Dear WNI, Memuji Itu Pilihan, Memaki Itu Kewajiban!
Menjadi rakyat rasanya seperti penonton lomba mewarnai anak TK
Kolom ini berisikan esai opini mengenai kejadian-kejadian terkini dan personal. Ditulis sesantai yang kami mampu, seserius yang kami bisa.
Harapannya, suatu hari nanti kita bisa melihat kembali bagaimana kita mencatat peristiwa-peristiwa yang telah lewat.
Menjadi rakyat rasanya seperti penonton lomba mewarnai anak TK

Kepada semua ikan, sapi, ayam, dan semua yang sudah dimakan dan menjadi energi saya sampai hari ini, saya berjanji akan melakukan hidup yang lebih bermakna dan lebih baik.

Keberadaan kalangan konservatif agama yang ekslusif, mereka berpandangan bahwa sains serta mengadopsi sains Eropa tidak diperlukan.

Maka tahanlah hawa nafsumu untuk sok asyik dengan temanmu itu!

Sejarah seperti diulang kembali pada bangsa Palestina. Sebelumnya Papua yang ditentukan nasibnya tanpa keberadaan orang Papua, sekarang seakan hanya berubah tempat, Palestina kini yang mau ditentukan nasibnya oleh bangsa-bangsa yang tidak tahu malu, sok asyik, dan itu adalah Indonesia.

Ada kejadian yang paling membekas di memori saya. Saat guru Kesenian memberi tugas menggambar Yesus. Itu jelas sekali perintahnya. Namun tak saya kerjakan dan saya putuskan bolos esok harinya.

Program ini akan memiliki dampak positif pada roda perekonomian daerah, setidaknya begitu kata orang-orang yang tidak pernah menginjak lumpur tambak sampai mata kaki untuk bertahan hidup.

Sebuah satire mengenai hipokritas seorang pemimpin, sebab yang ditulis George Orwell ternyata masih relevan terhadap kepemimpinan masa kini.

Gelar sarjana pendidikan itu terlalu berharga untuk disematkan secara prematur hanya demi memenuhi hasrat pamer yang dangkal.

Kupikir jalan Selokan Mataram, Seturan, dan simpang empat Condongcatur sudah menjadi “garis akhir” dari tingkat kepadatan lalu lintas. Ternyata tidak!
