Mengenang Saep, yang Meramaikan Khazanah Percopetan di Kota Bandung
Sebelum dikenal sebagai dosen copet di jalanan, pasar dan angkot Bandung, Saep hanyalah seorang pria biasa seperti kita-kita, Gibran tidak termasuk tentu saja.
Kolom ini berisikan esai opini mengenai kejadian-kejadian terkini dan personal. Ditulis sesantai yang kami mampu, seserius yang kami bisa.
Harapannya, suatu hari nanti kita bisa melihat kembali bagaimana kita mencatat peristiwa-peristiwa yang telah lewat.
Sebelum dikenal sebagai dosen copet di jalanan, pasar dan angkot Bandung, Saep hanyalah seorang pria biasa seperti kita-kita, Gibran tidak termasuk tentu saja.

Sebelumnya, saya tidak pernah memberikan CV kepada orang di luar kepentingan, lagipula serius tulisan disebut CV? Haha.

Bayangkan, misalnya saya berkata, “Saya bersyukur menjadi orang Sunda.”

Jika sebuah forum diskusi memilih satu tema diskusi tentu tidak berarti para narasumber, panitia, dan peserta hanya bekerja pada isu tersebut.

Apakah kalian pernah mendengar celetukan beberapa orang perihal pekerjaan yang dilakukan oleh orang bersuku Jawa?

Kamu suka nonton dracin? Kalau iya, tos dulu.

Makanya, perjuangan kuliah ini adalah pembuktian nyata kita sebagai anak untuk menunjukkan kalau seluruh pengorbanan, tetesan keringat, dan biaya yang sudah orang tua keluarkan selama ini gak bakal berakhir sia-sia.

Tóu xuán liáng yang berarti menggantung rambut di balok atap (anggaplah semacam kusen).

Astaga, manusia. Berhenti menyalahkan makhluk lain, ya!

Perlu saya luruskan, sekali lagi saya bukan bakul jamu yang menjanjikan khasiat bagi maba yang ingin bergabung ke ormawa.
