

Di tubuh mereka mengandung spanduk dengan tulisan besar “Bebaskan kami dari trauma”
Tetapi mereka lupa,
Trauma adalah pabrik satu-satunya yang memproduksi kortisol ganas di tubuh yang hampa tanpa teriakan
Ah lucu sekali sebuah ucapan sampai melalap semua peran darimu, lawak sekali kau menakuti sentuhan
Padahal barangkali
Mengandung cinta
Kau hanya perlu tau cara trauma bekerja
Tidak terbagi 2 shift
Tidak ada hari libur
Yang terpenting jangan mengindah reklamasi dilarang keras
Semua orang harus memiliki topeng Pun harus punya perban
Kemarin, trauma sudah bekerja di lini masa awal menginjak nama-nama kopi
Hari itu, trauma sudah bekerja lembur
Di hari-hari jadi
Saat kau menakuti sentuhan
Dan orang, menutupinya dengan perban mereka sendiri
Di bawah bantal, di bawah temaram, di kaki bumi menyelonjorkan diri
Hiduplah seorang bernama insomnia
Konon katanya ia selalu terpejam pada pukul 3 pagi
Menggenggam pisau, untuk mengiris masa lalu
Tak kunjung tidur
Cita-citanya ingin menjadi amnesia
Mimpi terbesarnya membangun jam tidur normal
Kurasa si kata mengumpat agar aku tidak lagi mengandalkannya dalam upaya jujur menebar hasrat pulang tak kunjung sampai
Kata yang sama mengulang-ulang bagai lagu favorit saat diputar sebelum naik kereta, tapi ulangan ini hanya berlaku untuk pulang namaku.
Kuyakini insomnia bosan berteman denganku dan menyerahkan sebogem gundah sebagai tebusan dosa
Tiada tempat untuk sekedar memejamkan mata dari bayangan lalu seperti rengekan anak kecil.
Bisikan samar menggodamu untuk turun ke bom dasar inti pulang yaitu… Apa
Sudah yuk matikan lampu dan tidur
Jika kau tidur lebih malam lagi akankah sengatan masa lalu semakin ganas?
Katanya malam adalah waktu terbaik untuk jujur, namun aku lebih memilih bohong saat ini.
Kebohongan yang mempan memperparah durasi terjaga.
Yang bila baik-baik saja dapat digeser oleh adanya penggeseran romantisasi lalu-lalu
Kami masih saling bertemu dengan sapaan yang maju mundur
Tetapi, selagi melihatnya baik-baik saja, kehidupan akan sama baiknya
Di sisi peron kereta aku tahu ia tengah kelelahan, jadi kusuguhi roti tawar yang sudah beda cerita.
“Kamu tau kan dari dulu aku selalu panik kalo kamu nggak makan malam?”
Kunyahan roti rasa hambar menyebar ke rongga-rongga aksi asing yang menjalar adanya tolak
“Aku sudah lebih dulu kenyang sama kenyataan, kenapa kita dijarak?” Ia pergi menaiki kereta yang sudah tiba
Bahkan sebelum pernyataanku melesat,
kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa
Asing asing asing
Pisah pisah pisah
Tuan asing, nyonya pisah, hamba asing
Menyembah pisah, berai berai berai berai
Aku juga sama laparnya.
Ah.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!