

Apa kabar temanku?
Sudah lama sejak terakhir bertemu
Waktu itu, masih ingat pernah menungguimu
Berurusan di jamban, kau katakan padaku
Agar jangan takut
Padahal aku tahu kau lebih takut
Karena jamban urusan iblis dan serikat
Dengar-dengar kau telah jadi orang besar?
Aku tak yakin antara
Lebih memilih angin bengal
Selasar ketakutan
Dan lebih memilih beringas
Antara ketidakpastian
Tentu telah aku yakin namun kepada Tuhan,
Tuhan akan merawat segalanya
Termasuk kau
Daripada mempertanyakan bagaimana
Kau jadi sehebat ini,
Aku yakin pada Tuhan.
Tuhan memberimu jamban
Tuhan memberiku jembatan
Sementara kita tak perlu sibuk
Mengurus perihal
Aku dan kau bertemu
Di ujung sana selepas peradaban.
27 Februari 2025
“Lintang Kemukus
akan jatuh
di Madura,”
itu ia katakan pada saat
sembahyang rakaat ketiga
aku tak menjawab, “dia sinting,”
tapi malam itu benar
Lintang kemukus
melintasi langit
kelam yang bau sate
ketika jamaah sibuk
mencungkili besi
dan berdoa, “semoga dosaku diampuni,”
ketika aku pura-pura
sembahyang jam tiga pagi
aku tak tahu mengapa
tapi ia
mengepal tangan
berdoa
“lintang kemukus …”
itu pengharapan yang ia
buat-buat
“tumbuhkanlah ciu di tanah kapur ini!”
18 November 2025
Sunyi yang menggantung
Di lemari itu
Adalah almanak pagi bising
Berbunyi miring dan
Bernada minor
Yang terjun dari
Kepal kalimat Tuhan
Kupakai sunyi sebagai kain timbul
Bergema dan meraung
Ketika Tuhan akan tidur
Gelap selagi nyembul
Tak jemu petang
Sunyi mengambang
Aku tentu dapat tergelincir
Kalau saja telinga
Tak mendengar
Lalu apabila
Tenggorokanku putus
Hanya sunyi yang nongol
Dari bibirku, berbisik
Tuhan pastikan Engkau mendengar.
13 Desember 2025
Lahir di sela-sela kapur bulan November. Ingin terjun ke sumur tapi tunggu dulu sebab masih kuliah. Tulisan lain dapat ditemukan di Medium Loebna dan Instagram @loebbna.
This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!
Bagus