

Ibu menyuruhku belanja
Kutanya seorang pedagang di pasar
Apakah ia memiliki sebungkul brokoli hijau
Ia mengeluh, malah memberiku nota belanjanya
Yang tertulis rapi angka-angka tagihan
Aku pergi lagi, menuju gerobak tukang sayur
Kutanya, apakah ia memiliki sebungkul brokoli hijau
Di gantungan kotak rezekinya?
Ia menggelengkan kepala
Lalu aku pergi lagi ke toko sayur
Kutanya emak-emak penjual sayur itu.
Apakah di sini ada sebungkul brokoli hijau, Bu?
“Brokoli hijau mencekik pedagang kecil, Nak!
Stok kosong di sini!”
Aku pulang dengan muka gelisah.
Dan menumpahkannya pada wajah ibu.
Keesokan harinya,
Pada deret meja cokelat
—Yang telah lama tak kubelai—
aku melihat tumis brokoli hijau
Di atas nampan seng
Yang lengkap dengan nasi,
susu, dan sepotong tempe goreng.
Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan.
Malang, 23-28 Februari 2026
Seperti biasa, tiap pagi aku menjemur kecemasan
di tali jemuran.
Semalaman aku merendamnya dalam bak kejenuhan;
baju mahal, celana mahal, rok mahal–minim tabungan.
Sambil mengucek khawatir,
kuhitung hutang yang masih basah dengan tagihan,
belum sempat mengeringkan.
Tiba-tiba kancing bajuku copot.
“Alamak, apa masih ada benang?”
Aku mengibaskannya pelan,
kujapit keyakinan agar tak terempas angin pekarangan.
Angin itu benar datang, bajuku berkibaran.
Tapi tali jemuran putus meluruhkan harapan.
Malang, 15 Maret 2026
Aku pergi ke kamar mandi
Kulihat banyak orang berdiri
Sambil bawa sikat di tangan kiri;
Sikat itu menggosok kritik
Lalu memuntahkannya ke kantong plastik.
Kadang juga menyikat nama
Dari daftar kartu keluarga
Memasukkannya dalam deretan
Buronan kubur
Aku pun kumur-kumur
Segera saja
Kuluapkan di atas lantai mereka berdiri
Malang, 15-17 Maret 2026