Birokrasi Uap

Kota ini adalah kesepakatan basah, sebuah janji antara aspal dan kelembapan yang tak pernah tuntas. Di tengah janji yang menguap itulah Benny, seorang petugas kelurahan yang terbiasa dengan kebenaran kertas, kini harus berhadapan dengan kebenaran air.

Sejak dekret ‘Kartu Identitas Cair’ (KIC) disahkan, sebuah dokumen transparan yang konon merupakan sidik jari paling jujur dari volume hidup seseorang, kantornya berubah menjadi ruang pengujian yang dingin, tempat setiap warga diukur berdasarkan kandungan hidrogen dan oksigen dalam tubuh mereka.

Benny tahu, negara tidak lagi mencari bukti domisili, melainkan bukti keberadaan itu sendiri, bukti yang harus dipertahankan dengan setiap tetes keringat dan air mata. Pagi itu, kelembapan di ruangannya terasa terlalu berat, seolah udara sedang menahan napas, menunggu kedatangan seseorang yang volumenya nyaris nol.

***

Kantor Kelurahan di Kota Genangan adalah sebuah monumen beton terhadap kekeringan emosi. Dindingnya dicat putih kusam, seolah-olah mencoba menyangkal kelembapan abadi yang meresap dari parit-parit kota yang selalu meluap. Di sudut ruangan Benny, alat sensor air presisi berkedip-kedip, menjaga suhu dan tekanan agar sesuai dengan Standar Data Hidrologi Negara (SDHN).

Benny, dengan kemeja rapi yang selalu terasa sedikit lengket di punggung, adalah pelayan setia dari keteraturan ini. Ia mencintai prosedur, mencintai garis-garis hitam di atas kertas putih yang menegaskan bahwa segala sesuatu memiliki tempat, memiliki definisi, dan yang terpenting, memiliki volume yang terhitung.

Aturan KIC sangat jelas: setiap warga negara wajib memiliki volume air tubuh minimum 70% agar Kartu Identitas Cair mereka dianggap valid. Di bawah angka itu, seseorang dianggap berada dalam status dehidrasi eksistensial—sebuah istilah birokrasi yang samar-samar berarti ‘tidak cukup nyata untuk dihitung’.

Pagi yang tebal itu, pintu kayu berderit, dan masuklah insiden pemicu yang sudah ditakutkan Benny.

Ia adalah Pak Tua Karsa.

Karsa bukan hanya kurus, ia adalah penampakan dari ketiadaan yang hampir sempurna. Sebagian besar tubuhnya tampak transparan, seolah kulitnya hanyalah membran tipis yang menahan sedikit uap yang tersisa. Ia berjalan perlahan, meninggalkan jejak basah di lantai linoleum yang sudah usang—ironisnya, ia meninggalkan air di luar tubuhnya. Benny melihat Karsa seperti gumpalan awan yang kehilangan daya dukung, siap jatuh kapan saja.

“Selamat pagi, Bapak,” sapa Benny, suaranya terdengar terlalu cerah untuk ruangan yang suram itu. “Bisa saya lihat Formulir Permohonan Volume?”

Karsa menyerahkan selembar kertas yang sudah lembap. Tangannya kurus, urat-uratnya seperti akar yang kering. Saat ia duduk di kursi plastik yang dingin, Benny menyadari bahwa Karsa adalah perwujudan hidup dari kritik sosial yang tak pernah diizinkan masuk ke dalam berkas resmi: ia adalah bukti bahwa kemiskinan dan kelaparan adalah proses penguapan yang lambat, bukan sekadar kekurangan kalori.

***

Benny mengambil alat pemindai KIC, sebuah perangkat genggam yang dirancang untuk membaca kepadatan hidrogen dan oksigen melalui sentuhan kulit. Ia menempelkan sensor ke pergelangan tangan Karsa.

Ruangan itu hening sesaat, hanya suara dengungan pendingin udara yang terdengar. Kemudian, alat KIC berbunyi nyaring, memecah keheningan dengan nada alarm yang tajam dan mengancam.

Volume Di Bawah Ambang Kritis. Peringatan: 48.3%

Benny merasakan dingin di perutnya. Angka 48.3% adalah aib birokrasi. Ia harus menjelaskan prosedur yang mustahil.

“Bapak Karsa, volume air tubuh Anda berada di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh Dekret Eksistensi Nomor 78/B,” kata Benny, suaranya kembali ke mode robotik yang ia gunakan untuk menghadapi kekacauan. “Kami tidak dapat memproses KIC Anda. Anda harus melakukan rehidrasi intensif. Apakah Anda sudah minum hari ini?”

Pak Tua Karsa tidak menjawab dengan kata-kata yang utuh. Ia hanya batuk kering, batuk yang terdengar seperti gesekan uap di dalam tabung hampa.

“Minum, Bapak. Kami punya air murni di dispenser. Anda harus mencapai 70%.”

Karsa menggeleng perlahan. Matanya, yang tampak terlalu besar di wajahnya yang cekung, menatap Benny dengan pemahaman yang mendalam tentang hukum alam yang berbeda.

“Air tak mau lagi tinggal di tubuh yang tak punya alasan untuk menetap,” bisik Karsa, suaranya hampir tidak terdengar, seperti tetesan air yang jatuh di atas kapas. “Jika negara tak butuh aku, mengapa air harus repot-repot menopang bentukku?”

Konflik internal Benny bergolak. Ia merasa kasihan, namun prosedur adalah imannya. Keteraturan adalah satu-satunya benteng yang ia miliki melawan kekacauan hidup di Kota Genangan.

“Benny! Ada apa dengan alarm itu?”

Ibu Ida, Kepala Seksi yang fanatik pada data dan kerapihan, muncul dari balik bilik partisi. Ibu Ida adalah representasi negara yang paling rigid: ia tidak melihat manusia, ia hanya melihat persentase yang harus dipenuhi.

“Volume kritis, Bu. 48.3%,” lapor Benny, merasa bersalah seolah ia yang menyebabkan kekeringan itu.

Ibu Ida mendekat, mengamati Pak Tua Karsa dengan tatapan dingin. “Tidak ada toleransi. Data harus bersih. Suruh dia pulang dan kembali setelah mencapai volume yang benar. Kita tidak mencetak dokumen fiktif di sini, Benny.”

Benny mencoba menunda. Ia tahu, bagi orang seperti Karsa, pulang berarti kembali ke jalanan yang lembap, di mana air ada di mana-mana kecuali di dalam dirinya. Benny menyarankan lagi agar Karsa minum, namun Karsa hanya tersenyum tipis, senyum yang membuat wajahnya semakin tampak seperti kertas yang diremas.

***

Benny melihat Pak Tua Karsa, melihat tubuhnya yang rapuh, dan tiba-tiba menyadari kebenaran yang kejam: KIC bukan hanya dokumen kependudukan; itu adalah alat pengusiran yang sah. Jika kau tidak cukup kaya untuk menjaga dirimu tetap terhidrasi, negara berhak menyatakan bahwa kau tidak ada.

Didorong oleh kritik sosial yang tak terucapkan ini—sebuah bisikan hati yang jarang ia dengar—Benny memutuskan untuk melanggar aturan. Ini adalah aksi radikal yang tenang, sebuah pemberontakan yang hanya melibatkan air dan kesadaran.

Ia membuka laci meja kerjanya. Di sana, ia menyimpan botol kecil berisi air murni, air minum pribadinya yang ia bawa dari rumah, air yang ia yakini memiliki integritas lebih tinggi daripada air keran kelurahan.

“Bapak Karsa, tolong ulurkan tangan Anda,” pinta Benny.

Dengan hati-hati, ia menyiramkan sedikit air murni itu ke punggung tangan Pak Tua Karsa yang sudah hampir transparan. Air itu tidak langsung diserap, melainkan membentuk lapisan tipis di atas kulit, seperti embun pagi yang enggan lenyap. Benny tahu ini curang, ini manipulasi kelembaban data negara, tapi ia harus mendaftarkan manusia ini.

“Cepat, Pak. Kita coba lagi.”

Benny segera memindai tangan Karsa yang baru saja dibasahi. Alat KIC berbunyi lagi, kali ini dengan nada yang berbeda, nada persetujuan yang datar.

Volume Terdeteksi: 70.1%. Valid.

Benny merasakan adrenalin. Ia berhasil! Ia telah menipu sistem. Mesin pencetak KIC berderak dan mengeluarkan Kartu Identitas Cair: selembar kartu tipis, transparan, dan bergetar, hampir seperti selembar air yang dibekukan sesaat.

“Ini KIC Anda, Bapak Karsa,” kata Benny, menyerahkannya dengan rasa bangga dan takut yang bercampur aduk.

Kemenangan itu palsu, dan kebenaran selalu lebih cepat daripada birokrasi.

Saat Benny menyerahkan KIC itu, kartu itu mulai menunjukkan pembacaan volume yang menurun drastis, bergerak lebih cepat daripada jarum detik. Volume 70.0%, 69.9%, 69.8%…

Benny menatap kartu itu, dan kemudian ke Pak Tua Karsa. Ia menyadari kengerian yang sebenarnya: ia tidak mendaftarkan seorang warga, melainkan mendokumentasikan proses penguapan. Kartu KIC itu adalah meteran waktu yang mengukur kecepatan hilangnya Karsa dari dunia nyata.

***

Sistem pusat bereaksi lebih cepat daripada Ibu Ida. Di monitor utama di ruangannya, lampu merah berkedip.

“Benny! Ada anomali data di terminal 3! Volume KIC yang baru dicetak menurun 5% dalam dua puluh detik! Kau melakukan apa?!” Suara Ibu Ida menusuk, penuh kecurigaan terhadap integritas data.

Benny panik. Ia tahu Ibu Ida tidak peduli pada Pak Tua Karsa; yang ia khawatirkan adalah “manipulasi kelembaban data negara.”

“Saya… saya hanya memastikan dia terhidrasi, Bu. Mungkin ada masalah kalibrasi pada alatnya,” dalih Benny, meskipun ia tahu air murni yang ia gunakan adalah biang keladinya.

Situasi menjadi runyam di pojok ruangan. Pak Tua Karsa, yang seharusnya menunggu cap resmi, kini mulai benar-benar menghilang. Kakinya tidak lagi memiliki bentuk pasti; ia menjadi kabut tipis yang merayap di atas lantai. Suara napasnya bukan lagi batuk uap, melainkan embun yang menempel di jendela.

Ia tidak lagi berbentuk manusia, hanya sebuah konsentrasi kelembaban yang sedih, perlahan-lahan menyatu dengan udara lembap Kota Genangan.

Ibu Ida menghampiri Benny, matanya menyala-nyala. “Berikan kartu itu padaku! Itu adalah dokumen cacat yang merusak indeks hidrologi nasional!”

Benny memegang KIC itu erat-erat. Kartu itu terasa dingin dan semakin tipis di tangannya. Di luar dirinya, Karsa kini hanya menyisakan siluet samar di kursi.

Momen sirna itu menghantam Benny dengan kekuatan yang tiba-tiba. Ia menyadari bahwa kartu KIC yang ia pegang adalah satu-satunya bukti fisik (cair) bahwa Pak Tua Karsa pernah ada. Jika kartu itu menguap, atau jika Ibu Ida menghancurkannya, maka Pak Tua Karsa secara resmi tidak pernah ada di mata negara. Ia akan menjadi anomali statistik, sebuah kesalahan yang dihapus dari sejarah.

“Saya tidak bisa, Bu,” kata Benny, suaranya pelan, melawan otoritas yang telah ia layani seumur hidupnya. “Ini adalah dokumen terakhirnya.”

“Dokumen terakhir dari apa? Dari ketidakpatuhan volume? Serahkan sekarang, Benny, atau kau akan menghadapi sanksi karena memalsukan eksistensi!”

***

Klimaksnya terjadi di tengah udara yang semakin dingin. Ibu Ida menuntut KIC yang cacat itu untuk dihancurkan, untuk menjaga kesucian data. Benny berdiri di sana, memegang kartu tersebut—selembar air yang berdenyut pelan, volumenya kini di bawah 30%—di tengah udara panas ruang interogasi.

Ia melihat ke tempat Pak Tua Karsa tadi duduk, yang kini hanya menyisakan genangan kecil, seolah-olah kursi itu baru saja menangis. Genangan itu memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip-kedip, sebuah cermin bagi ketiadaan.

Benny menatap Ibu Ida, melihat ketegasan yang tak tertembus di matanya, melihat birokrasi yang lebih memilih kekosongan data daripada keberadaan yang tidak sempurna.

Tiba-tiba, ia melakukan aksi terakhirnya.

Alih-alih menyerahkan KIC itu kepada Ibu Ida yang mengulurkan tangan birokratisnya, Benny bergerak cepat menuju jendela. Jendela itu sudah lama terkunci untuk menjaga kelembaban ruang, tetapi Benny memutar engselnya dengan kekuatan putus asa.

Udara sepoi-sepoi dari Kota Genangan, yang membawa aroma lumpur dan janji hujan, masuk ke ruangan.

KIC di tangan Benny tidak tahan.

Dalam sepersekian detik, kartu itu bergetar hebat, lalu pecah menjadi partikel-partikel halus. KIC itu langsung menguap, menyatu dengan udara kota.

Pak Tua Karsa lenyap sepenuhnya, tanpa jejak, tanpa dokumen. Ia telah memilih untuk menjadi uap, menjadi bagian dari kelembaban abadi kota, daripada menjadi angka yang tidak valid.

Ibu Ida tercengang. “Kau… kau membiarkan bukti itu menguap!”

“Tidak, Bu,” jawab Benny, merasakan kelegaan yang dingin. “Saya membiarkannya kembali ke tempatnya. Ia terlalu ringan untuk dihitung.”

Benny tidak dihukum berat. Ia hanya diberi surat peringatan keras dan dibiarkan bekerja di kantor yang kini terasa lebih lembap, lebih sunyi. Ia tahu, ia telah membiarkan birokrasi kalah dari puisi kesedihan. Ia telah membiarkan sistem kalah dari fakta bahwa beberapa orang, ketika mereka kehilangan segalanya, bahkan kehilangan air mereka sendiri.

Setiap kali hujan turun di Kota Genangan, Benny merasa Pak Tua Karsa kembali, menuntut KIC yang tak pernah bisa dimiliki oleh mereka yang terlalu ringan untuk dihitung. Ia tahu, Karsa kini adalah bagian dari siklus air kota, sebuah hantu eksistensial yang menolak dicatat.

***

Ibu Ida akhirnya mengeluarkan kebijakan baru: semua petugas kelurahan wajib memasang dehumidifier di ruangan mereka untuk menjaga integritas data. Benny mematuhi, memasang mesin yang berdengung itu di sudut yang sama tempat Pak Tua Karsa menghilang.

Kota Genangan tetap basah, dan KIC terus dicetak, kini dengan standar volume yang lebih ketat. Ironisnya, untuk menutupi insiden Karsa, negara mengeluarkan dana besar untuk kampanye rehidrasi massal, meminta warga meminum lebih banyak agar dokumen mereka tetap valid.

Tidak ada yang pernah mempertanyakan mengapa orang-orang miskin adalah yang pertama kali kehilangan air mereka; mereka hanya tahu bahwa menjaga kelembaban adalah tugas patriotik terbaru.

 

Author

  • Rasyid Yudhistira

    Lulusan Teknik Industri Universitas Sebelas Maret ini saat ini berkarya di Kementerian Pekerjaan Umum, setelah sebelumnya sempat berkancah di industri manufaktur dan pertambangan. Suka sastra sejak 2016, dan ia pernah aktif di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Sudah menerbitkan sekumpulan puisi berjudul Adu Tabah (2020), Sirus Media. Pernah mendapat penghargaan Juara 3 Cipta Puisi Olimpus UNS (2019) dan Juara 5 Cipta Puisi Nasional Suakanala (2020) dan penghargaan lainnya. Pencapaian terbesar menurutnya adalah ketika terpilih untuk mengisi antologi mendiang Sapardi Djoko Damono dalam Menenun Rinai Hujan (2018). Instagram @____yudhistira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | betnano | ultrabet | ultrabet | جلب الحبيب | jojobet | jojobet giriş | جلب الحبيب | roketbet | roketbet giriş | romabet | romabet giriş |