asumsi-asumsi yang sama sekali tidak bisa diukur.
