

Hai, aku Rina. Kakiku lumpuh akibat insiden tabrak lari ketika aku berumur lima tahun. Aku tidak marah, dan tidak menyesali keadaanku, hanya saja aku terkadang merindukan kakiku.
Setiap hari aku pergi ke galeri lukisan di dekat rumah, kebetulan Pak Ardan selaku pemiliknya mengizinkan aku masuk tanpa perlu bayar.
Malam itu, seperti biasa bangku taman yang ramah dan kesepian kembali mempersilakan aku untuk bersandar padanya. Hikmat sekali aku mencoreti lembaran demi lembaran buku sketsaku, entah apa yang sedang aku coba perbuat menggunakan kedua tanganku yang rapuh.
Desir angin terasa hangat meniup helaian poni yang sedikit banyaknya menutupi separuh mataku. Saat itu pula, rintihan terdengar tak jauh dari lokasi tempat aku mematung.
Sejenak lenganku terpaku, kata hatiku ingin sekali memerintah kerongkongan untuk bertanya. Pasti hanya perasaanku, toh aku sudah kesepian sejak lama jadi wajar saja kalau aku sedikit lebih sering berkhayal yang tidak-tidak dari pada khalayak pada umumnya.
Tanganku bergegas menarik kursi roda yang tersender, melemparkan tubuh ringkih ini untuk duduk di atasnya, meski takut aku tetap menjaga keselamatan pasalnya akan lebih merepotkan kalau nanti aku jatuh dan justru melibatkan orang yang berlalu-lalang, itupun kalau ada.
Roda berputar perlahan, suara gesekan melindas semen dan beton taman menemani hening di dalam kepalaku menuju lurus ke gapura yang menjadi gerbang keluar masuk taman.
Hatiku sesaat berdegup lebih tenang sebelum kembali terguncang ketika kudongakan kepalaku, dan kedua bola mata ini melihat pria bersayap ala kelelawar bertengger di atas gapura itu. Manusia itu, tidak.
Makhluk itu, kemudian terbang dan melesat cepat menembus awan-awan tebal yang menghiasi langit malam, dalam sesaat sudah menghilang dari pandanganku. Aku tidak berbohong, kali ini yang berubah bukan lagi isi pikiranku, tetapi seisi kota setelah gapura ini.
Aku tidak lagi melihat trotoar bolong-bolong dan toko roti milik paman Doni di depan gerbang, kini semuanya berubah menjadi tanah yang kelilingnya merupakan pohon dan semak belantara. Jauh di atas bukit yang seharusnya berdiri sebuah monumen, disulap menjadi kastil bercorak putih dan dan hitam ala bangunan eropa.
“Ini bohong.” Semuanya sama persis, ini lukisan yang aku buat. Rasanya kepalaku ingin meledak, bahan bakarnya terbuat dari rasa takut, cemas, dan kekhawatiran berlebihan, sisanya hipotesis tanpa ujung.
Belum selesai, roda-roda ini bergerak dengan sendirinya mendorongku keluar dari gerbang yang aku harapkan bisa menjadi tempat terakhir untuk berlindung.
Sesosok peri muncul tepat setelah kursi rodanya terhenti satu inci di luar gerbang, dia memperkenalkan dirinya sebagai Anila. “Kenapa aku ada di sini?”
Jadi dengan sihir yang aku kira tidak pernah ada, Anila menghembuskan angin untuk mendorong maju tubuh beratku beserta dengan kursi rodanya. Singkat cerita kami sampai di kastil yang aku lihat dari dalam taman tadi.
“Ada yang sudah menunggumu di dalam sana, aku tidak bisa mengantarmu lebih jauh dari ini.”
Kemudian angin berhembus dan meniup pergi Anila tanpa menyisakan setitik aroma pun. Suara bising gerbang yang terseret seketika mengalihkan seluruh perhatianku, terlihat si pria bersayap kelelawar yang tadi aku lihat sedang mendorong gerbang setinggi lima belas kaki mungkin?
Makhluk itu tidak terlihat menyeramkan untukku, hanya saja pakaiannya agak mengganggu pemandangan.
Perlahan kakinya mengguncangkan bumi di sekitarku; tujuannya tentu bergerak mendekat, kedua tangannya yang panjang bukan main menyentuh dinginnya dua batang besi pendorong, roda mulai bergerak, meskipun tubuhnya terlihat memiliki kekuatan setara seribu gajah tetapi dia terlihat sangat lembut dan perhatian.
Tidak ada balas sapa atau sekadar pertanyaan siapa dirimu. Dia mendorongku masuk ke dalam kastil itu, terlihat banyak sekali lukisan terpampang di dinding yang saling bertatapan.
“Semuanya milikku.” Kenapa? Kenapa semuanya jadi begitu melankolis? Aku ingat. Itu semua milikku, lukisan pohon apel itu, coretan yang menghasilkan danau yang aku tujukan kepada mendiang ibu, panorama kota di sore hari ketika aku lelah dengan beratnya hidup.
Itu semua milikku. Belum habis waktuku mencibir si pencuri karya seni, bunyi gema sebuah langkah yang bergerak di langit-langit membuat bibir ini terkunci rapat, sebutkan hal paling mengerikan di dunia, Apakah itu Kuyang dari Kalimantan? Apakah Yeti dari Pegunungan Himalaya? Atau Vampir. Tidak, semuanya salah. Dia, Terlihat tinggi, lengkap dengan jubah yang bercorak gelapnya malam tanpa bintang dan bulan.
Lebih buruk lagi, wajahnya terbentuk seperti lilin—ada beberapa organ yang ditempatkan di lokasi yang salah dan itu membuat sesuatu di dalam perutku berputar tidak nyaman.
Sosok agung yang dituhankan oleh makhluk besar di belakangku, mengapa begitu? Aku dapat melihatnya dari sorot cahaya yang begitu berkilau, sangat … terpukau.
“Apa yang yang kamu inginkan?” Makhluk yang mencoba menyerupai manusia itu, tuhan dari ogre di belakangku kemudian menunjuk ke tubuhku, dengan jari yang dihiasi dengan kuku yang mengkilap segelap air anggur. Dengan sihir serbagunanya secara ajaib menarik kursi roda yang aku tunggangi, Aku yang mau tidak mau tentu harus bergerak maju mengikuti rasa penasaran dari roda yang mengernyit dicium lantai.
Matanya menatap tajam menyiratkan rasa ketertarikan, “katakan, apa yang ada di balik lukisan ini.”
Sejenak aku berpikir, apa dia benar-benar baru saja bertanya padaku? “Apa maksudmu adalah maknanya?” Makhluk itu untuk sejenak terlihat merenung seperti berdiskusi dengan dirinya sendiri sebelum bibirnya yang ditaruh di jidat itu mulai merekah kembali.
“Iya, beritahu aku kenapa kamu menciptakannya.” Karena dia bertanya tentu aku harus menjawabnya. Aku menjelaskan padanya mulai dari goresan ringan yang melahirkan bulan purnama dan kursi taman yang butuh teman, aku menyebutnya sebagai perwujudan rasa menunggu yang tidak akan pernah sampai.
Saat itu aku tak berpikir bahwa akan ada sesuatu yang wah untukku, karena jujur saja aku sendiri melukisnya hanya karena saat itu aku sedang gundah gulana menunggu orang tuaku pulang dari kumpul keluarga selama tiga hari dua malam. Namun di sini menariknya, seisi dunia ini berubah, menjadi sesuatu yang tak bisa aku ungkapkan. Langitnya menjadi merah seperti ditumpahi sekaleng sirup dan tanahnya bergerak menggelar pemandangan baru.
“Bagaimana menurutmu, apakah duniamu seperti yang aku lukis sekarang?” Apa dia sengaja bertanya dengan nada yang datar seolah tadi itu hanya seperti membuat sebuah mie goreng?
“Ini bukan dunia yang aku inginkan dan bukan juga dunia yang sebenarnya.”
Dahinya mengerut kecewa, “Lalu apa menurutmu ini sudah sesuai dengan perasaanmu?”
“Ini adalah perasaanmu. Jadi jangan tanya aku.”
Dunia kembali ke malam tempat kastil putih megah bersemayam. Makhluk itu kemudian berjalan mendekat, aku mulai ragu kalau dia tidak akan membuatku berteriak ingin pulang. Dia sedikit merunduk dan berucap beberapa patah kata, kata yang membuat aku tahu kalau dia punya nama. Nwanda.
Nwanda bilang, dia tidak mau diperlakukan seperti binatang karena dia adalah manusia. Dia bercerita kalau dia hidup diantara ketiadaan dan dunia nyata, dimensi keempat.
Tempat dimana yang terlihat bukan lagi apa yang ada di depan mataku tapi jauh menembus langit dan isi terdalam dari bumi.
Ceritanya dimulai saat Nwanda kecil bermimpi untuk menjadikan kehidupannya sebagai sesuatu yang bisa diingat semua orang, dia ingin menjadi artis, sastrawan, pelukis, penyanyi, penari.
Kemudian di pertengahan cerita dia menemukan fakta bahwa dirinya adalah entitas yang tidak lebih dari debu di dalam jutaan kebohongan di luar angkasa.
Fakta itu membuatnya terpukul, dia akan menghilang dan digantikan oleh orang lain yang lebih bersinar dan berbakat darinya. Sehingga pikirannya mulai terganggu dan bergeser menjadi obsesi untuk menjadi abadi.
Dimulailah perjalanan menuju keabadian melalui tulisan, lukisan, pahatan, dan musik yang dia ciptakan. Nwanda tak mau kalah dengan tubuhnya yang menua, tak mau kalah dengan matanya yang merabun, juga tangannya yang bergetar.
Sehingga ketika seluruh ingatan indah itu mulai menumpuk dan muncul menjadi gelombang banjir di penghujung acara hidupnya, tubuh Nwanda tertarik oleh batasan antara kehidupan dan kematian.
Di akhir cerita, dia sampai di sini—tempat semua mahakarya dunia berkumpul dan membentuk dunia baru yang solid dan nyata hasil keringat dan semangat akal manusia. Nwanda adalah satu dari sekian banyaknya yang berakhir di sini, dan entah bagaimana Nwanda bisa tertarik ke dalam karya yang aku ciptakan.
Kami berjalan cukup jauh, atau mungkin hanya dia. Dia mengajakku berkeliling di dalam dunia yang aku rasa masih antara setengah nyata dan setengah mimpi, ada naga yang terbang dengan sayap sebuah buku kamus bahasa Jerman, gunung menjulang yang di kakinya banyak sekali pohon berdaun ember kayu dan gayung, bahkan sebuah lautan yang airnya terbuat dari jutaan rajutan kain wol berwarna biru dan putih.
Sambil berjalan dia bercerita lagi kalau semua yang aku lihat adalah karya seninya di usia belia, dia terus berbicara sambil aku menelan ludah penuh iri dan kagum.
Berjalan sedikit lagi, sampailah kami di sebuah lembah yang katanya adalah masa sukar ketika Nwanda jatuh miskin dan tidak punya uang untuk memuntahkan idenya.
Jelas aku hanya melihat jutaan bintang yang terbuat dari kemasan bekas roti dan keripik yang berserakan di langit, ada sungai dengan air dari kerikil yang disusun menyerupai aliran air, dan hidup disekitarnya flora dan fauna hasil goresan batu yang membentur aspal.
Nwanda bercerita kalau menjadi seniman jalanan itu tidak ada salahnya, justru dia memutar balikkan nasibnya di fase terebut. Barangkali aku terlelap dalam perjalanan, karena ketika aku membuka mata semuanya menjadi abstrak dan kompleks.
Nwanda tak membangunkan aku dalam cerita hidupnya yang panjang, justru terus mendongengkan aku dengan kisahnya seolah itu peristiwa sumpah palapa. Aku melihat banyak sekali terompet yang berserakan terlindas roda yang tergulir maju mengikuti Nwanda, dia lelah dan muak dengan semua ide di dalam kepalanya. Jadi dia memutuskan untuk membuat satu karya terakhir yang akan menjadikannya seorang maestro, dunia ini.
“Begitulah ceritaku, seniman muda.” Nwanda menatap jauh, air mata sudah berlinang di bawah kantung matanya.
Aku tidak pernah menyangka sesuatu seperti ini akan benar-benar ada, di mana dunia sudah bertabrakan dengan akal serta logika.
Aku mengayuh kursi rodaku mke ujung tebing tempat kami berdua berbagi pemandangan lautan dan matahari yang mulai tenggelam.
Jauh di bawah tebing aku melihat sesuatu berpendar, warnanya biru keunguan seperti sebuah delima.
Nwanda menepuk pundakku, perlahan sebuah pohon muncul dari dasar air asin, dahannya seperti pohon sawo dan daunnya seperti beringin.
“Waktu kita sudah habis. Senang bercengkrama denganmu. Mungkin suatu waktu aku akan mengundangmu lagi untuk minum, teh. Semoga lukisan-lukisan semakin baik saat itu. Sekarang pulanglah.”
Aku terbangun dengan leherku terasa terkunci akibat salah bantal. Semua itu rupanya hanya mimpiku. Aku segera beranjak dari kasur dan membawa tubuhku yang lemah lesu ini ke kamar mandi. Seutas benang tipis berwarna hijau terselip di poniku.
Aku yang bosan hari itu memutuskan untuk pergi ke galeri Pak Ardan, niatnya hanya mencari inspirasi tapi ada yang memikat perhatianku: Sebuah lukisan panorama sebesar tembok istana presiden di bogor.
Langit yang ditaburi bintang dari kumpulan sampah, lautnya dirajut benang, gunung yang di kaki gunungnya ada pohon dengan daun dari ember kayu, seekor naga yang mengarungi angkasa dengan sayap buku kamus bahasa Jerman dan lembah yang sungainya dialiri air batu kerikil dan fauna goresan batu.
Satu lagi, seorang anak dengan kursi roda duduk bersampingan dengan sosok jubah bercorak hitam langit malam.
This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.
Ceritanya bagus, kerenn udonn🙌