Bun, Liverpool Belum Habis!

  • ESAI

Petaka yang datang dari kaki-kaki kijang pemain Manchester City, dua kali blunder fatal Allison Becker, dan kebuntuan trio Firmansah ( Firmino, Mane, Salah) sempurna merusak tidur Liverpudlian setanah air.

Bagaimana kita menyimpulkan pertandingan pada 7 Februari yang membosankan itu? 45 menit pertama bergulir dengan anak asuh Klopp bermain hati-hati. Sementara lini tengah City mulai marangsek pertahanan musuh dengan through pass Gundogan mengarah Mahrez yang mengekspos lambat kompaknya Curtis John dan Robertson, serangan balik Liverpool lewat crossing dari duo Fullback selalu terbentur postur julang Ruben Diaz dan Stones.

Di babak kedua. Bukannya terpacu oleh erornya eksekusi penalti Gundogan beberapa menit jelang babak pertama rampung. Allison macam anak SSB yang pertama kali tarung. Lupakan jam terbang tinggi yang menyulapnya jadi sekukuh tembok. Kesampingkan dulu penghargaan kiper terbaik seeropa yang ia sandang. Di menit 70-an Allison yang dapat backpass seperti grogi menghadapi pressing dari penyerang City terdekat. Opsinya mengumpan terbatas. Fabinho yang lantas menerima bola, membuangnya hanya untuk disambar Zinchenko. Ketika itu kepungan lima pemain City berhadap-hadapan dengan Wijnaldum, Hendo yang membayang-bayangi, dan Fabinho sebagai palang akhir sebelum kiper. Kesalahan Allison selanjutnya dihukum oleh drive Foden ke area penalti untuk melayani Ilkay Gundogan yang datang mencipta brace. Keunggulan 2-1 untuk tamu usai permainan Foden, olah bola Sterling yang mengecoh Arnold di sisi kiri, dan positioning Gundogan mampu bawa City menceploskan gol lebih dulu.

Kombinasi Bernardo Silva dan Sterling dalam memanfaatkan blunder kedua Allison juga boom kaki kiri Foden seperti mengubur kans gelar EPL kedua Liverpool. Skor akhir 1-4 untuk menangnya City. Fans yang hanya menonton dari TV sejak Covid-19 boleh bertanya “ada apa gerangan sih Ipul?”, sebab istana Anfield mulai doyong. The Reds hanya menghasilkan sebiji gol sejak pergantian tahun. Lawan-lawan peringkat bawah, seperti Brighton, Burnley, dan West Brom leluasa merampok poin. Lenyapnya magis Liverpool kian mencolok saat trisula mautnya lagi-lagi habis inisiatif untuk bongkar lini defensif City.

He might have had cold feet seloroh Klopp untuk Allison yang under perform. Klopp memang bijak untuk maklum atas kesalahan kiper. Tetapi starting line up yang jauh dari kata adaptif, tetap berperan atas kalahnya tim.

Liverpool menurunkan Hendo dan Fabinho sebagai bek tengah. Mereka yang sejatinya bermain sebagai Central dan Defendsive Midfielder mengemban tugas milik tiga pemain cedera yaitu; Joe Gomez, Van Dijk, dan Matip.  Padahal Arnold butuh kenyamanan untuk naik setinggi mungkin di sektor sayap untuk selanjutnya kirim umpan lambung kepada penyerang. Ketika pos bek ia tinggal, Hendersonlah yang bertugas mengover tugas bertahan. Skema tersebut tak berfungsi karena Klopp memilih mencadangkan dua pemain barunya, Ozan Kabak dan Ben Davies. Bek tengah yang diamankan di detik-detik akhir bursa transfer Januari.

Baca juga  Bagi Perempuan Kata "Perjuangan" Bermakna Lebih Berat dari Umumnya

Melawan skema ofensif Pep, Klopp secara naif malah memfungsikan Hendo dan Fabinho di belakang. Selagi aksi drible Fabinho di tengah tim butuhkan untuk membuka ruang secara vertikal. Begitupun dengan Hendo yang paham bermain maju, punya atribut untuk holding ball sebelum mengirim umpan visioner kepada lini depan yang sigap menggempur musuh.

Mestinya Klopp mulai memakai Ben Davies dan Kabak. Sebab menurut Opta (situs yang berisi statistik pemain sepak bola) persentase keduanya dalam melakukan umpan lambung per90 menit di musim lalu, bersama Preston North End dan Schalke terbilang tinggi. Sementara Kabak mengantungi angka 8, 8 Davies menyaingi perolehan angka bek tengah Liverpool yang cedera dengan 12, 1. Sedang berturut-turut Matip, Joe Gomez dan Van Dijk peroleh angka 8, 9,6, dan 9, 9 meski tingkat akurasi mereka lebih unggul.

Angka-angka tadi seharusnya bisa ditimbang oleh Klopp dalam memaksimalkan kinerja bek anyar ketimbang berjudi untuk menghapus peran asli kedua gelandangnya, sebab umpan lambung dari belakang sangat dibutuhkan tuk meloloskan diri dari pressing ketat pemain City yang bertumpuk di area bertahan Liverpool. Ibarat buang-buang bola sifatnya opsional dibanding merelakan timnya tertekan sampai-sampai Allison kena sial.

Blunder Allison mengingatkan sebagian orang akan aksi Karius di final Champions League 2017/2018. Para haters bermain meme dengan menempel muka Allison di kepala Karius, menunjukkan betapa keduanya sama apes. Tapi bagi saya, mengenang Karius untuk kesekian kali hanya menambah sesak. Mengingat laga final itu seperti menonton lagi kebodohan UEFA yang jelas-jelas menyilakan Ramos, seorang petarung Octagon UFC, menyabet gelar ketiga belas Madrid di Liga Champions.

Sementara haters puas meledek Liverpool tanpa menonton pertandingan pada 7 Februari itu, persis laga- laga dari klub jagoan yang sengaja mereka lewatkan karena toh selain nyinyir, mereka tidak tertarik sepak bola. Penggemar sejati Liverpool menganalisis tontonan kacau itu sembari geleng-geleng kepala.

Baca juga  Kenapa sih Sex Education Terus Ditabuin?

Misalnya Ari Kebul. Tetangga saya yang hobi vaping itu seringkali bangun di jam tahajud. Strateginya untuk mengatasi kantuk yang menyelinap di menit-menit permainan Liverpool adalah tidur setelah isya, menyetel alarm, meski kadang ia baru bangun di babak kedua.

Pagi itu, sambil curhat ngenes di Whatsapp tak sengaja Ari Kebul menyingkap ketoledaran Juergen Klopp; Waktu lawan West Ham juga yang dimainin cuman Salah, tapi terbukti unggul duluan sebelum masukin Firmino, katanya.

Teman saya lainnya. Udin Bako yang hobi ngelinting tembakau sampai buka toko dalam rangka menyaingi hegemoni Vape Store mulai bosan dengan pergantian pemain Klopp ala-ala template dengan memasukan Milner plus Xhaqiri yang malah menurunkan mental tanding pasca pemain kunci ditarik. Dari awal musim tuh sebenernya udah pudar kejayaan trio ini tuh, sabda Udin mengomentari habis bensinnya trisula Firmino – Mane – Salah.

Secara implisit, apa yang disimpulkan oleh Ari Kebul dan Udin Bako sama-sama menginginkan pelatih Liverpool merombak susunan pemain. Saya pun setuju mengingat The Reds turun bukan dengan skuad terbaik usai Van Dijk absen sampai akhir musim. Maklum, sebagai salah satu Deep Lying Playmaker sekaligus penyambut ulung umpan crossing. Bukan hanya sanggup memberi stabilitas di lini belakang, Van Dijk dapat menjadi pemecah kebuntuan ketika lawan menggunakan garis pertahanan rendah untuk menangkal agresifitas Liverpool.

Klopp harus berani bereksperimen dengan memakai Xhaqiri dan Chamberlain sebagai sebelas pemain awal. Memberi kesempatan untuk Davies dan Kabak sehingga peran Fabinho dan Hendo kembali seperti semula. Dalam laga penting, tidak menutup kemungkinan Xhaqiri akan bermain kesetanan untuk membuktikan betapa dirinya layak berada di tim. Berlaku pula untuk Chamberlain.

Liverpool akan bertemu lawan berat; Leicester pada lanjutan laga EPL dan RB Leipzig dalam fase knockout Champions League. Walau gelar EPL kian jauh untuk diraih. Revisi peringkat di klasemen pun peluang lolos hingga semifinal UCL akan membuktikan bila Liverpool belum benar-benar habis.

Februari 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *