Saya mendengar obrolan soal copras-capres ibarat mobil tanpa rem, tidak berhenti-henti dan sanggup menabrak apa saja. Padahal ada banyak hal lebih menarik. Banyak hal lebih pantas kita tunggu ketimbang pemilihan umum yang sebetulnya tidak akan mengubah banyak hal—orang miskin tetap akan ada dan jumlah orang goblok tetap akan subur.

Misalnya tentang buku-buku yang terbit pada tahun 2019—tahun yang sebagian orang bilang sebagai tahun panas. Pembicaraan tentang buku saya pikir jauh lebih penting daripada terus-menerus berkubang dalam persoalan politik yang busuk dan kotor.

Buku tidak seperti politisi, buku tidak suka mengobral janji palsu dan ia selalu bersedia menemanimu kapanpun kau memerlukannya. Tentu kita sudah akrab dengan perkataan yang dinisbatkan pada John F. Kennedy berikut ini: “Jika politik kotor, puisi akan membersihkannya. Dan jika politik itu bengkok, maka sastra akan meluruskannya.”

Tahun ini saya bahagia karena buku-buku karya idola saya terbit. Pada bulan Januari, Dea Anugrah—sastrawan serbabisa yang boleh dibilang sebagai salah satu bintang paling terang di cakrawala kesusastraan Indonesia saat ini—menerbitkan buku kumpulan esai Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya (Buku Mojok, 2019).

Itu adalah buku yang ciamik sejak dari judul. Berisi esai-esai tentang berbagai hal yang jarang dibahas—soal keunikan suatu barbershop, pabrik pisang, aktivitas masturbasi, cemoohan antarpenulis, dan lain-lain—dengan gaya ungkap yang menarik dan mendalam.

Kemudian ada dua buku dengan judul mirip-mirip. Pertama, Dekat dan Nyaring (Banana, Maret 2019), sebuah novelet karya Sabda Armandio. Sekitar setahun atau dua tahun lalu, Sabda Armandio pernah membocorkan sebagian isi buku tersebut di blognya dan memang menarik. Kurang lebih dalam buku itu Dio—sapaan akrab Sabda Armandio—membawakan gagasannya soal horor dan ketakutan

Kedua, Senyap yang Lebih Nyaring (Circa, 2019) karya Eka Kurniawan. Itu adalah buku nonfiksi Eka yang berisi esai-esai seputar kepenulisan dan buku yang pernah tayang di blognya. Saya telah membaca hampir semua esai dalam blog Eka dan esai-esai itu memang mantap—pikiranmu akan lebih terbuka dan meluas jika membaca tulisan-tulisan Eka soal sastra dan kepenulisan. Ketika esai-esai itu dibukukan, tentu adalah sebuah kabar baik. Setidaknya kita jadi lebih bisa membaca esai-esai tersebut dalam format yang lebih rapi dan tertib.

Itu hanyalah sebagian buku yang saya tahu telah atau akan terbit pada tahun ini. Selebihnya masih banyak lagi penulis-penulis hebat yang layak kita tunggu buku-buku teranyarnya terbit. Sejak beberapa waktu silam, beberapa penulis yang tak perlu diragukan lagi kualitasnya seperti Yusi Avianto Pareanom (dengan calon novelnya Anak-Anak Gerhana), A.S. Laksana (dengan calon novelnya Medan Perang), Dea Anugrah (yang dalam beberapa wawancara mengatakan sedang menggarap naskah novel), Sabda Armandio (dengan kumpulan cerpennya), dan Ahmad Yulden Erwin (dengan naskah novelnya) dikabarkan akan segera merilis karya terbarunya.

Buku-buku yang saya sebut di atas hanyalah sebagian kecil dari puluhan buku keren yang terbit tahun ini. Buku-buku itu, saya kira, layak untuk mendapat perhatian lebih. Terutama dari kita yang mengaku mencintai atau peduli dengan keadaan literasi (atau katakanlah ‘sastra’) negeri ini.

Dunia sudah terlalu bising dengan pembicaraan-pembicaraan politik. Oleh karena itu, mengganti tema pembicaraan dengan novel terbaru Sabda Armandio, buku nonfiksi Eka Kurniawan, atau siapa kiranya kandidat peraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 saya kira lebih mengasikkan.

Namun, jika sebelum 17 April 2019 tiba-tiba saja Joko Widodo menerbitkan novel berjudul Blusukan Itu Luka atau Prabowo Subianto menerbitkan kumpulan cerpen Pengakuan Seorang Penculik, misalnya, mungkin kita mesti mempertimbangkan ulang untuk kembali membahas politik dan copras-capres. (*)

Profil Penulis

Erwin Setia
Erwin Setia
Lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News.