

“Aku tidak tahu kenapa bisa begini.”
Perkataan itu ia lontarkan pada istrinya yang masih kesakitan menahan robekan pada kemaluannya, sebab bayi yang antara dinanti dan tidak dinanti baru saja mbrojol.
“Ya mau bagaimana lagi, Pak, semua itu sudah menjadi kersane Gusti Allah,” sambil meringis kesakitan.
“Ya sudah, bayi ini harus segera dibereskan.”
Kuping bayi itu memang belum sepenuhnya bisa mendengar percakapan ibu dan bapaknya. Akan tetapi percakapan itu membuatnya menangis. Kaki dan tanganya jungkat-jungkit seolah ingin mendorong diri masuk kembali ke rahim ibunya. Seakan tahu, lama rasa sakit ibunya melahirkan, tidak sesakit penderitaan yang akan bayi itu alami.
Keluarga ini masih memegang teguh ajaran banyak anak banyak rezeki. Kelahiran bayi itu menjadi kelahiran yang kedelapan. Ibunya berhasil melahirkan delapan anak tanpa cacat dengan bantuan dukun bayi yang berijazah setempat. Lima kakaknya sudah menikah dan memiliki rumah. Sedang kedua kakak lainya masih bertempat tinggal dengan orangtuanya. Mereka hidup tenang dan sederhana. Tidak pernah mendapat musibah yang tak tertahankan. Keinginannya gampang, yang penting besok sudah ada beras untuk makan, itu sudah lebih dari cukup.
Weton kelahiran bayi itu sama dengan weton ayahnya. Setelah tali pusarnya lepas, diadakan sebuah ritual untuk “membuang” bayi itu. Dukun bayi menaruh bayi mungil itu di sekitar rumah secara sembarang kemudian ada tetangga yang mengambilnya, lalu dikembalikan lagi kepada orang tuanya.
Hal itu harus dilakukan untuk menolak bala yang akan menimpa bayi dan keluarganya. Sehari setelah ritual itu dilakukan, bapaknya menjual sepuluh karung gabah. Hasil penjualannya ia gunakan untuk membeli kambing untuk akikah. Malam hari kambing itu hanya bertemankan bulan. Hal itu memudahkan kambing yang baru ia beli berhasil digondol dengan mulus. Memang benar, ayah delapan anak itu kurang berikhtiar karena kambing itu hanya ia ikat di pohon belakang rumah. “Kenapa kambing yang mau buat akikah itu hilang? Padahal kita sudah menukarnya dengan sepuluh karung gabah yang bisa buat makan kita enam bulan!“ Semua sudah menjadi kersane gusti Allah, Pak,” perkataan itu kembali terucap dari mulut istrinya yang berusaha menenangkan.
Sore hari sebelum kejadian raibnya kambing itu. Bapak bertamu ke rumah Kyai Mahmud. Kedatangnya ingin berkonsultasi tentang pemberian nama yang baik untuk anaknya yang baru lahir. Kyai Mahmud memang sudah terkenal paling tidak di desa Kalibening dan sekitarnya. Ia biasa menjadi kayim ketika ada tahlilan atau acara syukuran. Dikatakan dari mulut ke mulut, Kyai Mahmud punya karomah, doanya selalu dikabulkan. Hampir seluruh penduduk desa sendika dawuh kepada ucapannya. Kyai yang berjenggot putih, berbadan kecil karena selalu puasa Daud, dan selalu berjubah, lengkap dengan sorban itu menyarankan untuk menamainya dengan nama Siti Kahing. Siti yang berarti yang dijunjung dan Kahing adalah akronim dari Kamis Pahing, hari lahirnya. Diharapkan Siti Kahing bisa menjadi anak yang menjunjung paling tidak dirinya sendiri. Seperti warga desa lainya. Bapak tidak berani untuk menolak saran Kyai itu dan langsung mengiyakannya. Sebelum pulang, setelah mendapat nama untuk anaknya ia tidak lupa memberi ucapan terima kasih dan pisang satu tundun kepada Kyai Mahmud.
Tepat setelah bapak pulang dari tempat Kyai Mahmud. Baru sampai pelataran rumah ia mendengar tangisan bayi yang merupakan anaknya sendiri. Tangisan itu membuat ibunya yang sedang indel langsung meninggalkan pekerjaanya itu. Membuat rambatan kayu bakar menyambar minyak tanah di depan tungku. Terjadilah kebakaran kecil di dapur. Bapak langung sigap mengambil air berusaha memadamkan. Untunglah hanya dinding dapur yang terbuat dari bambu yang terkabar sebagian.
Kejadian-kejadian yang tidak diingkan selalu saja hadir. Rasanya cobaan ini tidak berujung dan sulit ditahan. Sampai dengan Kahing sekolah dasar. Ia masih tergadai, belum diakikah. Sebenarnya orang tua itu hanya kehilangan sepuluh karung gabah, akan tetapi selalu saja yang diucapkannya mereka kehilangan sepuluh karung gabah dan juga kambing. Ketika Kahing berumur enam tahun ia “dikeluarkan” dari rumahnya dan dititpkan di rumah kakaknya yang paling tua, Naslam. Sebenarnya tidak ada alasan pasti yang dikatakan bapak kepada anak bungsunya, kenapa ia tidak tinggal di rumahnya sendiri. Orang tuanya terutama ayahnya hanya bilang sebelum ia pindahan. Diharapkan ia bisa belajar mandiri dan bisa menjadi anak yang sukses, tidak seperti bapak.
Memang benar, semenjak Kahing lahir, pendapatan gula jawa yang merupakan sumber penghasilan sehari-hari keluarga itu berkurang karena pongkornya selalu bercampur dengan air hujan. Ditambah lagi harga perkilo gula pun saat itu turun. Di waktu panen, padi yang dihasilkan juga berkurang walaupun tidak hanya bapak yang hasil panennya kurang memuaskan. Tidak heran memang, bahkan para tetangga juga turut mendukung keputusanya untuk “membuang” Kaning di tempat kakaknya yang paling tua.
Kalau mau jujur, Pak Naslam dan istrinya sebenarnya tidak mau kalau Kahing ditipkan di rumahnya. Memang, secara ekonomi kakak yang satu itu lebih stabil dibanding kakak yang lainya. Wajahnya yang tampan itu memang bukan produk gagal. Ketampananya berhasil memikat hati Surti, seorang anak bos kayu yang suka memborong kayu milik warga sebelum ia jual atau dijadikan mebel. Wajar saja Naslam diangkat menjadi bos muda di tempat usaha mertuanya. Keluar dari rumahnya bukan berarti menjadikan Kahing ditempatkan di rumah yang lebih nyaman. Kalau dibandingkan dengan kasur rumah aslinya memang jauh lebih nyaman rumah kakaknya. Akan tetapi, hidup yang menumpang bisa saja diturunkan di mana-mana dan kapan saja. Tidak pernah nyaman dengan kenyamanan.
Pelajaran pertama yang ia dapatkan di rumah kakaknya ialah membuat kopi untuk para pekerja kayu. Ia diajarkan oleh Tumiyem, seorang pembantu rumah tangga milik kakakknya dalam menentukan komposisi yang pas. Perpaduan antara gula dan kopi sangatlah dipedulikan. Tolok ukurnya gampang, saat pekerja itu menyeruput kopi lalu bunyi suara ahh setelah meminumnya berarti racikan itu pas. Seterusnya setelah ia pulang sekolah, ia membuatkan kopi untuk para pekerja di siang hari dan juga sore sebelum mereka pulang.
Tidak lupa pula Tumiyem dengan cekatan dan penuh dedikasi mengajarkan hal lain kepada anak kecil itu. Cara menyapu, mengepel, mencuci maupun menjemur pakaian, dan memasak. Apalagi di hari minggu. Di saat teman-temanya bermain ia sibuk dengan pelajaran dari Tumiyem. Akhirnya seorang pembantu pun bisa memiliki murid seperti guru.
Tumiyem semakin hari semakin bertambah berat badanya. Perutnya seperti ibu hamil enam bulan. Padahal suaminya sedang merantau. Tidak bisa dipungkiri, kedatangan Kahing merupakan kabar gembira untuknya. Pekerjaanya menjadi tidak sepadat dulu. Pada awalnya memang terjadi pembagian kerja. Kahing di pagi hari menyapu dan mengepel, sedang Tumiyem mencuci baju dan memasak. Di siang hari Tumiyem menyetrika dan Kahing membuatkan kopi untuk pekerja. Di sore hari, Kahing membuatkan kopi dan cemilan sedang Tumiyem sibuk mengambil sisa lauk untuk dibawa pulang. Dan di malam hari, Tumiyem asyik menyantap lauk yang ia bawa bersama anaknya sambil meliat televisi, sedang Kahing menyantap air mata yang mengalir menyentuh bibrinya.
Datang seekor cicak yang ikut menemani malam Kahing. Walaupun seringkali sekadar bersuara dan mengotori mejanya. Ia tetap menganggap cicak itu teman yang diberikan Tuhan. Sesekali nyamuk yang menyedot darahnya juga tak lupa datang menemani malamnya. Anak pak Naslam dan istri sudah tidak tinggal lagi dengan mereka karena sudah berumah tangga. Akan tetapi tidak membuat mereka menjadi sayang terhadap Kahing. Tidak menganggap Kahing sebagai anak ataupun cucu.
Kalibening adalah nama desa itu. Tempat terpencil di barat daya Kabupaten Kaliemas. Sebuah desa yang jauh dari alat transportasi dan belum modern. Masyarakatnya kebanyakan membuat gula merah dan bertani, walau seringkali kekurangan air untuk mengaliri sawah mereka. Kahing seringkali bertanya kepada dirinya sendiri “Apakah hidup yang tidak bersama orangtua lebih baik aku alami?”
Istri pak Naslam seringkali keluar kamar pukul sembilan pagi. Itupun masih dengan baju tidur dan rambut seperti habis tersengat listrik. Sesekali ia dandan untuk menghadiri arisan ibu-ibu desa setempat. Tidak semua ibu-ibu di desa itu bisa ikut arisan dengannya. Syarat yang diberikan cukup sulit dengan nominal uang yang sangat tinggi, lima ratus ribu dalam sebulan.
Kahing selalu dalam posisi yang tidak menguntungkan. Istri kakaknya seringkali berlaku tidak adil, kalau suaminya sudah pergi, ia selalu berubah sikap. Dari yang awalnya baik, berperilaku seperti ibu pada umumnya, namun setelah suaminya pergi ke pabrik ia menjadi seperti majikan. Memerintah dengan dalih untuk membentuk Kahing menjadi calon istri yang baik nantinya. Atau kalau Kahing sedang lelah tapi pekerjaan masih belum selesai, ia selalu berkata begini, “Masih untung kamu ditaruh di rumah kakaknya, tidak dibuang di kali.” Hal itu pula yang menjadikan Tumiyem membenarkan tindakannya yang turut memanfaatkan kehadiran Kahing.
Tangisan itu kembali berdengung malam itu, yang bersumber dari kamarnya yang berada di sebelah dapur. Membuat orang-orang di rumah itu tidak ada yang mendengarnya. Seringkali ia hanya meneteskan air mata dan menggumam. Kembali sebuah pertanyaan muncul dalam dirinya “Kenapa aku begini?” Kalimat itu selalu menjadi pertanyaan yang akhirnya melelapkan ia dalam kesedihan.
Ibunya dilarang menjenguk Kahing selama ia belum balig. “Teman-temanku berangkat sekolah diantar oleh orangtua mereka, dan saat pulang mereka dijemput. Mereka diberi bekal dari masakan ibunya, sedangkan aku? Aku masak sendiri, cuci baju sendiri, bahkan bajunya kakak dan Mbak Tumiyem itu sekalian kucuci.” Kira-kira itulah perkataan yang sering diucapkan Kahing sebelum tidur kepada lampu kuning kamarnya.
Kahing yang malang atau Kahing yang beruntung? Para tetangga dan orang tua terutama ayahnya selalu menuturkan keputusan menitipkan ia di rumah kakaknya itu keputusan yang tepat. Mereka sepakat kalau Kahing itu anak yang beruntung, nanti pasti banyak laki-laki yang mau jadi suaminya. Ia bisa masak, nyuci, dan tentunya dalam urusan kamar. Seperti filosofi Jawa, wanita itu hanya berurusan dengan kasur, sumur, dapur.
“Semua sudah ada porsinya masing-masing, laki-laki mencari nafkah, wanita mengurus rumah tangga, apa mau wanita nderes, macul?” ucap bapak Kahing kepada tetangga dan siapa pun orang yang menanyakan kepada Kahing dititipkan.
“Asal kalian tahu, aku menantikan anak itu, makanya aku selalu mendahulukan kakak atau adiknya. Anak itu lahirnya sama dengan weton lahirku. Itu semua yang membuat semua bencana di keluargaku,” imbuhnya seperti politisi yang berpidato di depan pendukungnya.
Glosarium:
Kersane: Keinginan atau takdir Tuhan.
Sendika Dawuh: Saya taat atau selalu siap melaksanakan perintah.
Indel: memasak air nira kelapa sampai mengental sebelum akhirah dibentuk menjadi gula merah.
Pongkor: Wadah air nira kelapa sebelum dipanen setiap pagi dan sore hari.
Nderes: Mengambil air nira kelapa setiap pagi dan sore hari.
Macul: Mencangkul sawah atau kebun.