Budaya Patriarki membuat Kita Menyalahkan Eun Ho, padahal Patah Hati Kita Semua adalah Salah Pemerintah

Source: tmdb

Saya selalu percaya dengan tagar you’re all caught yang muncul di Instagram, karena faktanya kita semua tahu, bahkan ketika kita belum mencari apa pun di mesin pencarian kita, Instagram akan dengan mudah menunjukkan postingan-postingan yang berkaitan dengan yang “kita cari”.

Seperti saya yang sedang patah hati, misalnya. Tiba-tiba muncul banyak potongan film patah hati di FYP saya, termasuk Once We were Us. Pertama kali saya melihat potongan film itu, saya agak terkejut karena konstruksi wajah si aktor tidak begitu “Korea”, sebab bentuk rahang, wajah, nampaknya tidak begitu banyak terdampak operasi, dan jujur saja, sedikit lebih “Cina” dan otentik, tidak seperti kebanyakan aktor Korea ini hari.

Saya memperhatikan lekat-lekat perawakan aktor itu, yang celakanya, malah mirip sekali dengan yang memberikan saya patah hati enih~ Anjay!

Tapi poinnya tentu saja bukan itu. Setiap hari Instagram terus menunjukkan potongan film-film itu, dan saya jadi kepo juga. Membaca lah saya komentar-komentar yang banyak menyudutkan si pemeran laki-laki seperti,

“Laki-laki  mah meskipun belum selesai dengan masa lalunya bisa sampe punya anak sama perempuan lain!”

“Jadi takut sama suami sendiri, jangan-jangan dia punya mantan yang masih dia cintai,”

“Tuh kan, perempuan kalau belum selesai dengan masa lalu pasti bakal stay single! Si laki-laki malah kawin sampe punya anak!”

Saya jadi semakin tertarik, “Apa benar begitu?”

Dari komentar-komentar tadi saja, saya merasa “Ah, netizen-netizen ini terlalu berlebihan.”

Saya pikir, mau laki-laki, perempuan, atau yang merasa bukan keduanya juga pasti punya seseorang yang seperti “itu”. Kita akan selalu punya mantan favorit kita yang gak akan kita lupakan, the best numero-uno!

 

Takut menonton film romance di masa-masa patah hati, saya kemudian memberanikan diri menonton film itu dengan alasan “Udah lama gak bikin ulasan.”

Menonton lah saya di Bilibili. Setidaknya, ada beberapa poin yang saya dapat dari pengalaman menonton film itu pertama kali.

Saya bukan orang yang suka menonton film “baru”, termasuk pemilih dan lebih suka menonton ulang film-film yang saya tonton di masa-masa lalu. Bukan merasa eksklusif, saya akan merasa kesal bila filmnya tidak sesuai dengan yang dibahas orang. Kemudian, saya tipikal orang yang julid. Saking julidnya, saya akan terus memutar dan mencari yang menurut saya janggal di film-film itu. Sehingga itu juga alasan saya jarang menonton film di bioskop, dan film romance sering mengobrak-abrik mood saya. Jadi, ya malas saja.

 

Sinopsis

Once We were Us membuka alur cerita dengan pertemuan Eun Ho dan Jung Won di pesawat. Tiba-tiba ketemu dan manis sekali. Bukan yang ketemu mantan langsung “suit-suit!”, sejauh ini, pertemuannya termasuk logis.

Si laki-laki (Eun Ho) memastikan terlebih dahulu. “Hah, gening siga si eta?” tapi tentu tidak langsung memeluk, dan blablabla. Si laki-laki memilih untuk duduk dulu di kursinya, membuka laptop, masih dengan pertanyaan itu.

Lalu, menoleh lah si Eun Ho. Begitu pun Jung Won yang terlebih dulu nongolin muka dari kursinya.

Logis sekali. Saya suka. Adegannya masuk akal, dan tidak terburu-buru. Saya sebagai penonton merasa diberi ruang untuk bisa merasakan hal itu relatable. Kita bisa bayangkan jika pada saat melihat Jung Won, Eun Ho langsung menyapa. Dramanya bukan main. Mending kalau betul Jung Won, kalau salah orang? Awkward lah!

Scene lalu berpindah ke adegan masa lalu. Pertemuan pertama Jung Won dan Eun Ho di terminal, yang nampaknya jauh lebih bagus dari terminal Klari. Eun Ho yang sedang gagambaran kemudian melihat Jung Won berpayung dan merokok. Sampai di sini juga masih logis, Eun Ho tidak lantas jatuh cinta. Dia cukup hanya menjadikan Jung Won bahan gambarnya saja.

Eh, ternyata mereka masuk di Primajasa yang sama. Anjir Primajasa ☹

Singkatnya, karakter Jung Won memang dibuat agak tengil dan Eun Ho lebih kikuk. Jung Won yang seenaknya ini kemudian malah mengambil kursi Eun Ho, dan ketika si Eun Ho konfrontasi, Jung Won tidak langsung bereaksi dengan tengil, tapi Eun Ho dengan kesopanan dan keluguannya langsung duduk saja di sebelahnya.

Adegan ini kemudian berlanjut pada jalan yang terblokir karena longsor. Nah, pada saat yang sama, saya teringat jalanan kelok Sembilan atau Cadas Pangeran. Jadi, anggap saja si Eun Ho dan Jung Won memiliki tujuan yang sama: naik Primajasa ke Sumedang.

Akses jalan terblokir, dan pengunjung harus turun dan menunggu ketidak-jelasan itu. Akhirnya, Eun Ho dijemput bapaknya dari Sumedang/Pasaman tadi ☹ Lalu karena sebelumnya mereka berbincang, Eun Ho pun mengajak Jung Won. Mulailah pertemanan mereka.

Scene bis, perkampungan, naik motor sampai helm menyon adalah hal yang jarang saya temukan di film romance lain (atau saya aja kurang menonton).

Primajasanya Korsel. Masih pakai tiket!

 

Mirip dengan jalanan di Indonesia yang rawan longsor.

 

Jung Won dengan helm yang dibiarkan menyon dan kakinya seperti orang yang sudah biasa naik motor. Detail yang menarik karena natural sekali!

 

Saya kira saya akan langsung disuguhi “romansa Jung Won dan Eun Ho” cerita-cerita di film romance yang saya tonton namun yang bikin saya senang adalah ya gak gitu.

Banyak proses yang dilalui. Mulai dari pertemuan di awal, Eun Ho mencari Jung Won di game, lalu modus beli bensin ke SPBU tempat Jung Won kerja, sering diajak hang out sampai jadi se-circle, Jung Won pacarana dulu sama orang lain, dan banyak lah pokoknya!

Saya apresiasi remaker karena tidak menjadikannya terlalu “rush romance” dan tidak “ngebet”

Saya juga berpikir awalnya, akan terlalu banyak menye-menye cinta-cintaan saja, tapi ternyata, saya menemukan banyak hal detail dalam film ini yang nyatanya sangat reflektif seperti:

 

Penokohan dan Masa Lalu yang Menyebabkan Tiap Tokoh Bertingkah seperti di Film

Saya suka semua karakternya. Terkesan tidak oversharing, dan merupakan hal yang tepat buat saya. Di beberapa film, saya sering melihat para pembuat film menunjukkan kehidupan dan latar belakang masing-masing karakternya too much. Bisa dibilang di film ini, spill-spill kehidupan dan latar belakang karakternya sangat pas. Tokoh Jung won misalnya. Sejak awal bagian film, kita diperlihatkan bahwa Jung Won berasal dari panti asuhan, dan itu ditunjukkan hanya melalui visual dan percakapan. Bahkan pertemuan awal Jung Won dan Eun Ho adalah ya sebab mereka menuju perkampungan yang sama. Jung Won ternyata berasal dari panti asuhan di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah Eun Ho. Kemudian, pada saat Jung Won putus dan pergi dari kosan lamanya, ia bercerita pada Eun Ho pada saat di restoran bersama mamanya si mantan, ada hal yang membuat Jung Won sadar. Si Mama mantan bilang,

“Gak papa kalau gak punya uang (miskin), tapi minimal cari yang asal-usulnya jelas, dong.” kata si Mama kepada anaknya (mantan Jung Won) di depan Jung Won.

Saya berpikir, “Oh, baiklah. Si Jung Won tidak diterima karena mungkin pas ditanya asal dan nama orang tua, Jung Won menjawab seadanya.”

Adegan ini terjadi ketika Jung Won bercerita pada Eun Ho soal pertemuannya dengan Mama mantannya. Lalu, di sini pula kita bisa mendengar Jung Won mengingat kembali teriakan laki-laki dewasa yang sangat kasar seperti sedang bertengkar.

Dari scene ini lah kita bisa melihat trauma si Jung Won yang seperti mengingat percakapan teriakan laki-laki dewasa. Dari sini, saya rasa alasan Jung Won dititipkan ke panti asuhan adalah orang tuanya bercerai, bapaknya Jung Won toxic, dan akhirnya keduanya menitipkan Jung Won di panti asuhan. Memang anggapan saya bisa jadi tidak betul, tapi saya sangat suka dengan cara pembuat film tidak menjadikan Jung Won sebagai seseorang yang terlalu banyak melihat masa lalu. Jung Won beranjak menjadi perempuan dewasa yang muda dan kerap menyimpan traumanya sendiri, dan hal itu diperlihatkan dari semua tingkahnya, bukan dari banyaknya scene kehidupan masa lalu yang dimunculkan.

Ada satu momen, ketika Eun Ho bertanya,

“Kalau suka arsitektur, kenapa ambil jurusan kesejahteraan sosial?” tanya Eun Ho pada Jung Won

Alih-alih menceritakan masa lalunya dan berlagak oversharing, Jung Won menjawab “Ya yang ada beasiswanya cuma jurusan itu.”

Menarik!

Sama halnya dengan Jung Won, Eun Ho pun diberikan porsi yang sama dalam spill kehidupan masa lalunya. Melalu kegemarannya pada gambar, gambar-gambar di dinding rumah dan restoran bapaknya, cerita bapaknya, kita semua tahu Eun Ho berasal dari keluarga cemara. Hanya saja, ibunya sudah meninggal dan mewariskan bakat menggambarnya pada Eun Ho.

Semakin jauh film ini berjalan, saya semakin merasa bahwa konflik yang dibangun memang bukan konflik yang bebeledagan. Konfliknya justru cenderung lamban, smooth, dan faktanya dekat sekali dengan realita kita (atau saya aja). Saya sangat suka dengan jalannya konflik dan relasi yang dibangun tidak se-heroik-itu dalam hubungan Eun Ho dan Jung Won.

Tak ada momen “Pokoknya aku bakal memperjuangkanmu mati-matian” ala-ala drama. Eun Ho juga bukan laki-laki yang sangat dominan dan solutif.

Eun Ho, sebagaimana laki-laki lempeng tetap kikuk, tetap seperti laki-laki yang kalau lagi bingung, ya … diam dan tak punya tempat cerita, namun justru itu yang bikin film ini sangat realistis.

Kadang, kita semua terbiasa (dan dibiasakan) melihat laki-laki di film (apalagi Dracin) sebagai sosok yang “pasti tahu harus ngapain”. Tapi di sini tidak. Eun Ho tidak selalu tahu cara harus bersikap, terutama ketika Jung Won mulai menunjukkan sisi-sisi yang lebih kompleks.

Karakter Jung Won pun bukan perempuan yang memohon banget untuk diselamatkan. Oh ayo, lah. Jung Won pun rasanya tak “butuh diselamatkan”.

Kedua tokohnya tidak sedih berlebihan, tidak banyak menjelaskan dirinya masing-masing.

Keduanya memilih masih berusaha saling mendukung dan kebanyakan diam. Nah, diamnya ini yang justru sangat masuk akal buat saya.

Yang satu piatu dan tak punya tempat cerita karena gak mau bebanin bapaknya, yang satu lagi terbiasa sendiri karena dari kecil sudah merasakan “dibuang”, “tidak didengar”, (mungkin) “melihat KDRT”. Relasi latar belakang dan pemilihan sikap terhadap sesuatunya kuat sekali.

 

Scene-Scene yang Membuat Nostalgia

Saya suka adegan mendengarkan musik dengan headset kabel, banyak diantara kita yang sudah tidak melakukannya lagi (tapi saya mah masih sempat dooong!).

Adegan pindahan pakai kol buntung juga. Apalagi ketika Eun Ho menjadikan handuk di kepalanya. Gak ribet. Tidak ada adegan “hujan-hujanan sambil angkat kardus”. Ya sudah, pindahan saja. Bahkan terasa lebih real karena,

“Sekarang mah kan sudah ada Lalamove! Jadi pasangan-pasangan gak akan bisa ngerasain pindahan romantis begini.”

Adegan mau pindahan.

 

Depresi yang Tidak Tertangani dengan Baik

Ini bagian yang menurut saya cukup penting dan jarang dibahas secara jujur di banyak film,

“Bagaimana seseorang gagal menyikapi depresi pasangannya?”

Seperti yang dijelaskan pada bagian “trauma keluarga dan latar belakang itu”, kita beralih pada konflik yang sudah memuncak. Eun Ho mulai lelah karena harus menunda cita-citanya membuat game dan waktunya banyak diambil pekerjaan, bapaknya sakit dan tentu butuh biaya, ingin cabut dari kerjaan tapi gak mau banyak merepotkan Jung Won, dan Jung Won tidak tahu harus berbuat apa.

Alih-alih menjadi support system yang sempurna, Jung Won justru menjauh dengan caranya sendiri.

Saya rasa bukan karena dia tidak peduli, tapi karena Jung Won juga tidak punya kapasitas untuk menampung semuanya.

Faktanya memang menyakitkan, karena sering kali kita berpikir cinta itu cukup. Padahal mah, “Memangnya kenyang makan c1nt4?!”

Lagipula, cinta tidak otomatis membuat kita mampu menghadapi luka orang lain, kan?

Jung Won, dengan segala latar belakangnya pun jelas bukan orang yang siap untuk itu.

Hasilnya apa? Saya lebih sakit hati melihat Eun Ho ditempa berkali-kali.

Habis ditelepon bapaknya, dia dimarahin bosnya, langsung ditonjok. Kerja di supermarket, ketemu sama teman lamanya yang tinggal di apartemen mewah lalu menjadi pebisnis yang wajahnya terpampang di majalah dan belum sampai di situ. Digangguin orang mabuk rese, dan ketika Eun Ho mulai hilang sabar dan menonjok orang yang mabuk rese itu, Jung Won malah menampar Eun Ho dan mempermalukannya di depan umum!

Hari yang berat ditutup dengan ditampar Jung Won. Huft.

Saya merasa ingin memeluk Eun Ho saat ini juga ☹

 

Budaya Patriarki membuat Kita Menyalahkan Eun Ho, padahal Patah Hati Kita Semua adalah Salah Pemerintah

Pernyataan ini mungkin terdengar seperti sok iye tapi ya coba saja dipikir. Film ini menurut saya sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kisah dua orang mantan yang ketemu lagi. Toh, cara seseorang mencintai berasal dari pembentukan lingkungan, latar belakang, dibentuk juga oleh kondisi ekonomi, dan akses pendidikan yang tidak pernah benar-benar bisa kita pilih. Menangys mengenangnya~

Eun Ho tumbuh dari keluarga yang hangat dan stabil, dengan ruang untuk merasa dan mengekspresikan dirinya (ya meskipun kecil dan sedikit juga ruangnya). Namun, hal itu membentuk caranya mencintai. Eun Ho tumbuh menjadi orang yang sabar, penuh pengertian, cenderung menetap alias setia.

Sementara Jung Won datang dari ruang yang sedikit lebih berbeda: penuh luka dan minim rasa aman. Caranya mencintai cenderung jadi lebih defensif, setengah langkah maju, setengah langkah mundur, seperti seseorang yang selalu siap ditinggalkan dan siap meninggalkan kalau bingung atau bosen. MUEHEHE. Tydack. Eh tapi iya, saya juga jadi ingat, ketika awal mereka habis senggama pertama kali, Jung Won kan kabur karena bingung.

Bahkan dari karakter dan latar belakang saja, hubungan mereka sebetulnya sudah timpang sejak awal. Sebab keduanya dibentuk oleh sistem yang berbeda. Maka ketika hubungan itu tidak berjalan baik, saya rasa saya perlu bertanya lagi (termasuk pada diri saya dan si itu tea),

“Apakah ini murni kesalahan mereka, atau memang ada sesuatu yang lebih besar yang sejak awal tidak memberi mereka kesempatan yang sama?”

Di titik ini lah, sudah waktunya kita menyalahkan pemrentah. 

Hal itu semakin terasa ketika melihat Eun Ho dibentuk sebagai laki-laki yang “terlalu baik”. Eun Ho harus mengerti dan kalau bisa sih menjadi Superman. Dalam banyak realitas sosial, laki-laki memang sering ditempatkan sebagai pihak yang harus kuat dan tidak banyak mengeluh. Mereka diharapkan menjadi penopang ekonomi dan emosional, termasuk Eun Ho.

Eun Ho juga bisa dilihat sebagai korban dari ekspektasi patriarki yang menanamkan keyakinan bahwa ia harus menanggung semuanya sendiri! Sebab menjadi laki-laki berarti harus menjadi kuat tanpa iklan. Padahal kenyataannya kan tidak semua beban harus ia pikul sendirian! Jadi, mulai lah berhenti menyalahkan Eun Ho karena,

Aku tidak bisa melihat masa depan bersamamu.”

Masa depan kau itu tanggung jawab kau! Kamu selalu bisa patah hati dan bercinta dengan siapa pun, tapi kalau presidenmu buruk, ya kau akan tetap miskin walau kerja sampai tulang rawanmu jadi aman pun.

Saya pun merasa penonton terlalu banyak menyalahkan dan berpikir laki-laki akan dengan mudah “move on”, melanjutkan hidup, menikah, punya anak, sementara perempuan tertinggal dalam kenangan. Film ini menolak penyederhanaan itu, wey. Dari awal kan sudah dibilang, Jung Won tidak mau punya anak.

Ingat gak? Pada awal-awal mereka jadian,

“Nanti kita pindah ke rumah yang lebih besar, ada tamannya, dan kita ditemani anak.” 

“Kau mau berapa anak?”

“Aku mau tiga. Kau?”

“Aku gak mau punya anak, aku mau fokus pameran.”

Argh!

Eun Ho layak menempuh hidup baru! Se-simple itu! Penting juga untuk tidak sepenuhnya membebaskan Jung Won dari tanggung jawab. Ia bukan semata-mata korban keadaan, ingat! Jung Won juga membuat pilihan.

Di bagian akhir, film ini seolah mengajak kita melihat dan berpikir ulang ke diri kita sendiri. Mungkin, cara kita mencintai saat ini adalah hasil dari banyak hal yang tidak selalu kita sadari. Dibentuk oleh latar belakang, pengalaman kecil, lingkungan, akses, pendidikan, yang akhirnya menjadi cara kita merespons orang lain.

Mungkin itu sebabnya tidak semua cinta bisa berhasil. Bukan karena cintanya tidak besar, ya karena dua orang itu datang dari “tempat” yang berbeda saja~ Arini Joesoef, 2026. Cihuy!

Wey! Bagian nyalahin pemerintahnya mana?!”

Jika kemudian kita melihat konteks yang lebih luas, terutama kondisi ekonomi Korea Selatan pada periode 2010–2015, semua ini menjadi semakin masuk akal. Ekonomi memang terlihat stabil, namun seperti berita-berita baik yang banyak bohongnya, kita semua tahu tidak semua orang baik-baik saja. Sesederhana survei Indonesia penduduk bahagia, lah. Memangnya kita percaya? Kan tidak. Semua warga low-middle-class di seluruh negara pun sama, punya tekanan yang gak kelihaatan.

Kesempatan kerja menjadi semakin kompetitif (dimunculkan juga dalam film audionya), biaya hidup meningkat, dan ketimpangan sosial semakin terasa. Millenial dan Gen Z yang orang tuanya bukan Cendana tentu hidup dalam situasi yang serba gak jelas. Banyak yang menjalani hidup dengan rasa cemas secara finansial dan emosional.

Jangankan cinta Jung Won dan Eun Ho, dalam masa-masa seperti ini, bercermin pada cinta kita sendiri pun repot. Cinta itu butuh energi, waktu, dan kestabilan. Ini lah alasan saya merekomendasikan film Once We were Us. 

Mungkin untuk saya, film ini bukan film romantis yang oke jatuh cinta -> patah hati -> ketemu mantan -> nostalgia -> salah-salahan. Ya gak gitu. Film ini seperti ngasih paham bahwa banyak pasangan saling mencintai harus berakhir pisah karena punya pemerintah geblek. Dekat sekali dengan realita.

Oh ya, saya lupa! Saya suka film ini karena game-nya seperti game “To The Moon” 🙂

Author

  • Arini Joesoef

    Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
galabet giriş | romabet | romabet | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | betebet | meritbet | galabet | Meritbet | jojobet giriş | Report Phishing |