Cara Membuang Sampah

Cara Membuang Sampah

 

Kami terhubung lewat 

Budaya 

Pada lelaku dan berlalunya

Manusia.

 

Meski janji yang bisa saja

turun dari mulutmu

Kau maling muka membiarkan

Buih berserak itu.

 

Lalu sampai mana kita tahu

Cara-cara membuang sampah

    dengan

          benar?

 

2025

 

 

 

Risalah Plastik

 

Pekarangan belakang 

Rumahku menyembunyikan 

Rahasia dari bobrok kebocoran

Zaman modern. Di bawahnya,

Tanah hanya diam pasrah 

Menyaksi sejarah. Tetumbuhan 

Pun begitu.

 

Tumpuk sisa plastik menyapu 

Punggung tanah, matahari 

Mengirim suar redup 

Melewat berkas sebuah katup. 

 

Aku Memintakan suara dari 

Sebongkah tanah yang 

Diliput dera menuju penghabisan.

 

“Bagaimana kau berdiam tak cemas

Dirundung seperti ini berhari-hari?”

 

Tanah memberi isyarat dengan

Peta gelisah yang dibayarkan

Melalui sekeping hidup manusia

Jawaban itu membuat tercerai

Dan melupakan pertanyaanku.

 

2025

 

 

 

Berserak Slogan di Jalanan 

 

Serak slogan menebar kebisingan

Melumat sepenuhnya duniaku

Mataku setiap jengkal merangkak

Di jalanan aku menjalin pertanyaan;

 

“Ada apa dengan manusia,

Barangkali iman itu serupa pembuangan

Yang ditinggalkan dan lekas dibiarkan?”

 

Kelak slogan adalah jamak

Dipelihara dan seiring dikembangbiak

Tubuh bagian pohon itu akan indah

Bukan karena bunga dan buah

Tetapi pewartaan-larangan!

 

Serta tembok ini bakal liar

karena pancang-pancang banner

lantaran kelewat ketidakmengertian

 

Di desa maupun kota

Lambat-cepat akan sama sahaja

Menjumpa bentak-bentak tanpa suara

 

2025

 

 

 

Sebilang Nafsu

 

Dengan siapa makanan 

yang tersisa ini menghadap aduan? 

Juga plastik ini kekal menyambung 

abad dan generasi-generasi cucuku

 

Dari arah mana menyadari neraka 

kian datang bertamu dekat 

di pelupuk mata? 

Setelah kesucian itu tandas 

bersamaan lapar-lapar merajalela

 

Dari kebesaran makhluk bernama khalifah 

yang makin fakir. 

 

Siapa kini beradu dan saling melumat?

 

2025

 

 

 

Kemungkinan Berbahaya

 

Tubuhnya terhimpun di selasar

Jalanan. Di beberapa tempat ia

Pun (juga) memajang dengan

Diiringi kawanan serangga 

Yang tengah berpesta 

 

Ia menjari dalam kelelapan

Masa. Tentang peradaban

Yang menahu tentang

Hari ini, bukan esok dan masa

 

Mendatang. Tubuhnya bukan

Kejutan. Matanya melolong,

Dalam penglihatannya adalah 

Satu kemungkinan

Yang cukup berbahaya.

 

2025

 

 

 

Rumah Kecil Kami

 

Tanah tempat lahirku kini telah

Berubah. Diganti pagar-pagar besi

Cerobong-cerobong itu akan

Menyiramkan asap pada biru langit ini,

Membakarnya dan menjangkit ke pori

 

Kulit kami. Sukacita kini kerdil digenggam

Segelintir manusia yang berkuasa

Suara lirih dan kecil dilenyap-dibungkam

Demi kertas kosong dan menurut mereka

Nilainya surga dan kenikmatannya

 

Lantas anak-anak desa dianggap seperti 

Investasi. untuk dapat layak dipekerjakan kelak

Cita dan pandangan seakan dibentuk seragam

 

Pendidikan sekolah berebut untung

Memakai kesempatan yang dianggapnya

Beruntung. Sampai mencetak generasi industri,

Sebagai seorang buruh pabrik. 

Memuja-muja kaki pemodal bak Tuhan

Akan menyelamatkan manusia dari ajal.

 

Ah… tunggu saja waktu

Rumah kecil ini menyimak lautan

Debu dan bersimpuh pada

Akrab mimpi kematian.

 

2023

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!