Padahal, Amerika bisa dengan mudah menciptakan perdamaian di Gaza dengan menghentikan invansi Israel atau dengan menyetop bantuan pada Israel. That simple! 1+1? 2! Antek-antek asing? Kamu sendiri! Yang wajar aja!
Dosen kan bukan sales. Mahasiswa bukan customer. Kampus bukan marketplace. Ketika ketiganya diperlakukan sebaliknya, jangan heran kalau yang lahir bukan sarjana kritis, tapi lulusan patuh yang jago bertahan hidup di dunia yang isinya kerja-kerja-kerja.
Seringkali, kegiatan menanam pohon itu identik dengan aktivitas fisik yang cukup berat. Mencangkul tanah, membawa bibit, berpanas-panasan, lalu pulang dengan badan lelah. Memang begitulah seninya berkegiatan di alam. Namun, Sabtu kemarin (10/1), saya dan teman-teman Semua Senyum Indonesia mencoba menghadirkan suasana yang sedikit berbeda di Gunung Rahayu. Kami ingin membuktikan bahwa aksi konservasi bisa dinikmati […]
Barusan Minpang juga berpikir, ah bahkan jika Indonesia benar-benar serius berbenah dan menjadi pemimpin HAM memangnya apa yang bisa menjadi lebih baik?
Timezone pada masa kanak-kanak saya, adalah bentuk kapitalisme paling keren dari dunia hiburan dan perjudian kecil. Menyuguhkan harapan kemenangan berupa boneka yang super besar, yang sedihnya sampai saat ini tidak bisa saya dapatkan. Heu.
“Kok skripsimu belum kelar aja?” Berada di ujung masa perkuliahan rasanya kayak duduk di kursi berjarum: duduk, sih, tapi sangat tidak nyaman. Tidak ada yang betah berlama-lama, tapi kadang buat bangun ber-progress satu halaman saja susahnya minta ampun. Kalaupun si penanya bisa cepat menangkap raut cemberut saya, biasanya mereka mengalihkan dengan penghiburan semacam: “Tenang, masih […]
Digadang-gadang sebagai “pembaruan hukum poskol” yang menggantikan warisan kolonial penjajahan Belanda, KUHP dan KUHAP yang sempat naik-turun beritanya karena kalah sama berita-berita selingkuh resmi diberlakukan. Meski belum memasuki masa UAS, nampaknya ujian kita sebagai WNI sudah berlangsung. Banyak aturan-aturan KUHP dan KUHAP sepertinya bertujuan untuk melindungi pejabat dari konsekuensi hukum atas kesalahan mereka sendiri. Baru […]
Sebab pada akhirnya, yang benar-benar memalukan dan norak kan bukan dangdut, tapi mental poskol dan kesombongan kelas yang merasa paling berbudaya tanpa lihat realitas yang ada dan menjadi fakta. Slebew!
Beberapa waktu yang lalu, ruang publik kita dihentak oleh pernyataan seorang anggota DPR yang menyindir donasi masyarakat sebesar Rp10 miliar untuk korban banjir di Sumatera. Dengan nada meremehkan, donasi tersebut dianggap “biasa saja” jika dibandingkan dengan bantuan triliunan rupiah yang digelontorkan negara. Sekilas, secara matematika, pernyataan itu benar. Rp10 miliar hanyalah remah-remah—mungkin tidak sampai […]