Bedug Robek Membuktikan Manusia memang Mudah sekali Berubah
Tadinya saya ingin menutup tulisan ini dengan pertanyaan singkat “Lucu, kan?” tapi jujur saya khawatir akan ada yang membaca tulisan saya sampai ke titik ini lalu tersinggung,
Kolom ini berisikan esai opini mengenai kejadian-kejadian terkini dan personal. Ditulis sesantai yang kami mampu, seserius yang kami bisa.
Harapannya, suatu hari nanti kita bisa melihat kembali bagaimana kita mencatat peristiwa-peristiwa yang telah lewat.
Tadinya saya ingin menutup tulisan ini dengan pertanyaan singkat “Lucu, kan?” tapi jujur saya khawatir akan ada yang membaca tulisan saya sampai ke titik ini lalu tersinggung,

Kalau ada lak-laki pesan matcha, biarkan saja. Tak perlu disuruh pesan americano agar kembali ke jalan maskulin.

Di era politik modern, kita sering melihat fenomena para pemimpin negara yang menggunakan simbol-simbol agama untuk mendekatkan diri dengan rakyat. Donald Trump adalah contohnya, sebab kita kali ini mau bahas Trump, bukan Cak Imin. Trump sering menyebut dirinya sendiri sebagai pembela orang Kristen. Pada satu kesempatan, ia pernah difoto sedang memegang Alkitab di depan gereja. […]

Kenapa mereka sangat bermental baja saat menerabas lampu lalu lintas? Bukankah lampu-lampu itu akan berubah warna secara bergantian?

Padahal tidak ada aturan bahwa umur dua puluh tahun harus sudah kaya, menikah, atau memiliki pekerjaan mapan.

Bersulung (berkah selalu untuk para pemulung)

Saya tahu bahwa yang paling diuntungkan dari semua kerja keras yang terpampang di sana bukanlah orang yang ada di balik kameranya.

Pada akhirnya, budaya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga sebagai pengingat bahwa kita harus menjaganya agar tetap hidup di masa depan.

"Semua orang capek, udah gak capek kalo udah di surga," begitu kata Aldi Taher ketika diwawancarai satu televisi nasional.

Aku menyadari bahwa hal itu seringkali membuat tubuhku tidak nyaman, tetapi tetap saja aku mencarinya lagi.
