Lanjutan dari:
Bag 1.Yang Belum Dibahas dari Bunuh Diri
Bag 2.Pikiran Bunuh Diri dan Kesadaran Filosofis
Bag 3.Simplifikasi Pikiran Bunuh Diri

Seorang pemuda meninggal bunuh diri setelah melompat dari atap sebuah pusat perbelanjaan. Video yang merekam detik-detik terakhir hidupnya beredar di internet. Ada juga bahkan video-video yang menayangkan saat-saat ketika tubuh si pemuda melayang jatuh.

Peristiwa ini tentu saja tidak layak dijadikan tontonan. Kalaupun memang publik dinilai perlu mengetahui peristiwa ini, detik-detik meninggalnya korban tentu tidak perlu ditayangkan, bahkan tidak boleh ditayangkan. Mestilah masih ada banyak visualisasi alternatif yang bisa menggantikannya, yang fokusnya adalah pada masalah sistemik di balik peristiwa ini ketimbang detik-detik di mana korban mengakhiri hidupnya. Pembahasan mengenai peristiwa ini sendiri haruslah seputar bagaimana kita memahami fenomena bunuh diri alih-alih mencari sensasi atau bahkan keuntungan finansial.

Sayangnya, kenyataan di lapangan tidak seideal itu. Sebagaimana diberitakan The Jakarta Post (tautan), kebanyakan orang yang menyaksikan peristiwa ini lebih memilih merekamnya dengan ponsel pintar mereka ketimbang menolong si pemuda; bahkan di antara yang merekam itu ada yang tersenyum-senyum dan tertawa-tawa, dan ada juga yang justru mendorong si pemuda untuk segera melompat. Yang terakhir ini perlu diberi perhatian khusus. Bisa jadi, orang-orang seperti mereka berpikir bahwa bunuh diri yang dilakukan si pemuda justru adalah sesuatu yang akan sangat menguntungkan mereka.

Katakanlah memang begitu mereka melihat peristiwa bunuh diri: sebuah aset; sesuatu yang bisa mereka pertukarkan dengan sesuatu lain yang mereka inginkan—popularitas, uang, dan yang semacamnya. Ini tentu sebuah kekeliruan. Dan di sini kita dihadapkan pada dua masalah yang saling berkelindan, yakni soal (1) kenapa mereka bisa sampai berpikir seperti itu dan (2) kenapa pada praktiknya di lapangan pertukaran yang mereka inginkan itu sangat mungkin terjadi.

Bunuh Diri, Kapitalisme, dan Batas-batas yang Tak Boleh Dilampaui

Untuk masalah pertama, jawabannya kiranya jelas: karena mereka berpikir sebagai seorang kapitalis akut. Sebab mereka hidup dalam kapitalisme dan sepenuhnya menerima sistem ini sebagai sesuatu yang ada dari sananya, mereka cenderung melihat segala sesuatu yang ada di sekitar mereka sebagai aset, sebagai sesuatu yang bisa dipertukarkan dengan uang, atau dengan sesuatu lainnya yang bisa dipertukarkan dengan uang. Ini adalah sesuatu yang wajar saja bagi mereka, sebab pada dasarnya mereka meyakini bahwa tujuan manusia hidup adalah memanfaatkan apa yang ada untuk menghasilkan produk demi memperoleh keuntungan finansial, sebesar-besarnya.

Sekilas terdengar masuk akal, tetapi celahnya sesungguhnya sangat lebar. Memang saat ini kita masih hidup di dalam kekangan kapitalisme dan mau tidak mau kita harus menghasilkan produk untuk bisa bertahan hidup, tetapi sebagai manusia kita mestinya menyadari betul bahwa ada batas-batas yang tak boleh kita lampaui. Dan batas inilah yang dilampaui pada kasus orang-orang itu. Peristiwa bunuh diri, seberapa pun potensialnya ia dalam menarik perhatian publik, tidak boleh diposisikan sebagai aset. Paling jauh ia boleh diposisikan adalah sebagai bahan penelitian atau topik pembicaraan, itu pun diarahkan untuk membuat kita lebih memahami fenomena bunuh diri, bukannya mencari sensasi dan popularitas—apalagi keuntungan finansial.

Terkait hal ini ada baiknya kita ingat apa yang pernah dikemukakan Sofa Gradin dalam kuliahnya untuk TEDx (tautan). Menurut Gradin, kapitalisme lebih ke sebuah komunitas ketimbang sebuah sistem, sedangkan komunitas sendiri didefinisikannya sebagai sekelompok orang yang berbagi keyakinan dan perilaku yang sama. Dan yang dimaksud dengan keyakinan di sini adalah keyakinan akan sifat dasar manusia, sesuatu yang terlahir dari asumsi dan bukan sains. Dan salah satu dari tiga sifat dasar manusia yang diyakini orang-orang yang berada dalam komunitas ekonomi kapitalis adalah bahwa manusia hidup untuk mencari keuntungan finansial, sebesar-besarnya.

Oleh Gradin, asumsi tersebut dibantah. Ia menjelaskan bahwa di kehidupan sehari-hari kita banyak mendapati orang-orang yang melakukan sesuatu bukan untuk memperoleh keuntungan finansial, seperti menjadi sukarelawan atau berbagi makanan dengan teman. Ini menunjukkan bahwa bagi kita uang bukan segala-galanya; sewaktu-waktu ada hal-hal yang jauh lebih penting dari uang, yang bahkan membuat kita rela menghabiskan uang kita untuk sesuatu itu. Dalam hal ini saya kira Gradin juga bicara soal batas. Kita berbagi makanan dengan teman karena kita tahu memintanya membayar adalah sesuatu yang melampaui batas. Kita pun tahu kita sewaktu-waktu menjadi sukarelawan karena jika kita tidak melakukannya maka kita akan melampaui batas kita sebagai manusia, yakni menjadi sosok yang melihat segala sesuatunya sebagai aset belaka.

Dan persis di situlah masalah orang-orang tadi itu. Bahwa mereka memosisikan peristiwa bunuh diri sebagai aset menunjukkan telah terlampauinya batas itu. Bisa juga dikatakan bahwa mereka telah sangat teracuni oleh asumsi yang keliru atas sifat dasar manusia tadi. Dan sialnya, sangat mungkin mereka sama sekali tak menyadari hal ini.

Bunuh Diri, Algoritma Pasar, dan Kewarasan Kita

Adapun soal masalah kedua, itu erat kaitannya dengan bagaimana pasar bekerja. Orang-orang yang menayangkan dan menyebarkan video-video rekaman peristiwa bunuh diri si pemuda tadi tentulah menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu akan mendapat sambutan yang “baik” dari publik di internet; mereka sadar betul bahwa publik mudah sekali ditarik perhatiannya oleh sesuatu semacam itu. Dan mereka pun tahu: internet menyediakan ruang-ruang yang akan dengan senang hati memfasilitasi mereka.

Ambil contoh YouTube. Hingga hari ini (24/2), dua hari setelah peristiwa bunuh diri si pemuda, video-video yang menayangkan peristiwa tersebut telah ditonton puluhan ribu kali. Dan sangat mudah untuk mengaksesnya, begitu juga menyebarkannya untuk membuatnya lebih viral lagi. Fasilitas ini adalah sesuatu yang dimanfaatkan oleh orang-orang tadi, mereka yang melihat peristiwa bunuh diri sebagai aset.

Di sini, salah satu masalahnya ada pada algoritma yang bekerja di internet, terutama terkait bagaimana informasi tersebar. Seperti pernah dikemukakan sejarawan Yuval Noah Harari di markas Google di California, Amerika Serikat (tautan), dua hal yang diutamakan dalam algoritma terkait penyebaran informasi di internet adalah antusiasme (excitement) dan perhatian (attention) publik; dengan ini informasi-informasi kontroversial yang menghebohkan difasilitasi untuk berada di garis depan dan berpeluang diakses lebih dulu oleh publik, dan dengan sangat murah—bahkan gratis. Lain halnya dengan informasi-informasi yang mengutamakan kualitas dan kebenaran. Selain tertutup oleh informasi-informasi kontroversial dan menghebohkan tadi, untuk mengaksesnya pun seringkali tidak mudah; harganya bisa mahal atau benar-benar eksklusif—hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu saja. Dan publik internet, setidaknya sampai saat ini, seperti dibiarkan—bahkan dibiasakan—untuk senantiasa berada dalam dalam situasi tersebut.

Tentu saja orang-orang yang menayangkan dan menyebarkan video-video rekaman peristiwa bunuh diri si pemuda itu patut disalahkan atas apa yang mereka lakukan ini. Tetapi bukan hanya kepada mereka kesalahan harus kita limpahkan; kesalahan harus juga kita limpahkan kepada pihak-pihak yang menyediakan ruang-ruang untuk penayangan dan penyebarannya. YouTube, misalnya, mestinya menggunakan algoritma yang lebih selektif, yang tidak mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Ada memang fitur penyaring yang membuat publik dihadapkan lebih dulu pada semacam peringatan atas apa yang akan ditontonnya, tetapi fitur ini jadi tidak berguna sebab publik bisa melewati “adangan” ini dengan mudah. Atau kalaupun YouTube memang tidak bisa mencegah video-video semacam itu ditayangkan, setidaknya mereka bisa membuat video-video tersebut tidak mudah disebarkan dan disukai (baca: diberi like); proses-prosesnya bisa dibuat sangat rumit dan menjengkelkan. Intinya, orang-orang itu harus dibuat mengerti bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak akan memberi mereka keuntungan finansial, dan tak akan meningkatkan popularitas mereka secara signifikan; setidaknya tidak dengan begitu mudahnya.

Dan tentang hal ini saya kira wajar saja jika kita mengeluhkannya. Dua tahun lalu, ada peristiwa bunuh diri serupa di mana dua orang perempuan meninggal dunia setelah melompat dari balkon sebuah kamar apartemen, dan YouTube menjadi salah satu ruang di mana video-video rekaman peristiwa ini tayang dan tersebar, dengan mudah dan cuma-cuma. Dan bahkan sampai saat ini video-video tersebut masih ada, masih bisa diakses dan disebarkan, lagi-lagi dengan mudah dan cuma-cuma.

Namun tentunya perhatian pun harus kita berikan kepada diri kita sendiri; jangan sampai kita ikut menyebarkan—bahkan menayangkan—video-video tersebut hanya karena fasilitas untuk melakukannya ada, hanya karena kita tahu bahwa dengan melakukannya kita mungkin bisa memperoleh popularitas sesaat dan bahkan keuntungan finansial. Ini seperti kita dihadapkan pada situasi di mana kita bisa menyiksa seseorang di hadapan kita dan kita punya pilihan antara melakukannya atau tak melakukannya. Sebagai orang-orang yang dibekali akal sehat, pilihan kita tentu saja adalah tak melakukannya; bahkan sebisa mungkin kita mengajak orang-orang lain untuk tak melakukannya.

Di titik ini, barangkali ada baiknya kita simak komentar salah satu pembaca terhadap berita terkait bunuh diri si pemuda yang ditayangkan The Jakarta Post tadi, yang dibubuhkannya di kolom komentar di halaman tersebut: Sick people trying to get a moment of fame with a viral video of someone falling to his death. What makes it worse is that they wanted him to jump. Disgusting! Apa yang dikatakannya ini benar. Dan kita yang masih waras ini tentu tidak ingin menjadi si orang menjijikkan yang dimaksudkannya di sana.(*)

—Bogor, 24 Februari 2019Y