Kasus prostitusi kerapkali disederhanakan jadi urusan moralitas. Dan moralitas acapkali dijadikan dalih untuk menghakimi orang lain secara ‘barbar’. Padahal kadar moral itu bisa jadi abu-abu alias relatif, seperti halnya kita ketika menilai paras seseorang.

Urusan selangkangan memang rentan untuk dihajar idealitas-idealitas moral. Kita semua terbelenggu oleh jerat menjatuhkan jastifikasi dan galak mengeluarkan vonis sanksi. Tapi sayangnya, yang terjadi hari ini adalah vonis-vonis itu masih saja bermanuver parsial. Parsialitas itu justru sporadis menghakimi yang satu, tapi lupa sama yang satunya lagi.

Kasus skandal seksual, termasuk prostitusi yang merebak di tengah masyarakat sudah sering sekali. Setiap merebak ke permukaan, respon kita cenderung begitu-begitu saja. Unjuk-unjuk menunjuk pelaku atas nama idealitas dan perayaan moral. Seakan menjadi aksioma, urusan selangkangan ini pun telah memiliki standar-standar idealnya.

Selain jadi dalih untuk bebas merdeka menghujat, moralitas juga bisa dieksploitasi menjadi tameng keburukan-keburukan yang ada dalam diri sendiri. Di balik vonis dan sanksi sosial yang kita agung-agungkan, ada keburukan yang kita panggil sebagai kewajaran-kewajaran ambigu. Moral tidak bisa dilihat saklek dan kelewat fundamental.

Aspek moral bisa saja kita jadikan sebuah rules. Berusaha menjadi haters pelanggar-pelanggar moral sebenarnya boleh-boleh saja. Apalagi dengan masyarakat kita yang menganut budaya ketimurannya. Nilai-nilai yang kita percaya sebagai kebaikan memang perlu terpelihara.

Tapi, kalau ributnya cuma di waktu atau momentum-momentum tertentu saja, ya sama aja. Jadi haters kok nanggung, sih? Perlu diakui bahwa kita cenderung latah kalo sama soal ginian. Ada yang mendadak jadi pendekar moral, ada juga yang mendadak sangean. Hehehe…

Kasus prostitusi online yang menyeret nama selebritis baru-baru ini merupakan contoh realitas: latahnya dalih moral kita. Vonis merebak ketika baru-baru hangatnya. Selepas semuanya dingin kita memilih lupa. Urusan moral selangkangan yang belum selesai sepenuhnya hanya ditutup dengan terpenuhinya kepuasan untuk menghujat.

Untuk pergerakan-pergerakan seperti ini saja kita lemah iman. Sudah bosan berbondong-bondong menghujat, lalu selesai dengan antiklimaks. Tidak ada dialektika lanjutan untuk menyikapi apa yang dianggap tabu, dan melanggar idealitas norma. Ndilalah, kita semua hanya bergerak lincah sampai dapat lelahnya saja.

Siapapun pelaku yang kita anggap melanggar moral, kita cenderung impulsif menyalahkan. Vonis cuma dimain-mainkan sebagai tajuk pemenuhan hasrat merundung. Hujan hujatan itu berguguran dengan serapan yang tidak penuh dan tidak lengkap. Moral kita terpaku pada sesuatu yang tidak pernah komprehensif.

Dalam perkara ini, kita bahkan melupakan detail yang jauh lebih spesifik. Atensi kita cenderung terpaku di sudut-sudut sempit. Skandal prostitusi yang menyangkut kalangan selebritis—dari rentetan kasus serupa—perhatian kita selalu terjebak pada sosok si seleb. Sisi lain seperti pengguna, penyalur, dan latar belakang kasus luput kita simak. Sibuk disuapi jejalan informasi yang dibingkai.

Perkara selangkangan sebenarnya masih menjadi bukti bahwa seksualitas itu sendiri masih mendapatkan represi. Mengalami penekanan atas nilai-nilai moral yang berlaku dalam masyarakat kita. Tidak ada yang salah tentang hal tersebut. Toh, masalah seksualitas itu sendiri perlu dipandang sebagai hal yang privat, suci, sakral, dan kompleks. Bukannya ke arah yang sesederhana hubungan biologis semata.

Namun, kita juga perlu mengerti bahwa tindak represif biasanya mendapatkan perlawanan. Seksualitas, pada kenyataannya akan selalu dicibir, apalagi itu merupakan skandal yang dianggap tidak pantas. Hujat dan cibiran yang datang adalah ciri khas represi; segera ditumpas dan dibelenggu begitu tampil dalam paparan tindak atau wicara.

Michel Foucault telah mengindikasikan hal ini sebagai salah satu wacana yang rapat-rapat terkunci di ruang publik. Namun, represivitas inilah yang justru menjadi bumerang. Ketika seksualitas itu ditekan, maka segala tentangnya bisa mengundang penasaran, sifat naluriah manusia dalam jumlah besar.

Represivitas itu mengakar menjadi bagian masyarakat konsumtif yang semakin lekat dengan budaya konsumerisme. Narasi-narasi yang membangun bingkainya melalui perkara seksual menjelma menjadi informasi yang dikonsumsi secara masif; yang sebenarnya kita nikmati juga.

Bingkai informasi yang dipaparkan media dalam kasus atau tema-tema seksualitas telah sukses menggiring kepenasaran itu menjadi sebuah komoditas. Tema-tema seks-sensualitas akan sangat cepat direspon oleh alam bawah sadar. Begitu pula dengan tema-tema sensitif nyang laen.

Komoditas yang meramu sebuah represivitas tersebut menimbulkan paradoks baru. Histeria massa bergerak berdampingan dengan dua hal, antara represivitas atas moral dan amoralitas itu sendiri. Kita menolak, namun juga menerimanya secara terpendam lewat hasrat konsumtif kita.

Tidak hanya perkara legalitas perselangkangan, hal-hal urgen lain seperti korupsi pun kebencian kita layaknya angin musiman. Kita akan ramai-ramai beragresi dengan bingkisan serapah. Pada suatu hal yang dilarang, ditekan keberadaannya, rasa penasaran itu menimbulkan hasrat sebagai fantasi yang mengontrol ruang perhatian masyarakat kita.

Dalam beberapa novel seperti Pasung Jiwa (Gramedia, 2013) karya Okki Madasari atau Para Pelacurku yang Sendu yang ditulis Gabriel Garcia Marquez, kita akan disindir tentang moralitas-moralitas yang dipakai untuk menyembunyikan hasrat agar terlihat suci dan maha benar di depan orang lain.

Tokoh Sasana dalam novel Okki Madasari menukil kewajaran-kewajaran moral kita yang palsu. Disebut menyimpang jika tidak sejalan dengan moral umum dan idealitas yang dianggap paling ideal. Sementara Marquez, menyempilkan “Moralitas hanya soal waktu,” dituang dalam Pelacurku yang Sendu.

Manakala moral begitu bengis, seyogyanya bisa berubah sewaktu-waktu. Ada contoh tatkala nama yang tersandung kasus prostitusi online tersebut buru-buru minta maaf kepada publik di depan awak media setelah ‘rahasianya’ terbongkar.

Dan, hal itu bisa saja terjadi dan menimpa kita. Aib disimpan erat-erat, atau tinggalkan jauh-jauh apapun yang dirasa mengkhianati moral yang kita ketahui. Itu mungkin opsi ideal, tapi rintangannya jelas sulit untuk benar-benar menuju kata ideal itu sendiri.

Sebagaimana moral, perkara seksualitas pun bisa kita pandang dalam perspektif yang lain. Modernitas misalnya, seksualitas yang awalnya tabu dan memiliki wilayah khusus dalam res privat, bergeser menjadi kewajaran yang mulai diwajar-wajarkan, bahkan mulai dipertontonkan ke ranah publik seiring waktu.

Nah, realitas ini pun perlahan-lahan mulai bias kita nikmati dan konsumsi hari ini.

Misalnya lagi, di saat kita menghujat koruptor, kita masih atau pernah melakukan korupsi dalam skala mini—secara tidak sadar. Saat kita menghina pemeran video asusila yang mencuat, ramai-ramai juga kita penasaran dan pingin lihat. Stok aib kita secara pribadi belum sepenuhnya kosong, wahai kisanak yang budiman.

Perlu daya simak untuk belajar melihat pintu-pintu lain sebelum akhirnya menyalurkan vonis.  Moral yang mempunyai nilai-nilai, lebih layak digunakan sebagai korektor dari realitas sosial yang dinilai menyimpang. Karena, saat bicara moral, di situ ada suatu nilai yang liar.

Bisa saja, sumber-sumber masalah moral itu justru datang dari diri kita, bahkan dari moralitas itu sendiri? Karena kadang, kebenaran itu bisa muncul dari hal-hal yang ngawur sekalipun. Apabila perhatian kita bisa lebih luas menjangkau sudut spesifik lain dari suatu kasus, hujatan kita bisa lebih ‘adil’ lagi.

Bukan hanya sekadar pembenaran, pembenaran, dan pembenaran. Semuanya butuh proporsi kelleuesss…

Profil Penulis

Harry Azhari
Harry Azhari
Seorang Mahasiswa bergolongan darah AB yang garis tangannya berpola ABSTRAK
minimalis kontemporer.