

Saatnya melangkah, mengikuti determinasi Tuhan
Dengan afeksi yang masih membelenggu
Dan memohon perjumpaan lagi
Setiap kali jiwa ini mempertanyakan kabarnya
Namun, tak pernahku dengan jawaban
Karena kami tak benar-benar terikat
Mengagumi lewat sajak-sajak yang terlantar
Mengarang lewat angan-angan yang menjalar
Hingga tak mampu bersuara ketika saling pandang
Berkali-kali dipatahkan kenayataan
Namun, berulangkali memaksakan kemauan
Sungguh naif memang
Kini, tengah bertanya-tanya mengenai perasaan
Yang tak kunjung terbalaskan
Kau bagaikan trigonometri yang rumit tuk dimengerti
Namun, kau tak seperti limit yang mudah didekati
Parasmu bak alamanda yang mampu membuatku terpana
Senyummu bak glukosa yang membuatku tenggelam dalam fruktosa
Kau terlalu sempurna untuk dijabarkan
Bunyi hukum fisika pun tak mampu menjelaskan