Saya adalah Pemulung, dan Ini yang Saya Rasakan
Bersulung (berkah selalu untuk para pemulung)
Kolom ini berisikan esai opini mengenai kejadian-kejadian terkini dan personal. Ditulis sesantai yang kami mampu, seserius yang kami bisa.
Harapannya, suatu hari nanti kita bisa melihat kembali bagaimana kita mencatat peristiwa-peristiwa yang telah lewat.
Bersulung (berkah selalu untuk para pemulung)

Saya tahu bahwa yang paling diuntungkan dari semua kerja keras yang terpampang di sana bukanlah orang yang ada di balik kameranya.

Pada akhirnya, budaya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga sebagai pengingat bahwa kita harus menjaganya agar tetap hidup di masa depan.

"Semua orang capek, udah gak capek kalo udah di surga," begitu kata Aldi Taher ketika diwawancarai satu televisi nasional.

Aku menyadari bahwa hal itu seringkali membuat tubuhku tidak nyaman, tetapi tetap saja aku mencarinya lagi.

Jika adalah seseorang yang mengaku ingin berdakwah, sebetulnya ada satu ujian sederhana yang bisa dipakai untuk membedakan yang betulan ingin berdakwah dan jualan atribut dakwah saja.

Kau datang dan pergi sesukaaa hatimuuu, oooh kejamnya dikauuu~Â Begitu lah kiranya nyanyian dari dokter gigi untuk saya.

Mungkin setelah ini, saya tertarik menjaga zuragan tuyul. Sekian.

Kejadian seperti itu sebenernya cukup menarik untuk dibahas, dan sebagai laki-laki, saya akan menulisnya berdasarkan sudut pandang saya sebagai laki-laki, ya.

Lapangan Adhi Karsa memainkan peran penting sebagai ruang ketiga (third place), istilah yang dipopulerkan sosiolog Ray Oldenburg
