Skip to content

Budaya Nggak Enakan yang Kebablasan

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Di kompleks kampung saya, ada seorang kakek yang sering berkeliling dari rumah ke rumah untuk meminta uang. Kakek itu memiliki penampilan yang khas karena selalu membawa payung. “Assalamualaikum. Sedekahnya, Bu”, begitulah kira−kira kalimat yang ia utarakan tiap kali berdiri di depan rumah warga.

Mulanya banyak yang bersimpati dengan si kakek. Tetapi, karena hampir tiap hari datang, banyak warga yang tidak peduli. Apalagi sejak ada tetangga saya, yang mengetahui bahwa sebenarnya si kakek ternyata berasal dari kalangan ekonomi yang berada.

Dan yah… melihat cerita ini saya teringat, dengan berita pengemis yang membeli emas dengan uang receh nya satu karung penuh. Ironi nya, pengemis menjadi lebih kaya dibandingkan dengan seorang buruh yang bekerja dengan jerih keringat nya sendiri.

Ya… itu lah budaya nggak enakan masyarakat, udah diatur jangan memberi uang pada pengemis tapi tetap memberi juga.

Kita tahu bahwa masyarakat Indonesia memiliki banyak sifat−sifat yang khas. Di antaranya murah senyum, santuy every where and every time berlagak tidak ada pekerjaan, suka memberi, gotong royong, membuang sampah sembarangan, dan masih banyak lagi. Yang baik ada, yang buruk pun pasti juga ada.

Saya percaya Anda pasti, pernah kedatangan tamu di waktu yang salah. Jam−jam rawan untuk makan siang, dengan lauk yang hanya cukup. Namun apalah daya, ingin menawarkan hanya sedikit tapi kalau makan sendiri tidak etis.

Duh.. memang budaya nggak enakan yang menyayat hati.

Beranjak dari cerita itu, ternyata ada bentuk nggak enakan aparat kepolisian saat bertugas menertibkan lalu lintas. Oknumnya teman saya sendiri, dengan mudahnya ia lolos dari operasi penertiban lalu lintas. Usut punya usut pamannya merupakan teman dari pak pol yang bertugas itu.

Baca juga  Nasib Umat Manusia Setelah Wafatnya Khalifah Uzumaki Naruto

Sungguh indah dunia pertemanan ini…

Indonesia itu negara hukum, jelas, pasti, serta diketahui bersama dalam UUD 1945 pasal 1 ayat (3) dikatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum.

Kemudian pada Undang−Undang Dasar Tahun 1945 pasal 28 D ayat (1) dijelaskan bahwa setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum.

Lantas apakah kasus mengenai penertiban lalu lintas sudah sesuai dengan dasar hukum tersebut?

Beranjak dari cerita tadi, di kompleks dekat rumah saya ada sebuah keluarga yang selalu membuang popok milik cucunya ke sungai. Karena dulu ia merupakan salah satu orang kaya di daerah saya, sehingga tidak ada satu pun yang berani menegurnya, bahkan ketua RT pun tidak berani menegurnya. Miris sekali jika hal ini terus dibiarkan. Sana yang enakk, sini yang kena dampaknya.

Nah ada lagi bentuk keteguhan masyarakat kepada budaya nggak enakan ini yaitu ketika ada turis yang datang perlakuan kita seharusnya tidak perlu mengagung-agungkannya karena kulit putih dan wajah cantik atau tampan, namun juga harus tetap menghormati juga.

Inilah bentuk nggak enakan masyarakat yang selalu dilestarikan, dimana orang yang memiliki jabatan, wewenang, dan uang. Akan didukung oleh elemen−elemen lainnya, sekalipun tindakannya salah.

Pertanyaan apakah Anda salah satu dari masyarakat yang masih berpegang teguh dengan budaya ini? Sesulit itukah menyampaikan teguran ? Apa harus menjilat dulu supaya selamat?

Sebenarnya, penyebab dari budaya nggak enakan ini berasal dari mental masyarakat Indonesia sendiri. Eits… tapi bukan berarti semua mental masyarakat seperti itu ya, hanya saja masih banyak sekali yang mentalnya terpuruk. Mental disini bukan tentang kondisi kejiwaan seseorang loh ya…

Baca juga  Yang Patah di Masa Pandemi

Tapi mental yang dimaksud itu, gimana sih cara pandang dan sikap yang dilakukan seseorang ketika menghadapi suatu hal.

Oiya… belum lama ini presiden juga mencanangkan tentang revolusi mental. Revolusi mental ini punya tujuan supaya masyarakat bisa berpikir kritis, dan bersikap mandiri.

Memang sih, revolusi mental nggak semudah membalikkan telapak tangan.
Ditambah lagi jumlah masyarakat yang banyak, serta perbedaan latar belakang yang ada. Tapi perlu diingat ya, bahwa revolusi mental pasti bisa dilakukan kok.

Asalkan kita mau bersama−sama mulai mengubah mental yang nggak enakan ini. Caranya mudah kok… diawali dengan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, mengubah cara kita menyikapi suatu hal yang ada di sekitar kita, mulai berpikir kritis akan masalah yang ada.

Kemudian, jangan bersikap acuh tak acuh pada sesama, menghargai sesama, dan terapkan mindset apa yang sudah saya lakukan untuk negara bukan malah menuntut apa yang sudah diberikan negara kepada masyarakat. Saya yakin revolusi mental ini pasti dapat terwujudkan, dan jangan takut menyampaikan teguran dan kritik kepada orang lain.

Mau itu pejabat, aparat, penegak hukum, maupun elemen masyarakat yang lainnya. Jika tindakan mereka salah maka tegur lah, tapi harus disertai dengan saran yang dapat diambil juga ya… Jika pola pikir masyarakatnya maju, tentu negara juga akan maju. Ya nggak sih? Ya kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published.