Saya Jamin Geng FF Gak Bakal Gini
Oh iya, saya rasa saya harus pamerin ulang geng terbaru saya: Femme Fatale Purwakarta. Cukup menyedihkan sih, karena cita-cita Femme Fatale itu kan jadi yayasan, bukan geng! huft.
Kolom ini berisikan esai opini mengenai kejadian-kejadian terkini dan personal. Ditulis sesantai yang kami mampu, seserius yang kami bisa.
Harapannya, suatu hari nanti kita bisa melihat kembali bagaimana kita mencatat peristiwa-peristiwa yang telah lewat.
Oh iya, saya rasa saya harus pamerin ulang geng terbaru saya: Femme Fatale Purwakarta. Cukup menyedihkan sih, karena cita-cita Femme Fatale itu kan jadi yayasan, bukan geng! huft.

Di umur yang menginjak 26 tahun ini, mayoritas teman saya yang masih hidup di kampung hanya tinggal tersisa dua golongan saja. Sebagian jadi mama muda calon influencer Facebook, sebagian sisanya jadi anggota KPPS.

Lagi-lagi saya merasa bersyukur dikelilingi sahabat-sahabat terbaiq saya. Yang tidak pernah menambah beban hidup saya dengan beban hidupnya mereka. Yang mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Yang bekerja sekaligus berkarya. Yang gak ngejadiin proses berkarya sebagai tameng dari kemalasan mereka cari cuan.

Ada yang bilang kalo feminis itu benci cowok. Lah, gimana sih? Gue yang cowok aja ngerasa perlu banget dukung feminisme. Kenapa? Ya, karena feminisme itu tentang kesetaraan gender, bukan ninggi-ninggiin satu gender.

Dirty Vote akan menjangkau semua orang yang tertarik dengan pemilu, termasuk tetangga saya di Cikampek: gerombolan emak-emak yang kesehariannya mengasuh anak sambil bancakan atau sekadar rujakan di depan rumah

Keributan ayam berkokok bersahut-sahutan sudah mulai mereda. Semakin lama semakin berkurang. Hingga akhirnya terdengar satu saja yang masih lantang bersuara. Ayam-ayam pun mulai pergi mencari rezeki meninggalkan kandangnya. Abimanyu masih dalam kebimbangan karena hari ini akan menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) di kampusnya. Bukan karena dosennya yang killer, susahnya tugas dan materi UAS yang akan […]

Coblosan orang bukan urusan saya kecuali saya petugas survei atau KPPS.

Catatan dari "Diskusi dan Bedah Buku: Tuhan Tak Perlu Dibela" Gusdurian Purwakarta, 31 Januari 2024/

Bualan tukang obat itu memang sama dengan politisi. Bedanya, tukang obat membual untuk bertahan hidup, politisi bualannya merenggut hidup banyak orang. Tukang obat cari makan, politisi curi makan banyak orang.

Apa saya harus jadi Menteri Dalam Negeri dulu baru orang tuh percaya kalau kota yang namanya Saranjana tuh ada? Apa saya harus menjadi bagian dari lembaga negara dulu biar omongan saya valid dan layak dipertimbangkan?
