Ritual pencelupan jari kelingking ke dalam tinta hitam pertama kali saya lakukan pada pemilu tahun 2014 lalu. Saat itu usia saya masih 17 tahun, umur yang menurut aturan, pas untuk menerima hak bersuara.

Sehari sebelum era presiden SBY benar-benar harus berakhir—pada bulan Oktober di tahun yang sama—setelah menjabat selama dua periode, barulah usia genap menjadi 18 tahun.

Pada usia segitu, partisipasi langsung saya di dalam pesta demokrasi masa itu, akhirnya menghasilkan pergantian kekuasaan yang tentunya sudah kita ketahui hasilnya seperti apa. Bukan begitu, kisanak?

Namun di rentang “17-18 tahun” itu pun saya turut menyaksikan polarisasi politik yang “terang”. Kepekatannya terasa, baik sebelum pemungutan suara maupun sampai sesudah pelantikan presiden baru edisi 2014-2019.

Bahkan, semuanya lantas seakan terus berlanjut membentuk episode-episode baru. Trend terbelahnya preferensi politik publik juga sempat hinggap di cabang Pilgub DKI Jakarta tahun lalu.

Belum ada tanda-tanda tentang kapan polarisasi ini berakhir. Justru kian kental karena kontestasi pilpres 2019 nanti bakal menampilkan hal yang tak jauh berbeda, layaknya mengulang kembali sebuah pertandingan final dengan dua kubu yang sama.

Ya, semacam pertandingan re-match, yang beda cuma strategi, dan komposisi tim saja.

Selain itu, demokrasi di era digital saat ini seakan membuat polarisasi itu ibarat air yang sulit digenggam. Kita sulit membedakan mana “orang asli”, yang mana buzzer, dan mana akun bot di ruang-ruang maya.

Pertempuran kedua kubu pendukung selama ini begitu ramai menimpali dinding maya dengan membenturkan limbah-limbah hate speech, fitnah hoax, agitasi, dan provokasi yang parahnya semuanya itu: nyaris tanpa filtrasi.

Preferensi politik masyarakat kita sejauh ini masih terpolarisasi ke dalam dua kubu. Kedua kubu masing-masing menyebut kubu lawan dengan sebutan “cebong” dan “kampret”. Label ejekan itu akan disematkan tergantung dengan kontestan mana yang kita dukung.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa nama ‘supporter’ itu bisa dibuatkan nama oleh ‘supporter lawan’. Kemudian dua sebutan yang bebuyutan itu terus berkibar sampai saat ini. Denger-denger nih, udah ada yang sampai turun ke jalan buat head-to-head langsung tuh.

Karena sama-sama keukeh, kedua perdebatan garis berat ini jadi tidak punya titik temu. Jangankan kesepakatan damai, lha wong frasa: “sepakat untuk tidak sepakat” pun sangat minim berjuang ke permukaan sebagai sekat di tengah-tengah perang urat syaraf yang berlangsung.

Namun, selayaknya masa perang, menjelang UAS, atau menjelang hari pemungutan suara, biasanya akan ada masa tenang. Begitu juga harusnya dengan pertarungan “cebong vs kampret” ini.

Polarisasi ini perlu masa di mana semuanya terdorong untuk mengalihkan, dan mengistirahatkan perhatian mereka atas perang yang menguras keringat syaraf tersebut.

Ada banyak contoh fenomena membuat ketegangan itu sejenak tenang. Fenomena yang diibaratkan layaknya sebuah oase yang mampu mengendurkan urat-urat syaraf yang tegang. Paling tidak, untuk sementara sebelum akhirnya kesemutan berkepanjangan.

Untuk poros alternatif di tengah, tentu sudah sedemikian terlambat. Polarisasi justru berpotensi menguat akibat tahun politik kali ini telah memasuki masa kampanye. Jadi, hal yang dirasa paling cocok adalah munculnya fenomena baru yang bisa memberi efek tenang terhadap situasi demokrasi kita.

Aku pikir, daripada memikirkan poros baru ataupun sekadar mematikan partisipasi politik masyarakat dengan gelombang pergerakan golput, kita perlu sebuah “oase” yang lebih dari opsi-opsi alternatif yang klasik dalam politik alakadarnya itu.

Tidak perlu juga sampai ada fenomena-fenomena yang bener-bener saklek: baru. Cukup di luar atau menyimpang sedikit dari korelasinya ke sajian politik yang disadari publik saja misalnya. Jelas harus terlihat alami, dan tanpa tendesi apa-apa; apalagi sampai disetting seperti realitiy show di tipi-tipi.

Dan, dunia maya yang merupakan sumbangsih terkuat polaritas ini, tentu kita juga memerlukan beberapa fenomena yang memiliki bakat besar untuk menjadi trending topic dan mampu menggesar perhatian netizen dari dua tagar utama; panggung debat kedua kubu.

Ingat bagaimana fenomena “om telolet om” sukses menghipnotis publik dunia (maya). Cuma gara-gara klakson bus, fenomena tersebut jadi viral. Tak tanggung-tanggung, para pesohor dunia juga ikut-ikutan kena getahnya.

Asian Games dan Asian Para Games 2018 yang beberapa waktu lalu juga sempat menginterupsi—polarisasi—masyarakat kita dari kesumpekan demokrasi kita di ruang digital. Salah satu adegan yang masih sangat mungkin lekat di ingatan kita ialah penampakan “roti sobek” ala Jonathan “Jojo” Christie di ajang Asian Games 2018.

Fenomena-fenomena yang lain seperti, popularitas Grup music Sabyan Gambus, Lagu “Hey Tayo”, “Wik Wik Wik Wik”, “Karena Su Sayang” hingga konflik Jerinx SID dengan Via Vallen yang baru-baru ini seru, tentu tidak boleh kita anggap sepele, sodara-sodara.

Enggak perlu terlalu serius jugalah, kadang kita perlu kembali memperhatikan bentuk bumi sesekali—mungkin saja bentuknya jajargenjang kan?—Karena sesungguhnya… polariasasi ini menunjukkan demokrasi kita yang masih lemah iman, kawan.

Jadi, pilih Punk Rock atau Koplo, bung?

Profil Penulis

Harry Azhari
Harry Azhari
Seorang Mahasiswa bergolongan darah AB yang garis tangannya berpola ABSTRAK
minimalis kontemporer.