Apalah artinya kota, kecuali (soal) warga. —William Shakespeare

Sebenarnya ada beberapa pilihan judul untuk post ini: “Purwakarta Creative Hub: Purwakarta Darurat Kreatif Digital”,  “Surat Terbuka Untuk Bupati Selanjutnya: Meluaskan Pemaknaan Industri Kreatif”, dan yang terakhir, “Melawan Kapitalisme dengan Koperasi”. Semua judul ini kukira hebat-hebat. Entah bagaimana dengan isinya. Tapi yang jelas semua judul itu berangkat dari suatu kabar baik: munculnya para altruis dalam kolektif gerakan sosial, taman baca masyarakat, dan komunitas kreatif di Purwakarta.

Namun, kabar baik ini nyatanya juga mengundang kekhawatiran. Terutama soal orientasi komunitas-komunitas—yang sepintas belum tampak jelas—sehingga mengundang kekhawatiran lanjutan, yakni daya tahan. Kawanku Lord Adhis bilang: yang penting dalam komunitas itu daya tahan. Tanpa itu… (terus entah dia bilang apa, kayaknya sih gak penting)

Sebutlah Pustakaki misalnya, komunitas kecil ini punya niat untuk menghidupkan aktivitas membaca dan menulis di Purwakarta. Kami terdorong sebuah rilisan angka minat baca masyarakat Indonesia yang menyakitkan—yang belakangan dasar nalar narasi ini semakin membosankan. Atas visi tersebut kami menggelar perpustakaan jalanan bersama komunitas-komunitas lain seperti Sanggar Sastra Purwakarta, KOPEL, Sketsa Sore, dan lainnya di seputaran Situ Buleud. Juga menggelar diskusi penulisan dan bedah buku seadanya. Belakangan kami mendirikan penerbitan kecil-kecilan dan media online yang tampilan mobilenya ancur-ancuran ini.

Sampai saat ini, kami gembira mengenal banyak sekali para altruis dalam kolektif gerakan sosial dan komunitas-komunitas yang ada di dalam kota. Di titik inilah gagasan soal “Anak Muda sebagai Generasi Penerus” jauh lebih masuk akal ketimbang melihat gambaran lain, seperti semua anak muda berbondong-bondong menempuh pendidikan setinggi-tingginya hanya untuk melanggengkan banalitas dunia kerja dan sistem pendidikan yang khas dunia ketiga.

Gambaran-gambaran inilah yang secara pribadi membuatku harap-harap cemas. Keberadaan komunitas-komunitas ini punya kemungkinan besar untuk membuka keran pilihan di dalam dunia kerja dan pendidikan, tapi juga cemas jika harapan seperti itu akan selamanya jadi harapan. Dan kata “selamanya”, kawan-kawan, tidak punya arti lain kecuali se-la-ma-nya.

Sekarang mari kita menguji diri dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ahmad Septian Nugroho dalam esainya:

“Benarkah gerakan-gerakan (kerja-kerja dalam komunitas) kita masih berjalan di atas rel (visi)?”

 

Dari evaluasi kerja komunitas ke urgensi menciptakan pasar

Anggaplah pertanyaan tadi sudah terjawab, tapi pertanyaan masih ada. Apakah komunitas kita benar-benar berdampak secara signifikan terhadap kehidupan personal dan komunal di sekitar kita?

Dalam kasus Pustakaki, masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan sejenis yang jika dinalar bisa berarti bahwa visi Pustakaki (dan barangkali komunitas lainnya) sungguh utopis dan lebih layak jadi khayalan daripada cita-cita. Visi yang utopis seperti itu—lantaran proses kerja yang sulit dievaluasi—bisa menjadikan komunitas kelelahan di tengah prosesnya. Barangkali karena pekerjaan-pekerjaan di dalamnya tidak lagi membahagiakan apalagi menyejahterakan.

Yak, betul, menyejahterkan. Memang betul komunitas tidak boleh menjadi ladang penghasilan, sebab pada proses dan budayanya, keberadaan komunitas ada sebagai ruang belajar saja!

Tapi marilah kita berpikir lanjut tentang apa yang terjadi di sekitar kita. Contohnya di Purwakarta, ada banyak sekali anak muda dengan ide-ide keren tapi menjadi tidak keren lagi ketika pembicaraan itu mau tak mau musti menyinggung satu hal yang substansial: pendanaan.

Anak-anak musik ingin lebih banyak gigs untuk berjejaring dan mempromosikan musisi-musisi lokal. Anak-anak film pendek perlu memproduksi karya. Anak-anak teater perlu panggung dan ruang latihan. Anak-anak mural perlu cat dan tembok yang bisa mereka gambari dengan perasaan aman. Anak-anak di gerakan sosial perlu menggelar lebih banyak diskusi.

Tapi sayang banyak yang terhambat karena urusan pendanaan ini. Padahal seperti yang kita tahu, semakin banyak event dan project kolaboratif, akan semakin baik jaringan kreatif terbentuk dan semkain baik pula distribusi informasi dan kebahagiaan kepada masyarakat luas.

Memang komunitas membantu banyak individu mengasah keterampilannya. Tapi di saat yang sama hal tersebut seringkali gagal membantu komunitasnya bernapas lebih lama. Selain karena dunia kerja hanya menyerap sedikit tenaga kreatif. Tenyata pemerintah daerah juga kerap gagap memaknai Industri Kreatif, sehingga perhatian mereka terhadap industri kreatif hanya berputar di urusan pariwisata dan kuliner saja.

Di sekitar kita ada banyak anak desain grafis, ilustrator, dan video maker yang merasa sulit menjual keterampilannya. Di sisi lain banyak institusi dan perorangan yang memanfaatkan mereka tanpa penghargaan yang layak. Hal tersebut dalam analisa asal-asalan saya karena para kreator gagap memaknai pangsa pasarnya. Atau dalam asumsi lain yang tida jauh beda, pasar (seperti yang kita harapkan) belum terbentuk. Maka tak heran jika yang terjadi adalah klien yang meremehkan kerja para kreator, dan para kreator yang bingung menetapkan harga.

Efek Rumah Kaca, band yang kita sayangi pernah bilang: pasar bisa diciptakan.

 

Koperasi sebagai Eskalasi (Kelanjutan) Perlawanan

Tidak seperti kota-kota besar project-project kreatif mendapat dukungan penuh dari pemerintah setempat dan pelaku industri. Sebutlah Djarum Coklat bikin ACDC, Sampoerna bikin Soundrenaalin. Sementara dari pemerintah setempat seperti program Seni Bandung yang diadakan oleh pemerintah kota bandung. Belum lagi jika kita mau menghitung dukungan dari kampus-kampus di sana.

Menunggu nasib Purwakarta sama seperti Bandung dan kota-kota besar lainnya sungguh makan waktu. Sebelum situasi tersebut terjadi, mungkin keburu potensi-potensi kreatif kita keburu nyaman jadi pekerja non-kreatif, atau malah sudah di luar Purwakarta.

Ada cara lain untuk menciptakan pasar tanpa bergantung pada dukungan brand-brand besar dan pemerintah daerah, yaitu berkoperasi. Memang tidak mudah menerima kata koperasi ini, mengingat kesan yang sudah dibangunnya bertahun-tahun. Tapi semua pandangan bisa diubah, bukan?

Untuk melihat gambaran umum bagaimana situasi koperasi hari ini dan bagaimana mengubah sedikit cara pandang kita terhadapnya, ada baiknya jika kita menyimak beberapa hal yang diungkapkan Dodi Faedlulloh di Indoprogress:

“Dalam situasi hari ini, membayangkan koperasi ideal masih jauh panggang dari api. Belum ada cerita menarik yang tersaji dalam pengalaman di Indonesia, yang ada hanya koperasi-koperasi yang berjalan tanpa ruh, koperasi proyek negara dan koperasi papan nama. Namun, itulah justru letak perjuangannya, kita perlu mengandaikan koperasi terlepas dari cerita-cerita kelam, kita perlu mengambil posisi koperasi di luar situasi yang dianggap mungkin dan normative, yakni koperasi sebagai sistem atau koperasi sebagi corak produksi. Mengapa tidak?”

Gagasan utama Dodi Faedlulloh dalam kutipan tersebut adalah membahas sistem koperasi sebagai imajinasi politik dan ekonomi. Ia mengambil contoh Argentina pada 2001, ketika sedang terjadi krisis politik. Para pemilik pabrik kabur sehingga banyak orang kehilangan pekerjaan. Lalu para pekerja yang terbangun kesadarannya ‘mengambil-alih’ pabrik-pabrik yang sebelumnya dikelola dengan sistem kapitalisme yang monopolistik lalu diganti dengan sistem koperasi pekerja.

Banyak hal yang berubah setelah itu. Manajemen dalam perusahaan didesain setara. Ada penggiliran dalam penempatan posisi penting, para pekerja mengontrol seluruh jalannya produksi tanpa campur tangan para kapitalis pemilik lama, politisi dan partai politik, bahkan negara. Imbasnya upah pun meningkat dan barang yang diproduksi lebih murah.

Tentu saja itu gagasan yang hebat dan besar. Tapi ia juga mengingatkan bahwa Indonesia berbeda dengan Argentina. Sangat tidak mungkin mengcopy-paste begitu saja.

Meski begitu kita bisa ambil spiritnya sedikit. Koperasi sebagai sistem mungkin bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang sudah disebut tadi. Ia bisa menjadi penyedia ‘modal’ yang mudah, ruang yang mempertemukan banyak potensi kreatif dan profesional, dan pada akhirnya menciptakan ‘pasar’ yang kita inginkan.

Mungkin bentuknya bisa event-event yang secara maraton kita adakan, proyek-proyek kolaboratif yang menyenangkan dan berfaedah, sampai membuat tim pemasaran online  yang solid dan terpadu.

Koperasi seperti ini mungkin lebih dekat pada gambaran dasarnya pada Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4:

…mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota dan masyarakat, berupaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia, memperkokoh perekonomian rakyat, mengembangkan perekonomian nasional, serta mengembangkan kreativitas dan jiwa berorganisasi bagi pelajar bangsa.

Sekarang mari kita sinkronkan koperasi sebagai sistem atau corak produksi dan pentingnya menciptakan pasar. Lalu berhenti bermuram durja melihat daya apresiasi masyarakat yang rendah dan sempit terhadap potensi lokalnya, dan mulai memikirkan satu hal sederhana: pasar bisa diciptakan, dan berkoperasi, semoga saja adalah jalan alternatifnya.

Semua persoalan ini, kawan-kawan, bukanlah persoalan memperkaya diri. Hanya ikhtiyar agar komunitas-komunitas tempat kita belajar itu bisa bernapas lebih panjang.

Bagaimana mungkin kita bisa berlarut-larut dalam diksusi, berputar-putar dalam diskursus melawan kapitalisme,  dan memupuk perlawanan sebegitu rupa. Namun di saat yang sama hampir seluruh aspek kehidupan kita lekat dengan kekuatan modal atau kapitalisme. Sabun yang kita pakai, kopi yang kita minum, kampus tempat kita kuliah, pabrik tempat kita bekerja, sampai rumah sakit tempat kita berobat. Bagaimana semua ini bisa disebut tidak berelasi dengan kekuatan modal global?

Semakin kemari kota-kota tempat kita tinggal semakin lihai membangun kompleks-kompleks industri dan perumahan. Belum lagi isu pembangunan nasional megaproyek kereta cepat Bandung-Jakarta yang memakan banyak lahan di sekitar Babakan Cikao itu.

Akan ada banyak perubahan. Lahan-lahan beralih fungsi menjadi pabrik, perum, dan jalan; ledakan jumlah penduduk karena urbanisasi dan bonus demografi. Belum lagi jika mau sok-sokan ikut was-was karena isu perang dagang melawan Amerika dan isu proxy war.

Mustahil melawan kencangnya jigong pembangunan, gilanya daya amuk politik dan perekonomian global, tanpa menghimpun people power yang mandiri secara ekonomi dan memiliki kesadaran yang sama terhadap isu-isu sosial dan lingkungan.

Pada akhirnya sekecil-kecil ikhtiyar adalah cara kita menyalakan harapan dan perlawanan. Apapun hasilnya, percayalah, seperti Pram bilang: kita sudah melawan, nak Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Btw, selamat Hari Koperasi Nasional, ya…

Bacaan:

https://nyimpang.com/sebuah-otokritik-pergerakan-hari-ini/
https://geotimes.co.id/opini/komunitas-sastra-dan-dunia-baru/
https://indoprogress.com/2014/01/membangun-koperasi-progresif/
https://indoprogress.com/2013/02/koperasi-pekerja-dan-semangat-anti-alienasi/

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.