Tahun ini Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) kembali meramaikan kesusastraan kita. Seperti biasa, publik sastra kita menyambutnya dengan antusiasme tinggi; mereka, misalnya, ramai membicarakan buku mana saja kira-kira yang akan dinobatkan sebagai pemenang untuk tiap-tiap kategori yang ada. Antusiasme tinggi publik sastra juga terlihat pasca pengumuman para pemenang KSK 2018 di mana mereka, selain memberi ucapan selamat bagi para pemenang, juga mempromosikan ulang buku-buku itu. Hal serupa juga dilakukan para penerbit dan penjual buku, bahkan dengan greget yang lebih tinggi. Bisa dibilang, KSK telah menjadi sesuatu yang signifikan dari realitas kesusastraan kita dalam hampir dua dekade terakhir.

Namun terlepas dari citra-citra positifnya tersebut, KSK punya satu persoalan: tidak pernah adanya esai pertanggungjawaban yang komprehensif dari dewan juri terkait penilaian, pilihan, dan keputusan mereka. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada orang-orang yang dipilih sebagai dewan juri, tidak adanya esai pertanggungjawaban tersebut menyulitkan KSK untuk berkembang menjadi lebih dari sekadar pemantik semangat dan pemberi warna belaka.

 

Sastra dan Wacana

Salah satu hal yang menarik dari kesusastraan adalah ia menawarkan wacana. Entah itu lewat puisi, cerpen, novel, drama, atau esai, seorang sastrawan yang baik akan berusaha menawarkan sesuatu yang berpotensi mengusik kita, yang bisa kita perbincangkan setelah kita menikmati karya sastra tersebut, bahkan di keseharian kita yang tak terhubung langsung dengan kesusastraan; dan mungkin setelahnya, mengubah kita—cara hidup kita, perspektif kita, sistematika berpikir kita. Wacana, dengan kata lain. Tentunya di dalam sebuah karya sastra yang ditulis oleh seorang sastrawan yang baik kita akan menemukan paling tidak dua wacana sekaligus, yakni wacana tentang realitas dan wacana tentang kesusastraan itu sendiri.

Dengan menawarkan wacana, dan katakanlah wacana ini cukup kuat mengusik kita sehingga kita dengan sendirinya mencoba keluar dari zona nyaman kita, kesusastraan turut andil dalam berkembangnya peradaban. Wacana yang kita sambut tersebut perlahan-lahan membawa kita berubah, membentuk ulang realitas kita—secara tidak langsung. Tentu saja perkembangan ini baru akan kita nilai berarti apabila ia menelurkan hal-hal yang positif bagi kita, tetapi intinya adalah pada prosesnya, pada pergerakan-pergerakan dan perubahan-perubahan yang berlangsung di dalam proses itu. Kesusastraan yang baik, yang di dalamnya ada sastrawan-sastrawan yang senantiasa menawarkan wacana lewat karya-karya sastranya, adalah sesuatu yang esensial bagi pergerakan dan perubahan tersebut. Kesusastraan yang baik mendorong peradaban berubah.

Penghargaan-penghargaan sastra seperti KSK, dalam hal ini, bisa juga berperan aktif. Dan terkait hal inilah esai pertanggungjawaban dari dewan juri tadi itu penting. Dengan dipilihnya buku-buku tertentu sebagai pemenang memang sudah bisa memancing kuriositas dari publik sastra sehingga mereka mulai menerka-nerka hal-hal apa saja yang dipertimbangkan dewan juri, apa visi mereka, juga apa pernyataan mereka—jika ada; tetapi tidak adanya esai pertanggungjawaban dari dewan juri menyulitkan publik sastra untuk bergerak lebih jauh lagi dari itu; mereka terhambat di sana, tertahan di sana. Akan berbeda jika esai pertanggungjawaban itu ada. Setelah dihadapkan pada esai tersebut, yang dilakukan publik sastra untuk meresponsnya bukan lagi semata menerka-nerka, tetapi mengoreksi, atau membantahnya, atau mengelaborasinya, atau memperdalamnya. Dan inilah yang dimaksud dengan proses itu tadi; adanya pergerakan, adanya perubahan, yang menuju ke sesuatu. Tidak adanya esai pertanggungjawaban dari dewan juri menyulitkan proses tersebut berlangsung, yang berarti juga menghambat kesusastraan untuk berkembang.

 

Sastra, “Panggung”, dan Perayaan

Richard Oh, salah satu inisiator dan pendiri KSK, mengatakan bahwa KSK tidak mengukuhkan seorang penulis sebagai yang terhebat di antara yang lainnya; dia pun mengatakan bahwa KSK adalah perayaan bagi penulis, dan perayaannya inilah yang penting, bukan menangnya. Dengan kata lain dia melihat KSK hanya sebagai salah satu “panggung” yang ada di dalam kesusastraan kita, dan seperti halnya “panggung” yang lain KSK memiliki kecenderungannya sendiri, tradisinya sendiri, karakteristiknya sendiri. Richard Oh juga mengatakan bahwa tidak harus seorang sastrawan hebat memenangi KSK atau “panggung” lainnya, sebab yang penting bagi kesusastraan kita adalah produktivitas dan intensitas si sastrawan—dalam menelurkan buku yang berkualitas, misalnya. Dengan penjelasan-penjelasannya ini, Richard Oh menjawab pertanyaan publik sastra tentang tidak adanya esai pertanggungjawaban dari dewan juri KSK[1].

Akan tetapi jawaban tersebut sesungguhnya bukanlah jawaban yang memuaskan. Banyaknya “panggung” seperti KSK memang baik bagi kesusastraan kita, tetapi dampaknya tidak akan begitu signifikan dalam meningkatkan kualitas karya-karya sastra—juga kesusastraan itu sendiri—apabila yang diandalkan adalah diversifikasi yang tak terbuka pada diskusi. Sebagaimana pernah dikatakan Afrizal Malna, penghargaan-penghargaan sastra di kesusastraan kita seperti asyik dengan dirinya sendiri; masing-masing tidak saling berdialog sehingga wacana itu tidak terbangun, dan yang ada hanyalah semacam arisan sastra[2]; semacam perayaan belaka, dengan kata lain. Ini tidak sejalan dengan apa yang saya kemukakan tadi tentang pentingnya kesusastraan menawarkan wacana. Dan menariknya, Richard Oh sendiri mempermasalahkan hal ini; dia, misalnya, menyayangkan tidak berkembangnya tradisi kritik sastra di kesusastraan kita sepeninggal H.B. Jassin[3]. Ini sedikit lucu jika kita mencermatinya baik-baik, sebab Richard Oh tak melihat esai pertanggungjawaban dari dewan juri sebagai sesuatu yang penting ada di dalam sebuah penghargaan sastra, sedangkan esai tersebut, sejatinya, adalah sebentuk kritik sastra.

Tentu penghargaan sastra di kesusastraan kita yang juga jauh dari tradisi kritik sastra bukan hanya KSK. Anugerah Cerpen Pilihan Kompas, misalnya. Dulu, di tahun 90-an, kita masih mendapati sebuah esai kritis yang mengulas cerpen-cerpen pilihan Kompas tersebut di dalam seri buku cerpen pilihan Kompas yang terbit beberpa lama setelah malam penganugerahan itu dilangsungkan. Kali ini, tidak begitu. Di seri termutakhir buku cerpen pilihan Kompas, Kasur Tanah: Cerpen Pilihan Kompas 2017 (2018), yang kita dapati hanya sebuah pengantar; dan tentunya sebagai sebuah pengantar belaka tulisan ini tidak menawarkan pembacaan-pembacaan yang detail dan mendalam atas cerpen-cerpen yang terpilih itu[4]. Hal serupa kita dapati di buku Cerpen Terbaik Tempo: Setan Becak, Ayoveva, hingga Chicago May (2017). Tulisan dari Tim Kurator yang dibubuhkan di awal buku hanya bicara tentang tema dan tak menyentuh kualitas cerpen-cerpen di dalam buku itu; tidak ada pembacaan yang layak dan kritis terhadap cerpen-cerpen tersebut[5]. Pada akhirnya, penghargaan-penghargaan tersebut tak lebih dari perayaan-perayaan belaka; “panggung” lain di dalam kesusastraan kita yang membuatnya ramai, namun di saat yang sama menjauhkan kita dari tradisi kritik sastra. Apakah ini adalah semacam tren baru di kesusastraan kita? Sungguh mengkhawatirkan, jika iya.

Sebagai publik sastra yang baik kita tentu tidak ingin berada di dalam kesusastraan yang menjauhkan diri dari tradisi kritik sastra; sesuatu yang semestinya justru berada di dalam dirinya. Kita ingin kesusastraan kita itu berubah, dengan kata lain. Dalam hal ini respons dari kita selaku publik sastra terhadap kemungkinan terbentuknya tren baru tadi adalah kunci

 

Publik Sastra dan Respons yang Bias

Terkait hal ini, respons publik sastra kita selalu bias. Seseorang atau kelompok tertentu, misalnya, pernah mempermasalahkan diberikannya KSK 2012 untuk kategori prosa kepada novelnya Okky Madasari, Maryam (2012); pernah juga seseorang atau kelompok lain mempermasalahkan diberikannya KSK 2013 untuk kategori prosa kepada novelnya Leila S. Chudori, Pulang (2012). Respons tersebut tentu saja sesuatu yang baik; itu setidaknya menunjukkan bahwa publik sastra kita mampu bersikap kritis terhadap penghargaan-penghargaan sastra yang ada. Dan adalah sesuatu yang wajar belaka apabila kemudian muncul tuntutan bagi para dewan juri untuk memberikan semacam esai pertanggungjawaban. Ini adalah penolakan-penolakan yang bisa berkembang menjadi wacana, dengan kata lain. Sayangnya, penolakan-penolakan tersebut tidak digulirkan lewat ruang yang saintifik dan komprehensif, namun lebih ke sesuatu yang sambil-lalu seperti obrolan atau bahkan gunjingan; dan kalaupun ada yang menuangkannya ke dalam sebuah tulisan agaknya tak banyak yang meresponsnya dengan cara yang sama atau lebih baik dari itu. Dan dewan juri sendiri, juga Richard Oh selaku sosok di balik penghargaan sastra tersebut, tak menyambut penolakan-penolakan tersebut dengan baik; jika bukan mengabaikannya, mereka meresponsnya lewat ruang yang sambil-lalu tadi. Wacana itu tidak terbangun, dengan kata lain. Sempat memang ada komunikasi, ada dialog, tetapi lekas terhenti; terputus sebelum wacana itu terbangun.

Menariknya adalah tidak setiap tahun kita mendapati adanya penolakan semacam itu. Tahun ini, misalnya, relatif tidak ada yang mempermasalahkan pilihan dewan juri KSK 2018. Dan penerimaan yang lapang dari publik sastra ini diikuti juga oleh tidak adanya tuntutan bagi dewan juri untuk memberikan esai pertanggungjawaban. Kondisi sedikit berbeda di tahun lalu, di mana diberikannya KSK untuk kategori puisi kepada Di Ampenan, Apa Lagi yang Kaucari? (2017)­—nya Kiki Sulistyo mendapat penolakan dari seorang sastrawan, dan dia kerap menyinggung tidak adanya esai pertanggungjawaban dari dewan juri terkait hal tersebut di status-status Facebook-nya. Itu sebuah gairah, tentunya; sebuah api yang perlu dijaga untuk senantiasa menyala, tahun demi tahun. Sayangnya di tahun ini api tersebut tidak terlihat. Bisa dibilang, publik sastra kita tahun ini menerima keputusan dewan juri KSK 2018. Dan sebagai konsekuensinya, mereka pun tak ambil pusing soal kembali tidak adanya esai pertanggungjawaban itu.

Sikap publik sastra kita yang bias ini sungguh disayangkan. Selain KSK, ada juga penghargaan sastra lain yang menawarkan hadiah nominal yang relatif besar seperti Anugerah Hari Puisi Indonesia. Penolakan-penolakan terhadap keputusan dewan juri dari penghargaan ini ada; bahkan ada juga tuntutan diadakannya debat publik untuk mempertanggungjawabkan keputusan dewan juri itu. Yang jadi masalah adalah motif atau alasan dari munculnya penolakan dan tuntutan tersebut, seperti bahwa buku-buku yang ada di daftar-panjang atau daftar-pendek KSK justru tidak muncul sebagai nominator di sana; seakan-akan, sikap kritis publik sastra kita terhadap penghargaan-penghargaan sastra yang ada itu, semata karena buku-buku yang mereka jagokan tidak mendapatkan perhatian yang cukup layak dari dewan juri. Tetapi katakanlah ini sesuatu yang alamiah saja; sesuatu yang tak perlu begitu dipermasalahkan. Masalah yang sebenarnya ada pada betapa biasnya publik sastra kita itu. Mereka, dalam menuntut pertanggungjawaban dewan juri, entah itu lewat esai komprehensif atau bahkan debat publik, cenderung pilih kasih. Tuntutan ini seperti baru dilontarkan apabila keputusan dewan juri tidak sejalan dengan penilaian mereka.

Kadang sikap bias publik sastra kita terhadap penghargaan-penghargaan sastra bahkan bisa jauh lebih lucu lagi, seperti bahwa mereka cenderung tutup mata dan tutup mulut dan tutup telinga apabila sosok yang beruntung memperoleh penghargaan sastra itu adalah seseorang di dalam lingkaran komunitas mereka sendiri, di dalam lingkaran pertemanan mereka sendiri,. Mereka akan menerima keputusan dewan juri, dan tak menyikapinya dengan kritis kendati mereka sesungguhnya menilai karya sastra dari seseorang itu tidak cukup berkualitas untuk memperoleh penghargaan sastra tersebut; ada karya sastra lain dari sastrawan lain yang mereka anggap jauh lebih layak diganjar penghargaan tersebut. Sikap bias yang lucu ini agaknya menjangkiti sebagian besar publik sastra kita; barangkali dari dulu, dan entah sampai kapan.

Katakanlah publik sastra kita tetap seperti itu. Maka, sulit dibayangkan kesusastraan kita akan mengalami kemajuan yang signifikan; sulit juga dibayangkan ia akan menawarkan wacana yang kemudian mendorongnya berkembang menjadi lebih baik. Dan tentu, sulit juga membayangkan kesusastraan kita itu akan turut andil dalam berkembangnya peradaban. Setidaknya tidak dalam waktu dekat.

 

Sebagai publik sastra yang baik kita tentu mesti keluar dari situasi tersebut. Kita harus bisa bersikap kritis terhadap penghargaan-penghargaan sastra yang ada, bahkan terhadap kesusastraan itu sendiri, tanpa adanya bias seperti yang tadi itu. Memang tidak akan mudah, sebab itu artinya kita membentuk ulang kesusastraan kita; tetapi jelas itu bukan alasan kita tetap betah berada di dalamnya, apalagi ikut melembagakannya. Kesusastraan yang baik, seperti saya bilang di awal tadi, mendorong peradaban berubah; dan itu artinya ia sendiri harus berani mengambil risiko untuk berubah—berkembang menjadi kesusastraan yang lebih baik. Dan siapa lagi selain kita selaku publik sastra yang bertanggung jawab dalam mengondisikan terjadinya hal tersebut?

Semoga saja, suatu saat nanti, “betapa biasnya publik sastra kita” akan menjadi kata-kata yang tak lagi kontekstual, sebab kesusastraan kita tidak lagi kesusastraan yang seperti itu.(*)

 

—Bogor, 20 Nopember 2018

[1] “Richard Oh: Kusala Sastra, Perayaan Penulis”, wawancara Jurnal Ruang dengan Richard Oh, terbit di Jurnal Ruang pada 28 Oktober 2018. Bisa dibaca di jurnalruang.com/read/1540734730-richard-oh-kusala-sastra-perayaan-penulis.

[2] “Afrizal Malna, Politik Sastra dan Puisi Gelap”, wawancara BBC Indonesia dengan Afrizal Malna, terbit di BBC Indonesia pada 24 September 2016. Bisa dibaca di www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/09/160825_majalah_bincang_afrizalmalna.

[3] “Richard Oh: Kusala Sastra, Perayaan Penulis”, wawancara Jurnal Ruang dengan Richard Oh, terbit di Jurnal Ruang pada 28 Oktober 2018. Bisa dibaca di jurnalruang.com/read/1540734730-richard-oh-kusala-sastra-perayaan-penulis.

[4] “Cerpen Kompas, Zaman ke Zaman”, kata pengantar di buku Kasur Tanah: Cerpen Pilihan Kompas 2017, hal. vii-xiv, ditulis oleh Frans Sartono dan Putu Fajar Arcana. Buku diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada Juni 2018.

[5] “Pengantar: Setan-Setan Imajinasi”, kata pengantar di buku Setan Becak, Ayoveva, hingga Chicago May, hal. v-vi, ditulis oleh Tim Kurator (Kurniawan). Buku diterbitkan oleh Tempo Publishing pada 2017.