Bumi menjadi Kotak Saat Sepi

Bumi menjadi Kotak Saat Sepi

 

Menyebut nama-Mu dalam gelapnya sepi,

Tenang kurasa karena kamu pasti kembali,

Menjadi benih harapan saat aku kehilangan arah,

Aku meramu angin dan waktu untuk menyampaikan kerinduanku.

Saat malam kembali agung

Menjadikanku manusia yang kerdil,

Tak dilihat dan tak diajak

Bumi dan seisinya mendekat,

Berubah menjadi kotak persegi panjang,

Ia terang benderang.

Aku goyah melihat itu,

Padahal aku sedang bertemu si pembuat

Bumi kotak persegi panjang itu

 

Rumah, 2 Juni 2026

 

 

 

Keinginan

 

Langitku sedang terguncang

Sebentar lagi turun hujan,

Di seberang jalan ada binatang jalang

Kehilangan arah, kehilangan akal

Kali ini ia berbisik walau biasanya mengumpat

Kepada langit, kepada ia,

“Wahai langit yang maha, jangan hanya turunkan hujan sahaja. Tolong berikan juga takdir yang perkasa”

Dalam rintihannya, kilat menyambar satir

Takdir turun dengan cepat

Membawa kiamat dan melumatnya.

 

 

 

Terdiam

 

Pada malam yang berangin,

Di saat jembatan sedang sendiri

Kelam membawa wewangian yang dilumat bersama cerita lama.

Permukaan angin yang tenang

Memantulkan cahaya rembulan

Yang sama dengan kilau matamu

Kerinduanku memuncak

Saat binar bintang mengalir perlahan

Dari kelopak mataku

Aku berserah kepada angin,

Mendorongku terjun ke pelukanmu

Bersemayam di dalamnya

Riuh yang terjadi 

Diam seketika

Seperti sediakala

 

Karawang, 19 Mei 2026

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!