

Beberapa jam setelah ayahnya meninggal, Ray (Dakota Fanning), gadis manis berusia 8 tahun, memilih untuk berlatih gerakan dasar balet di kamarnya, daripada murung di pojokan kamar seperti kebanyakan anak kecil—atau bahkan manusia—pada umumnya.
Ray memang menyenangi keteraturan,
“Fundamentals are the building blocks of fun,” katanya.
Lebih suka menyetel instrumen kor Mozart ketimbang musik kekinian, bijak—maksudku, terlalu bijak untuk seusianya, dan sesekali mengeluarkan pernyataan sinis dari mulut kecilnya.
Satu hal yang Ray tidak bisa, yaitu menjadi anak kecil, dan ternyata itu adalah sesuatu yang kusesali darinya. Sikap dingin Ray atas kematian ayahnya mengingatkanku pada tokoh Meursault di pembuka novel Le’ Etranger milik Albert Camus,
“Mother died today. Or maybe yesterday, I don’t know.” terasa begitu nonchalant.
Seandainya aku bisa bertanya langsung ke gadis itu,
“Siapa yang menyakitimu, anak kecil?“
Meskipun aku cukup yakin dia bakal membalas ketus “Jangan panggil aku anak kecil, Paman!” sambil mengacungkan jari tengahnya, seperti yang sering ia lakukan ke anak rockstar yang tiba-tiba jatuh miskin dalam semalam, Molly Gunn (Brittany Murphy).
Begitulah kehidupan. Ray dipertemukan dengan Molly, perempuan 22 tahun, yang tampak begitu kekanakan dan ceroboh. Mudahnya, yang disentuh dan dikerjakan bakal jadi petaka, pesis seperti Stanley, si sepupu Spongebob itu.
Mereka pertama kali berjumpa di pesta ulang tahun Molly, tentu jauh sebelum akuntan pribadinya, Bob, membawa kabur seluruh uang peninggalan mendiang orang tua Molly. Perayaan di pub itu mempertemukan dua kepribadian yang bertolak belakang. Tidak ada kesan manis, hanya gerutuan kecil satu sama lain.
Molly ini tipikal anak orang kaya yang tidak punya keahlian, bahkan memanggang kue di oven saja berakhir hangus. Kelas sosialnya ditandai dengan kamar apartemen yang berada di lantai atas gedung.
She’s been living in her white-bread world, kalo kata Billy Joel.
Ia hidup berdua, dengan Mu, babi pink mungil nan lucu. Kamar apartemennya berantakan sekali, mirip seperti kandang babi.
Hal wajar ketika Molly jatuh miskin, dan ia kesulitan mencari kerja. Satu-satunya pekerjaan yang akhirnya ia dapati, menjadi pengasuh Ray, menjadi seorang nanny bagi gadis kecil pengidap hypochondria, perfeksionis, dan bersikap lebih dewasa dibanding dirinya itu. Maka, perselisihan di antara mereka hanya sebatas pemantik api dan tumpah bensin.
Suatu hari, ketika Molly tiba-tiba menari di taman, Ray berkata ke pengasuh barunya itu,
“Act like your age, not your shoe size.”
Perumpamaan menarik untuk menyindir orang dewasa yang berlagak kekanakan—tentu menyesuaikan konteks dengan satuan ukuran sepatu Amerika.
Kepribadian yang ditampakkan Molly di film ini memang begitu menjengkelkan, atau terlalu lebay, barangkali. Aku sendiri cukup gregetan selagi melihat tingkahnya. Lantas, wajar saja apabila Ray berbicara seperti demikian. Ternyata, orang dewasa yang bersikap kekanakan itu menjengkelkan, begitu juga di dunia nyata.
Sebaliknya, yang ditampakkan Ray kurasa sama menjengkelkan. Ucapan sinis ke pengasuh barunya itu juga layak Ray lakukan, maksudku, bersenang-senanglah, Ray. Jadilah anak kecil! Gambarlah ular boa yang memakan gajah.
Meski tampak seperti langit dan bumi, permasalahan kedua tokoh yang membentuk kepribadian mereka ini sama, yaitu tidak memiliki perhatian khusus dari kedua orang tua mereka. Kedua orang tua Molly meninggal dalam satu kecelakaan pesawat sewaktu Molly masih kecil. Sementara itu, Ayah Ray koma dan hanya berbaring di ranjang karena mengidap kanker, dan ibunya, Roma (Heather Locklear), terlalu sibuk dengan pekerjaan di industri musik.
Setidaknya persamaan tersebut yang akhirnya menyatukan mereka, meskipun dari cara menyikapinya berbeda. Cara Molly menghadapi kehilangan cenderung mengarah pada regresi, di mana sikap seseorang yang kembali ke masa lalu atau bertingkah seperti anak kecil, sementara Ray mengarah pada sublimasi, di mana ia lebih mengekspresikan atau menyalurkan perasaan, bakat, atau kemampuan dengan sikap positif.
Film ini hanya mendapat penilaian 14% versi Rotten Tomatoes. Memang film ini tidak menawarkan trope yang benar-benar baru, terkadang akting mendiang Brittany Murphy juga tampak tidak natural, atau tone film yang seakan ingin membawa keseluruhan bentuk, family movie, trauma drama, quirky comedy, atau romance, semua dilibas dalam porsi yang begitu irit di film berdurasi 93 menit ini.
Terlepas dari itu, aku sendiri cukup menikmati film dari rekomendasi seseorang yang nama panggilannya mirip dengan tokoh anak kecil tersebut, Rae. Memorable Fashion Y2K, soundtrack cukup catchy, dan sisi sinematografi yang—setidaknya—tidak berlebihan dan menyenangkan untuk ditonton.
Di buku Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupéry, seakan coba memberikan pesan alegori tentang kehidupan dewasa yang begitu kaku dan membosankan. Selepas menonton film yang disutradarai Boaz Yakin ini, ternyata hidup memang sudah ada masanya, sudah ada takarannya.
Kita tidak selalu bisa menjadi anak-anak ketika beranjak dewasa, dan anak-anak belum pantas bersikap dewasa yang pada akhirnya mengukung salah satu fase hidup paling menyenangkan itu, paling colorful. Jadi, bersikaplah selayaknya usiamu, bukan ukuran sepatumu!
Lahir di Jakarta, 2001. Menyelesaikan studi S1 jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UPI Bandung. Kini menulis dan bermusik. Sejumlah tulisannya telah disiarkan di berbagai media lokal dan nasional. Telah menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Playlist Sebelum Mati (Sonar Pustaka, 2026). Instagram @muh_rifaan.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!