Tingkat kebahagiaan orang melenial sebenarnya sederhana. Bisa dilihat dari aplikasi Whatsapp. Chat siapa yang ada di posisi paling atas. Bila nama orang (chat pribadi) maka besar kemungkinan dia adalah orang bahagia karena masih ada yang mau berkomunikasi dengannya, tinggal dilihat tuh yang di atas nama cewek apa cowok. Tapi bila yang paling atas adalah chat grup, aduh, udah deh, kayaknya percuma lu beli kuota internet. Paling-paling cuma buat main game, itu pun mungkin main Hago.

Tapi akan lain cerita bila yang paling atas adalah nama ibu atau ayah. Orang seperti itu perlu diwawancara ulang. Dia ngechat karena kangen atau karena yaa semacam laporan ekonomi gitu.

Tak bisa dipungkiri, budaya pemuda era kini sudah layaknya propaganda romantisme hubungan cinta-cintaan. Ke mana-mana kita akan berjalan, selalu akan ditemui orang sedang bermesraan. Apalagi momen akhir pekan yang bikin geleng-geleng kepala karena selain macet, peserta macetnya semua pada bawa pasangan. Alih-alih noleh lampu merah, noleh bangku belakang aja gak kuat, kok kosong gak ada boncengan yaa. Hikss.

Belum lagi lihat status kawan-kawan yang suka pamer foto sama anak orang. Waduh, jadi penonton pasif yang cuma bisa ngiler aja nih ceritanya. Karena gak mau kalah akhirnya coba-coba buat status alay pake kata-kata (karena gak ada foto berduaan, hikss). Buat status yang paling tidak tulisannya begini: “Hufft, gabut pengen keluar tapi gak ada yang ngajak.” Berharap ada yang peka dan perhatian sehingga akan dapat chat pribadi tapi yang didapat malah hujatan tuan-puan netijen. Dengan kalimat sederhana tapi serasa sakit di dalam, dibacanya komentar dari seorang kawan yang berbunyi: “Dasar jomblo.”

Savage!!!

Udah-udah jangan diterusin, nyerah aja deh, terima kenyataan daripada hina dibilangin nub, bocah, bacot, dan lain-lain. Mending kita mikirin mau digunakan untuk apa tuh smart phone kalau sudah gak ada yang ngechat kecuali grup. Jika terus berpikir agar bagaimana dapet chat dari lawan jenis mending jadi artis aja sono.

Ok, mari kita mulai dengan sebenarnya smart phone nih buat apa kok kayaknya cuma bikin sakit hati dan iri aja ya? Gak ada chat dibilang sepi, trus kalo rame malah dibilang “Apaan sih, nih orang-orang gak ada kerjaan.” Giliran grup tenang lalu ada video call dari kawan pengen nanyain kabar eh malah dibacotin “Ah, sama lakinya aja kok video call-an.” Gak ada benernya.

Ok, kita fokus tak usah toleh kanan kiri, tak usah mikirin hujatan dan postingan orang-orang. Kita pikirin agar bagaimana nih hape yang dibeliin orang tua bisa lebih berguna meski tak ada chat so sweet so sweetnya, huhu.

Pertama, yang bisa dilakukan bila tidak ada chat romantis yang hadir cobalah bermain game. Cari game yang asyik buat kamu lebih-lebih bisa melatih hubungan heteroseksual kita dengan orang lain seperti layaknya game Hago. Untung-untung dapet lawan lain jenis dan cocok. Eheem, kan bisa diterusin via Whatsapp broo. “Asli mana mbak?”, “Namanya siapa?”, Akun Instagramnya apa?”, dan lain-lain yang akan dengan spontan kita tanyakan.

Ke dua, cobalah berdagang online. Tak perlu buat akun Lazada, Buka Lapak, atau Apapun itu. Cukup manfaatkan platform status pada masih-masing sosial media. Misal di status Whatsapp. Tinggal foto barang dan kasik caption-caption menarik ala-ala kekinian. “Monggo, barang menarik bikin orang lain tertarik,” “murah meriah,” “siap antar-area sekitar.” Begitulah contoh captionnya, tinggal diolah dengan kreativitas masing-masing. Dengan begitu bila ada orang yang tertarik pada barangmu kan pasti ngechat tuh orang. Untung-untung yang ngechat lawan jenih, lebih untung lagi bukan cuma tertarik sama barangnya tapi juga orangnya. Kan dapet pelanggan sekaligus anu, iya itu apa namanya dah. Eaaa, ngayal yaaak.

Ke tiga, baca-baca artikel di internet. Tuh kuota bukan cuma buat chatingan aja ya bro & sist. Bukan cuma buat main Hago ya. Lebih dari itu, ada hal yang lebih substansial. Eaa, bahasanya gaul banget bang. Ya memang begitu seharusnya. Daripada meratapi nasib dalam pusaran arus propaganda romantisme-romantisme receh itu mending cari hal-hal menarik di internet. Masih banyak yang lebih menarik daripada ngayal sambil melototin dia yang sudah punya orang. Haduh kok jadi keinget masa lalu gitu ya. Eh, hush hush fokus, fokus. Misal nih, ada tugas resume mata kuliah kan ya bisa shearching tipis-tipis gitu di google, perkara mau copy paste ya urusan pribadi lu orang. Jika tanggungan kuliah dah kelar kan bisa tenang tuh hidup. Sisanya ya cari bacaan-bacaan menarik lain entah itu esai atau berita-berita online. Eits, tapi hati-hati hoax ya.

Masih banyak hal lain yang bisa didapat dari smartphone canggih milik lu orang. Daripada mahal-mahal minta beli hape tapi ujungnya cuma buat chating dan stalking anak orang yang malah (naudzubillah) ujung-ujungnya sakit hati mending beli hape untuk urusan lain aja deh ya sist & bro. Tak usah sakit hati dengan ujaran “Hape bagus, chatingan mentok ama sesama jenis. Ramenya paling-paling juga grup.” Ah, itu lagu lama kawan, tinggal bilang saja “Ada yang lebih substansial dan esensial dari nih hape coy,” yaa sambil sok kalem dan tegar gitu meski kenyatannya ngenes di hati. Aduh-aduh kok kasihan ya.

Tapi bener deh, media sosial tuh bisa menyempitkan pikiran dan relasi kita kalau gak betul-betul bijak memakainya. Ya namanya aja yang media sosial, harusnya sih mafia sosial tuh. Yang semestinya mempermudah komunikasi sosial eh malah buat kita mementingkan yang sekunder daripada yang primer. Yang dekat aja belum segitu akrab eh malah cari komunikasi yang jauh, apa kalo bukan mafia sosial tuh namanya!? Selain itu, kita jadi mengaitkan kualitas smartphone orang dengan kualitas media sosial. Dengan siapa chatingan, postingannya sama siapa, berapa followernya, dan indikator-indikator yang sebenarnya bisa dimanipulasi. Hape ya hape, chatingan ya chatingan ya chatingan. Gak ada hubungannya merek sama berapa follower dan siapa aja yang dichating.

Pada akhirnya, bukan persoalan mau diapain nih hape kalo chatingannya cuma grup. Bukan persoalan nih hape apa kuburan kok sepi yaa. Bukan, bukan itu. Tapi apapun statusmu (tanpa harus berpihak pada pacaran haram atau tidak) manfaatkan dengan positif apa yang sudah ada di tangan kita. Perkara hapenya orang ramai dengan chat pribadi apalagi sama lawan jenis, nih hape apa pasar, ya biarin mereka mungkin lebih lucky. Tapi hujan air di negara sendiri lebih baik daripada hujan emas di negara orang kan. Iya betul, berpikir positif sejak sebelum beli hape ya. Biar tuh hape tidak jadi alat ratapan nasib semata.

Ok, selanjutnya, saya serahkan pada Anda mau Anda apain tuh smartphone.

 

 

Profil Penulis

Ozik Ole-olang
Ozik Ole-olang
Lahir di Lamongan, 21 Desember 1998. Penulis adalah mahasiswa rantau asal Madura. Kerap menulis di sejumlah web. Sekarang sedang mukim di kota Malang