Can This Love be Translated?: Hubungan Tarik Ulur itu Tidak Sederhana

Can This Love be Translated  adalah serial Netflix dengan kisah cinta yang mempertemukan seorang aktris terkenal dengan seorang penerjemah biasa-biasa saja.

Ceritanya, Cha Mu-hee (diperankan oleh Go Youn-jung) datang ke Jepang karena ingin meminta penjelasan dari seseorang yang mengkhianatinya. Namun, kemampuan bahasa Jepangnya cuma sebatas arigatou saja. Singkat cerita ia tak sengaja bertemu dengan Joo Ho-jin (diperankan oleh The One and Only Kim Seun-ho).  Dari sana Mu-hee pun dibantu menyampaikan perasaannya.

Lalu sebagaimana pada umumnya kisah cinta drakor, keduanya mulai dekat dan saling berbagi kisah personal yang pahit. Mu-hee terbuka tentang rasa sakit dikhianati, sementara Ho-jin berbagi tentang cinta tak berbalas (ufff … sungguh khas Pak Kim Seun-Ho).

Kesamaan nasib sebagai dua jiwa “gagal” dalam cinta inilah yang akhirnya menghubungkan keduanya. Namun, hubungan mereka rupanya tidak mulus. Di satu waktu Mu-Hee mendekat dan memberikan sinyal, kemudian ia ragu dan malah menjauh seketika.

Begitu pun Hoo-jin yang tadinya mengira sedang mendapat sinyal “jalan terus”, namun mendapati reaksi Mu-hee seperti itu, ia pun jadi meragu dan mundur. Jadi takut salah melangkah dan berpikir sedang ditolak. Begitu pula sebaliknya dan terus berulang-ulang.

Singkatnya, ini kisah cinta tarik-ulur yang memakan 12 episode, dengan durasi 1 jam per-episodenya.

Baik, sampai sini saya tidak bermaksud mengulas serial dan jalan ceritanya, melainkan mengambil pelajara tentang cinta tarik-ulur, yang rupanya bukanlah perkara yang lucu-lucuan kiyowo atau semacamnya. Hubungan tarik ulur seringkali berdasarkan latar psikologis yang lebih serius.

Mari kita eksplorasi lebih jauh lagi!

 

Dampak Luka Pengabaian dan Hilangnya Rasa Aman saat Belia

Ketika kecil Mu-hee menyaksikan ibunya melakukan percobaan pembunuhan terhadap diri dan ayahnya. Insiden ini menyisakan banyak luka.  Tak cukup sampai situ, Mu-hee kecil kemudian diasuh oleh keluarga lain dari ayahnya, yang sebenarnya tak menyukai Mu-hee.

Bayangkan gimana rasanya hampir dibunuh oleh sosok ibu, dan tumbuh besar dengan orang-orang yang gak suka dengan kita?

Ingatan semasa kecil inilah yang Mu Hee pendam sampai ia dewasa. Luka itu tak berhenti meski waktu berlalu lama. Hal itu juga mempengaruhi dalam relasi romantis yang Mu Hee jalani.

Sementara, Cha Mu-hee sendiri bukan tak mau didekati, melainkan takut jika cintanya terlampau dalam, sementara ia merasa tak layak dicintai. Jadi saat ada orang yang datang dengan niat baik, ia malah ragu. Katanya, “Semakin tinggi rasa sukaku, aku bisa jatuh semakin dalam. Jadi, aku takut.”

Mengapa Mu Hee begitu? Apakah dia murni cewek pick-me?

Tentu tidak. Itulah wujud dari luka yang belum usai. Sehingga merasa alergi dengan kelekatan atau attachment. Kamus Merriam-Webster menyebut, kelekatan ialah ikatan emosional yang kuat. Misalnya antara bayi dan pengasuhnya, yang dapat terlihat sebagai dasar emosi normal serta membantu perkembangan emosional seorang anak di kemudian hari.

Dalam kasus Cha Mu-hee, ia pun hanya tahu versi kelekatan dari sang ibu yang menyakiti ayahnya serta membuang dirinya. Sehingga Mu-hee tumbuh besar dan nggak bisa mengekspresikan kebutuhan terdalamnya secara terbuka. Pikirannya selalu menciptakan cara untuk melindungi diri, dengan membangun jarak emosional dari orang lain.

Sebab itu lah, meski di satu sisi ia sebenarnya ingin seseorang mendekat, tapi giliran orang tersebut mulai menunjukkan ketertarikannya, ia malah menarik diri sebab ketakutan. Sehingga yang terjadi ialah, selalu muncul perasaan takut menyakiti, takut ditinggalkan, takut merasa bahagia, merasa tak pantas. Pendeknya ia merasa kacau dan tak layak bagi Joo Hoo Jin.

Hoo-jin si Avoidant yang Belajar Menghadapi Kerentanan

Menariknya (dalam konteks cerita ini) Joo Hoo-jin juga bukanlah sosok sempurna. Ia juga punya konflik dengan ibunya selama bertahun-tahun, tapi memilih menghindar dari pada menghadapinya.

Nah, ini mungkin berpengaruh terhadap bagaimana dia menjalani relasi romantis, khususnya dengan Cha Mu-hee. Ia jadi sering tak peka, ragu, dan overthinking, yang membuat dia akhirnya saling nggak sepaham dengan Mu-hee. Sampai akhirnya, ia bertemu dengan ibunya dan mau menghadapi konflik tersebut, yang membuat keduanya berdamai.

Ada scene yang menarik antara Joo Hoo Jin dengan profesor yang bilang: “Jumlah bahasa sama dengan manusia di dunia ini. Setiap orang memiliki bahasanya sendiri. Jadi mereka tidak saling memahami, salah paham dan saling menyakiti”.

Ini sekaligu peringatan bahwa setiap orang memiliki bahasanya masing-masing terutama jika itu menyangkut cinta. Perbedaan ini dikarenakan masing-masing kita terbentuk oleh pengalaman hidup, lingkungan, serta luka yang berbeda. Akhirnya Hoo-jin mengerti bahwa relasi sehat memang butuh kesabaran ekstra untuk saling memahami kamus luka masing-masing.

Kadang Lebih Baik Pisah daripada Bersama tapi Kesulitan 

Satu momen paling brilian sekaligus menyentuh saat Joo Hoo-jin menyatakan cintanya pada Cha Mu-hee dengan kalimat yang tidak biasa.

“Tidak ada akhir bahagia bagi kita, karena kita pasti akan putus. Cinta abadi, masa depan bahagia, aku takkan menjanjikan itu, sebab kau tak akan percaya. Sekarang tak perlu takut dan lari duluan, toh kita akan putus,” ucapnya.

Kalimat itu mungkin terdengar pesimis. Tapi bagi jiwa yang ketakutan seperti Mu-hee, ini terasa membebaskan dan meringankan beban Mu-hee. Sebab kalau itu janji tentang cinta selamanya, pasti akan terdengar seperti tuntutan, beban batin, atau terdengar seperti janji Prabowo.

Keputusan Cha Mu-hee menjelang ending untuk berpisah sementara demi menyembuhkan dirinya sendiri adalah sebuah langkah yang sangat dewasa. Ia menunjukkan bahwa dirinya sudah bertumbuh dan menyadari bahwa cinta dari pasangan itu bukan satu-satunya cara untuk menyembuhkan diri dan saya yakin penyembuhan merupakan tanggung jawab sendiri. Maka pilihan Mu-hee menghadapi luka lamanya, sehingga mesti putus dulu, penting agar ia menjadi seseorang yang lebih baik.

Begitu pula Joo Hoo-jin yang memberi ruang bagi Cha Mu-hee untuk meluangkan waktu bagi dirinya. Ia tak merasa kehilangan karena membiarkan Mu-hee pergi, tapi justru itu juga momen bertumbuh baginya sendiri.

Drama ini buat saya memberikan dua pelajaran penting …

Bahwa hubungan yang sehat, jelas harus diusahakan oleh dua belah pihak. Seperti Hoo-jin yang mau berbesar hati melepaskan, dan Mu-hee yang secara terbuka mengakui kebutuhannya untuk menyelesaikan luka masa lalunya lebih dulu. Gak bisa yang satu berjuang, dan yang lain berlagak pick-me.

Dan yang paling penting, bahwa hubungan tarik-ulur itu bukan sekedar kiyowo-kiyowo-an. Bisa jadi ada persoalan yang tidak selesai di antara keduanya. Jika hal semacam ini tidak segera dikenali, kemudian diatasi, hubungan seperti itu bisa ngabisin banyak waktu dan energi. Punya pasangan tuh rasanya bukan happy, tapi malah capeeeek aja yang ada.

Author

  • Arini Zazky

    Pengajar yang hobinya nulis, nonton dan baca buku di sela-sela kesibukannya. Kalau ingin terhubung bisa langsung ke Instagram @disharerin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | jojobet | hiltonbet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | deneme | jojobet giriş | Report Phishing | pusulabet | pusulabet | pusulabet | hiltonbet | grandpashabet giriş | grandpashabet güncel giriş | grandpashabet adres |